…Terkadang gw susah untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan. Ketika gw berkhayal atas sesuatu yang nyata, pada akhirnya gw sadar kalo itu cuma khayalan. Sebaliknya, ketika gw sadar sesuatu itu adalah kenyataan, ternyata gw memang sedang berkhayal. Jadi, entah dimana yang nyata dan dimana khayalan.
Damn! Gw mulai lagi deh, sebenarnya nga mao serius kok, cuma suka lupa diri kebawa sama huruf dan kata-kata yang panjang ini. Kelamaan nulis kok jadi “horny” yah?? (ups) apa emang gw-nya aja yang kelainan yah?? Jadi pengen nonton “bokep” (…hihihihi) tapi nga punya stok nih, ada yang mao minjemin nga? Ditunggu lho. Akhirnya gw melewati hari sabtu ini dengan nonton film dewasa (bukan bokep) di kamar sendirian ditemani kodok kecil.
(beberapa hari kemudian, di hari sabtu yang berbeda)
Tadinya gw mau kasih judul “Kisah Sepi di Hari Minggu” maksudnya supaya nyambung dari sabtu ke minggu.Alhasil pake judul sebelumnya, hanya ditambah embel-embel “vol.2” dan gw nga tahu kenapa. Oh iya gw nga mao lagi cerita tentang resep cari pasangan lagi, seperti di judul sebelumnya. Jadi sebagai pengganti gw akan kasih resep-resep makanan yang ciamik nan punya dah pokoknya (busyet dah bahasanye…) wakakaka mulai deh gilanya kumat lagi. Padahal gw nga bisa masak, bikin telor aja berantakan (telor mata sapi berubah jadi matakaki, seriously).
(The Speed of Pain by Marilyn Manson)
Jujur cerita sebelumnya tentang ”tips cari perempuan-perempuan bahenol” (hey bukan itu…anyway) merupakan imajinasi lama gw, dan pada waktu itu dibumbui pikiran-pikiran nakal khas anak kecil. Imajinasi yang sangat bodoh kalo dipikirkan sekarang (hey do you think i’m old enough?…now) apalagi gw sebar-luaskan ceritanya di “blog” gw sendiri.Bagus kalo bisa mengispirasi seseorang diluar sana yang “jomblo” untuk segera punya pasangan. Nah klo kebalikannya, ceritanya sama sekali nga meng-inspirasi siapapun dan malah bikin boring yang baca gimana?.
Setidaknya tulisan gw udah dibaca (that’s the important thing, i think). Karena siapa sih yang nga seneng tulisannya dibaca orang lain, entah itu diblog, website, buku, novel, atau majalah sekalipun (apalagi kalo majalahnya laku gila) pastinya seneng toh. Apalagi sampai menginspirasi seseorang untuk melakukan “sesuatu” yang berbeda, untuk “sesuatu” yang lebih baik tentunya.
Terkadang rasa skeptis gw muncul tiba-tiba, gw berpikir “blog” ini nga ada yang baca karena isinya juga tentang gw semua (all about me, believe me) kalo nga percaya, gw punya soft-copy-nya kok. Semua tentang gw, pasti bikin yang baca bosen, males, dan aneka ragam perasaan lainnya (yang nga menyenangkan) akhirnya nga pernah ada lagi yang baca “raditherapy” terus gw tertawa setelah itu.
Gw akan tertawa setelah pikiran skeptis tadi hilang dihembuskan oleh angin (entah darimana datangnya angin itu). Karena gw percaya ada yang baca kok, sekarang juga lagi ada yang baca tuh. ”Tulislah, apa yang hendak kau tulis, dari hatimu, bukan karena ingin dibaca dan digemari orang lain” sekedar berbagi sesuatu (bukan kata – kata bijak) yang selalu teringat dikepala ketika gw mau menuliskan sesuatu. Sama halnya ketika gw ”mem-publish-nya” di blog, gw percaya ada yang baca dan berguna.
Gw udah pernah cerita sebelumnya kalo blog ini juga terapi buat gw, ketika gw menulis, sebenarnya hati gw yang sedang bercerita. Semua yang tadinya menumpuk, hilang setelah gw menulis ”curhat-an” (kadang-kadang gw suka curhat di blog). Jalan kerjanya sama kok, pada saat lo cerita ”masalah” yang lagi jadi beban dengan ngomong ke orang lain (temen, sahabat, pacar, atau orang tua) setelah lo cerita semua (curhat abis) apa yang lo rasain abis itu? Lega, tenang, atau tambah sumpek.
Lain dengan apa yang gw lakuin, karena gw nga pinter untuk terbuka sama orang (gw lagi belajar untuk itu) walau itu sama pacar gw sendiri. Sulit memang untuk gw terbuka dengan orang lain, namun sedikit demi sedikit (menjadi bukit) gw udah mampu untuk bilang ”lagi kenapa gw” ke pacar (i love you) dan sahabat gw (thanks for everything, lads). di akhir kata, saat gw nga berbicara banyak dan mulut ini masih saja terbungkam, gw akan mulai menulis dan membiarkan hati gw bercerita sepuasnya.
(matahari mulai terbenam, aku terbangun)
Bayangkan lo tiba-tiba bangun dari mimpi buruk, basah karena penuh keringat (dan ingat bukan ”mimpi basah”) pasti lo pernah mengalami hal itu dan bukan hanya sekali. Ayo-lah gw bukan ngomong tentang mimpi basah, tapi lo terus-menerus berpikir tentang itu. Seperti itu-lah keadaan gw tadi, terbangun dari tidur dan keringat membasahi kaos ”biohazard’ (owh lagi-lagi kaos itu) tunggu dulu…tapi bukan karena mimpi buruk ataupun mimpi basah (for godsake…).
Penyebabnya adalah kepanikan, gw terkadang terbangun dengan panik karena penuh pertanyaan dalam kepala gw. ”Jam berapa sekarang? Hari apa sekarang? Kapan gw mulai tidur? Atau dengan siapa gw tidur semalam?” (yang terakhir hanya lelucon) sebagian dari pertanyaan yang ada di otak pada saat itu. Aneh memang dan gw menyadari itu, anyway gw lanjutin ceritanya. Setelah gw sedikit sadar, membiarkan mata gw terbuka lebar, lalu melihat sekeliling kamar yang masih gelap-gurita (gulita maksudnya), gw akan mulai mengingat semuanya.
Hampir semua pertanyaan bisa terjawab dalam waktu 8 menit (rekor terbaru, terlama bisa sampai 30 menit) dan gw masih belum beranjak dari tempat tidur. Satu pertanyaan yang nga pernah gw bisa jawab, ”gw tidur dengan siapa semalam??” dan jawabannya ”…” artinya pertanyaan itu cuma lelucon seperti yang gw bilang sebelumnya.
(apple martini, vodka, mr. daniels, mr. walker, dan orange juice)
Gw terbangun untuk yang kedua kalinya dan kali ini yang pertama kali gw ingat adalah ”dia” gw mao denger suaranya. ”Dia” yang gambarnya ada dimana-mana, di lemari, di dinding, sampai dibalik pintu (tepat di depan tempat tidur) jadi kalo gw bangun, orang yang pertama gw lihat adalah ”dia”. Dan gw sedih nga bisa bersama ”dia” hari ini, di hari sabtu yang penuh senyum. I miss you…
(selamat tidur bunga sempurnaku…)
”Seperti biasa kau tertidur terlalu cepat, meninggalkan aku terjaga sendiri. Terakhir, suara yang aku dengar sebelum tidur adalah suara penuh sayang darimu dan itu suara terakhir yang ingin kudengar. Sekarang giliranku memejamkan kedua mata ini, berharap bertemu denganmu di indahnya mimpi. Aku ingin mendengar suaramu pagi nanti, dan itu suara pertama yang ingin kudengar…”
Gw bersyukur bisa mencintai seseorang seperti ”dia” dan hampir setahun sudah gw bersamanya. Selama itu, setiap hari bersamanya adalah sesuatu yang berharga karena ”dia” memang amat berharga buat gw, sesuatu yang dinamakan ”anugrah yang terbaik” bagi gw. Hari-hari bersamanya adalah sebuah pelajaran hidup tersendiri. Belajar untuk melupakan masa lalu, belajar membiarkan kebencian hilang, belajar tidak menutup diri, belajar untuk menyayangi dan disayangi, belajar untuk mencintai dan dicintai.
Gw jadi ingin kembali ke awal sebentar, saat itu gw berkata ”gw cuma mao bikin seneng lo…” hanya itu yang ada di benak gw. Apakah gw masih orang yang ”menyenangkan” itu tuan putri? (nga lagi ”cengeng” kok…percaya deh). Kalo gw ngomong seperti diatas, pasti ada yang membalas dengan ”gombal ya…” lalu gw jawab ”tapi suka kan…” dan mulai deh ketawa-ketiwi. Gw nga bisa berhenti mencintai ”dia” oh iya besok mao nonton, tidur dulu yah… i love you
















Halo.. salam kenal yaa…
weleh…curhat niy…
salam kenal juga…
curhat?? sedikit…
wah, senangnya….