STIGMATA | Episode 6
Revolusi Hati Nurani
Lihatlah, tataplah sekarang, biarkan aku merasakan kebencianmu. Kemarilah, mendekatlah sekarang, biarkan aku menghirup rasa takutmu. Menangislah, menangislah sekarang, biarkan aku menikmati air matamu.
Berapa lama lagi aku harus menyimpan kebencian ini. Ketika aku masih dikelilingi ingatan-ingatan yang ingin kulupakan selamanya. Kemana lagi aku harus mencari tempat penebusan dosa-dosa ini. Ketika darah ini tak lagi mengalir, ketika nafas ini serasa sesak, ketika tubuh ini dikuasai oleh amarah, ketika jiwa ini terkurung nafsu.
Perlahan aku sudah mencabuti paku yang tertancap di dinding pemisah antara aku dan kebencian. Aku melihat begitu banyak lubang yang berbekas, tak lagi bisa diperbaiki. Begitu banyak amarah dan kesalahan yang sudah kuperbuat, aku hanya bisa melupakan dan meminta maaf. Tapi semua itu berbekas, dan tak pernah hilang.
Aku bukan terluka, aku tidak merasakan luka. Aku tidak merasa sembuh, aku tidak sakit. Seseorang pernah bilang ”Masih benci sama tuh orang” gw menjawab ”Iya masihlah”. Lalu gw melanjutkan ”Tapi gw nga mao lo ikut terlibat, karena ini sifatnya personal”. Aku memang tidak ingin siapapun terlibat, tapi pada akhirnya kata-kata itu jadi boomerang bagiku.
”Jangan pernah menebak siapa yang kubenci, karena apa yang kau tebak adalah salah. Jangan pernah bertanya siapa yang kubenci, karena jawabannya adalah kamu”
Kenapa kata-kata itu sekarang jadi boomerang. Karena walau aku tidak ingin orang lain terlibat, secara tidak langsung mereka akan terlibat juga. Entahlah bagaimana cara memutuskan rantai kebencian ini, mengikat ke dalam jiwa yang seharusnya tak berdosa. Aku tidak membuat kebencian ini tinggal lama. Kebencian ini yang ingin terus bersamaku.
Aku pernah berkata jujur pada seseorang ”Benci ini bukan lagi semata-mata gw mao mukul atau bunuh dia”. Kenyataan memang demikian, lelah memikirkan balas dendam terbaik. Toh, aku juga tidak ingin terlihat sadis atau menyeramkan. Aku hanya manusia normal yang ingin menghilangkan kebencian ini. Aku tidak mau berubah menjadi orang gila yang melupakan hati nurani. Sesal adalah kata terakhir yang tidak ingin kurasakan atau ku dengar. Penyesalan membuat nafasku sesak.
”Beritahu kapan aku bisa berhenti membenci, dan kapan aku bisa memulai tidak membenci. Aku tidak mau terlambat dan menyesali keterlambatanku”
Biarkan musuh-musuh lamaku berpesta atas kehidupan mereka. Biarkan musuh-musuh lamaku menghirup wangi surga. Aku akan berdiri disini menuliskan takdir mereka masing-masing. Bukan lagi tuhan mereka.
Sebuah catatan fiksi yang kutulis setiap saat aku membuka mata dan aku tidak mengingat kebencian itu ada. Aku mensyukuri setiap detik dan setiap menit kebebasanku.
Pudar, hilang, itulah yang aku inginkan. Kebencian itu hilang selamanya. Lelah membawanya selama ini. Aku ingin menikmati kehidupan tanpanya. Bukan menikmati merasakan kebencian. Aku memang orang yang selalu berkata ”nikmatilah-apapun-itu” tapi tidak dengan yang satu ini. Aku rasa aku sudah cukup menikmati amarah dan nafsu ketika kebencian itu muncul. Amarah yang membuat darah ini tidak mengalir.
Aku akan menikmati hari-hari indahku tanpa benci, amarah, dan takut. Ketakutan akan penyesalan bukan ketakutanku pada mereka. Selama ini aku sudah jadi orang yang lebih baik. Aku bisa mengendalikan amarah sampai titk terendah. Hati nurani ini tidak lagi sakit diracuni perasaan-perasaan negatif. Pikiran ini sudah seharusnya memikirkan hal yang lebih penting ketimbang menginginkan balas dendam.
”Berapa lama lagi aku harus menyimpan kebencian ini?”





No trackbacks yet.