Review: The Blair Witch Project

I’m afraid to close my eyes, I’m afraid to open them. ~ Heather Donahue

Seram atau tidaknya “The Blair Witch Project” sebetulnya itu hanya persoalan selera, di tengah berjamurnya horor dengan model serupa, found footage (mockumenter) sekarang-sekarang ini, saya pikir horor yang dirajut oleh Daniel Myrick dan Eduardo Sanchez tidak akan luntur di telan jaman dan justru akan jadi seperti sebuah benchmark untuk film-film sejenis yang kemudian bermunculan. Kerennya Blair Witch Project seperti terpatri begitu saja di kepala orang yang sudah menontonnya, buktinya setiap ada horor mokumenter rilis, secara default kebanyakan orang akan menghakimi dengan “ah ngikutin Blair Witch Project nih”, selain pula karena status film ini sebagai ‘yang pertama” di genre-nya. Sebenarnya bukan yang pertama juga, jika kita menengok ke belakang dan melihat disana ada “Cannibal Holocaust” yang fenomenal itu, film Ruggero Deodato inilah yang pantas diberi gelar “the grandfather of found footage”. Tapi memang “The Blair Witch Project”-lah yang kemudian mempopulerkan genre yang khas dengan kemasan layaknya film-film dokumenter ini. Kesederhanaan esekusinya namun begitu efektif dalam membangun dan menghadirkan horor yang meyakinkan, merupakan kelebihan “The Blair Witch Project”.

Heather Donahue, Michael C. Williams dan Joshua Leonard berencana untuk membuat sebuah film dokumenter tentang legenda lokal “Blair Witch” di Burkittsville, Maryland. Untuk mendukung filmnya, Heather yang bisa dibilang berperan sebagai sutradara, tidak lupa menyertakan beberapa interview dengan penduduk setempat. Tentu saja cerita-cerita menyeramkan tentang hutan yang akan dituju oleh Heather dan kawan-kawannya tidak digubris, alih-alih menganggap kisah tentang penyihir dan seorang pembunuh sebagai sebuah peringatan, mereka anggap itu sebagai “pelengkap” kisah dokumenter dan lanjut pergi ke hutan di utara Burkittsville. Awalnya perjalanan mereka menyenangkan, penuh semangat untuk menyibak misteri penyihir dari Blair, masuk jauh ke dalam hutan, lalu menemukan pemakaman kuno. Namun semakin Heather dan kawan-kawan masuk lebih dalam ke hutan, ketiganya akan menemukan bahwa mereka sedang “dipermainkan” oleh hutan Burkittsville. Cerita penduduk lokal ternyata memang bukan isapan jempol ataupun dongeng sebelum tidur belaka, sudah terlambat bagi mereka untuk kembali.

Mungkin menonton “The Blair Witch Project” pada tahun dimana filmnya rilis akan lebih menyeramkan, namun ditonton sekarang pun, setelah belasan tahun berlalu, film yang juga tayang di Sundance Film Festival ini tetap saja menyeramkan bagi saya. Seperti apa yang saya katakan di akhir paragraf pertama, film ini begitu sederhana namun berhasil menyajikan horor yang efektif membangunkan bulu kuduk. Daniel Myrick dan Eduardo Sanchez begitu meyakinkan dalam bercerita, memanipulasi pikiran untuk mempercayai jika apa yang terjadi dengan tim Heather adalah kejadian nyata, video asli. Jadi wajar sih kalau akhirnya saya begitu menikmati “The Blair Witch Project” di setiap menitnya, apa yang disajikan Daniel dan Eduardo membuat saya begitu asyik, jauh dari bosan, untuk mengikuti kemana pun tim Heather pergi, menunggu dengan penasaran apa yang terjadi selanjutnya, diwakilkan oleh kamera yang setia melaporkan setiap kejadian.

“The Blair Witch Project” memang tidak seheboh “REC” atau “Cloverfield” dalam soal penyajiannya, sekali lagi kesederhanaan berperan banyak juga dalam membangun nuansa tegang tersebut, memanfaatkan kondisi hutan yang mencekam, suara-suara tanpa wujud, dan terlebih para pemainnya yang bisa dikatakan berakting dengan begitu meyakinkan. Faktor kuat atau lemahnya film berjenis found footage ini memang tergantung bagaimana film yang bersangkutan berhasil meyakinkan penontonnya, bahwa yang mereka lihat itu memang nyata. Peran aktor dan aktrisnya pun punya porsi yang penting dalam membuat sebuah film seperti “The Blair Witch Project” ini untuk mengajak masuk penonton dalam dunia rekaan yang dibuat seolah-olah seperti asli. Heather Donahue saya akui berhasil melakukan itu, mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk bisa berakting tidak berlebihan, natural, dengan mimik wajah dan akting yang tepat mampu menyampaikan rasa frustasi dan ketakutan kepada penonton. Begitu pula dengan Michael dan Joshua.

Menonton film horor, pastilah saya mengharapkan banyaknya penampakan (hantu), “The Blair Witch Project” punya cara lain untuk menakut-nakuti saya dan apa yang dinamakan dengan seram, sekali lagi dijabarkan dengan “minimalis” oleh Daniel dan Eduardo. Jadi apabila kalian mencari film horor yang “maruk” penampakan, mungkin film ini tidak bisa memuaskan hal tersebut. “The Blair Witch Project” telah mengingatkan saya jika sebuah film horor juga bisa menyeramkan tanpa harus membeberkan apa yang memang sudah seharusnya tidak terlihat oleh mata. Justru dengan cara memanfaatkan suara-suara gaduh yang datangnya entah darimana, ditambah ekspresi meyakinkan Heather, sebetulnya film ini telah menanamkan ide seram itu kepada penontonnya, kemudian membiarkan saya untuk ketakutan sendiri memproses ide tersebut menjadi yang tidak-tidak, bisa dibilang horor itu terbentuk dalam kepala kita sendiri.

“The Blair Witch Project” yang dari awal punya kuasa lebih untuk mengurung penonton dalam penasaran, tidak serta merta menyia-nyiakan rasa penasaran yang sudah terbangun dengan susah payah itu. Daniel dan Eduardo punya kejutan-kejutan menarik yang telah disiapkan untuk menambal rasa penasaran kita tentang apakah legenda penyihir itu benar ada, sekaligus meyakinkan Heather dan kawan-kawannya bahwa mereka telah melakukan perjalanan yang bodoh. Namun perjalanan bodoh itu justru menjadi satu-satunya hiburan adrenalin yang seru, sesekali menantang keberanian penonton, ditemani konflik-konflik antara Heather, Michael dan Joshua ketika hutan berhasil membuat keberanian mereka luntur dan semangat mereka patah. Sedangkan penonton sukses “disihir” mengikuti film ini, ketakutan bareng mereka. Dengan bujet kurang dari satu juta dolar, “The Blair Witch Project” kemudian berhasil mengantongi hampir $250 juta, sebuah pencapaian yang luar biasa untuk film horor, yang kemudian disusul oleh “Paranormal Activity”. Kedua film ini memang saling berbagi kesamaan, film horor sederhana yang “pelit” penampakan tapi efektif untuk urusan menakut-nakuti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s