Review: Scream 4

Si wajah hantu alias ghostface kembali! setelah kemunculannya untuk pertama kali pada tahun 1996 lewat film pertama “Scream”, kemudian disusul dua sekuelnya, sang kreator sekaligus master of horror Wes Craven membangunkan si pembunuh bertopeng tersebut, menyuruhnya untuk mengasah kembali pisaunya yang sudah tumpul setelah tidak dipakai selama 10 tahun, dan bersiap meneror teman lama, Sidney Prescott (Neve Campbell). Continue reading

Review: Ladda Land (The Lost Home)

Masih ingat dengan “Shutter” (2004) atau “Alone” (2007)? siapa yang bisa melupakan dua film horor asal Thailand tersebut, apalagi bagi mereka yang sudah sukses diteror oleh kengerian kedua film ini, termasuk juga saya. Selain “Ladda Land” ini juga sama-sama berasal dari negara yang terkenal dengan sebutan negeri gajah putih, kaitan lain dengan film yang saya singgung adalah sutradaranya, Sopon Sukdapisit, pernah terlibat menjadi penulis dua film itu. Continue reading

Review: The Lost Bladesman

“The Lost Bladesman”, bukan film pertama yang mengadaptasi kisah “Romance of the Three Kingdoms” karangan Luo Guanzhong, menengok kebelakang sudah ada beberapa film televisi dan juga 2 film layar lebar, “Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon” di tahun 2008 dan “Red Cliff”, yang di kawasan Asia dibagi menjadi 2 film terpisah. Jika film arahan Daniel Lee memfokuskan pada karakter Zhao Zilong (Zhao Yun), salah satu dari Five Tiger Generals di kerajaan Shu, Continue reading

Review: Severance

Sekelompok orang dari kota sengaja berkunjung ke tengah hutan antah berantah di daerah pegunungan Hungaria, mereka tidak sedang liburan tapi menghabiskan akhir pekan untuk team-building. Richard (Tim McInnerny) dan tim-nya yang bekerja di sebuah perusahaan pembuat senjata bernama Palisade Defence, tidak menyangka jika mereka akan berakhir di sebuah pondok yang katanya mewah tetapi ternyata tidak lebih dari gedung tua yang sepertinya sudah lama diabaikan. Continue reading

Review: Pirate Brothers

Ketika “Merantau” mampir dan unjuk kebolehan pada tahun 2009, perfilman tanah air bisa dikatakan seperti disiram hujan yang menyegarkan, bagaimana tidak, apalagi melihat variasi film yang tayang di bioskop pada saat itu yang masih didominasi genre yang itu-itu saja, ya horor-cacat dan antek-anteknya itu. Melihat film laga lokal kembali beraksi dalam bioskop, tentu saja bagaikan seruan keras yang menendang saya untuk juga balik duduk manis di bioskop menonton film Indonesia. Continue reading

Review: Limitless

Apa jadinya yah jika kita mampu memaksimalkan kinerja otak sampai 100%? mungkin kita bisa mendapat semacam kekuatan “super” untuk melakukan segala aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah, mengerjakan sesuatu yang biasanya membutuhkan waktu lama, menjadi lebih cepat, seperti menyelesaikan buku dalam semalam misalnya. “Limitless” bukan film tentang superhero yang mendapatkan kekuatan dari planet lain atau seseorang yang digigit serangga kemudian menjadi jenius, Continue reading

Review: 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Melihat Happy Salma memenangkan penghargaan pendukung wanita terbaik dalam film “7 Hati 7 Cinta 7 Wanita”, di ajang Festival Film Indonesia, yang diadakan Desember silam, tentu saja menambah level penasaran saya terhadap film yang pada waktu acara tersebut berlangsung memang belum ditayangkan di bioskop umum. Kiprah film yang memperoleh 6 nominasi di FFI 2010 tersebut, dimulai di Australia, Continue reading

Review: Yakuza Busting Girls: Duel in Hell

Setelah diceritakan 3 tahun berkelana menimba ilmu dan berlatih untuk menjadi yakuza hunter, Asami kembali ke kota dimana dulu dia pernah tinggal sekaligus mengunjungi sang master Inokuma (Sakichi Sato), yang menjalankan bisnis bar kecil-kecilan di kota tersebut. sayangnya sekarang “kampung halamannya” tidak lagi berwajah sama. Yakuza ternyata menguasai kota dan mengusir paksa para penghuninya karena mereka sendiri ingin mendirikan pusat judi besar-besaran di kota itu nantinya. Continue reading

Review: Trust

“Trust” memberi sebuah peringatan, pesan untuk tetap waspada terhadap orang yang kita anggap “teman” di dunia maya. Mendapat teman di situs jejaring sosial atau chat room, bisa jadi sangat menyenangkan, namun akan menjadi bencana jika seseorang begitu cepat percaya dengan orang asing yang hanya dikenal lewat foto saja, well foto bisa menipu. Apa yang digambarkan film ini juga bukan sekedar omong kosong, ini nyata terjadi di luar sana, bahkan di Indonesia sekalipun. Continue reading

Review: The Elite Squad (Tropa de Elite)

Melalui narasi seorang kapten BOPE—semacam pasukan khusus di kepolisian Brazil—Roberto Nascimento (Wagner Moura), penonton diajak memasuki “hutan belantara” di balik keindahan eksotik negeri samba tersebut. Bersetting di kota Rio de Janeiro sekitar tahun 1997, “The Elite Squad” (Tropa de Elite) akan menceritakan sepak terjang BOPE dari hari ke hari melawan obat-obatan terlarang dan para pengedarnya. Jika polisi “biasa” sudah kewalahan, Continue reading