Therapy Room
11 Menit 12 Detik (Akhirnya…)
Aku beritahu sekarang, aku bukan diriku lagi, entah siapa yang berdiri saat ini. Entah siapa yang ada di dalam tubuh ini, berbicara, berkata, berjalan, berlari, entah siapa yang mengendalikannya. Aku ingin melihat ada apa, tapi aku tak bisa. Terlalu jauh terjangkau, tak dapat teraih, sulit kugapai. Aku masih bukan diriku, entah sampai kapan kepura-puraan ini berlanjut. Permainan untuk mencari tahu siapa dan apa. Keinginan untuk menemukan yang dicari dan mencari apa yang selama ini tersembunyi, kebenaran dan kejujuran. Tapi aku tak yakin akan kebenaran dan kejujuran yang ada sekarang.
Terlalu semu untuk dibuat jadi nyata, terlalu samar untuk dibuat jelas. Ya, semua masih berupa sketsa yang belum selesai. Aku tak mau tahu siapa yang akan menyelesaikan sketsa itu. Sebuah puzzle yang tak akan terpecahkan, jika waktu terus saja seperti ini, meninggalkan dan tak menunggu. Semua akan sama tak ada yang berubah, jika sebuah pertanyaan tak pernah terjawab, jika kata masih saja terdiam, jika kejujuran masih saja terkunci. Jika hati belum mau berbicara, tidak akan ada aku yang tertawa, tidak akan ada aku yang bercerita tentang kehidupan. Lalu kapan hati itu akan mengatakan apa yang dirasakannya, ataukah akan menunggu ketika ia sadar semuanya terlambat dan menyesalinya.
Lalu kapan hati itu akan menggerakkan tubuh kaku ini untuk tak lagi diam, ataukah masih akan menunggu sampai kehidupan ini tertidur, hingga tak lagi ada kata yang bisa diucapkan, tak ada orang lain yang mendengarkan, tak ada lagi yang menemani. Aku tak ingin lagi menunggu, hati ini sudah membeku sulit untuk dicairkan. Aku tak ingin lagi menunggu, perasaan ini sudah terbangun dari tidur panjangnya dan enggan untuk terpejam kembali. Aku tak mau menunggu lagi, dan tertinggal oleh waktu dan kehidupan yang kulewati.
Apa sekarang aku sudah jadi diriku, kembali utuh-seutuhnya. Mengambil satu demi satu pecahan diriku yang hilang dan mennyatukannya kembali, itu butuh waktu. Sudahkah aku lihat diriku sendiri di cermin hari ini, esok dan entah kapan. Siapa yang ada disana, siapa yang tersenyum disana, siapa yang tertawa disana, perlukah aku sendiri yang menjawab. Yang pasti mereka tak ada disana, menertawai, seperti dulu. Sampai kapan pertanyaan-pertanyaan ini terjawab. Aku tak mau berjalan kosong, dijalan yang hampa, dikelilingi tanda tanya, dibebani hati yang semakin sesak.
Aku sakit dan semakin sakit, aku lelah dan semakin lelah menjadi orang lain. Sepenuhnya diriku, itulah yang aku tuju, aku merasa setiap hari kosong walau kegembiraan, keceriaan, tetap ada. Tak berarti apa-apa, kosong tak berisi apapun. Untuk apa lagi aku menulis, untuk apa lagi, jika ketakutan itu masih ada. Jika keberanian itu masih bersembunyi dibalik kepura-puraan. Dan untuk apa aku menangis hari ini, jika air mata itu hanya untuk membersihkan kebohongan.
Semua permainan, semua hanya pura-pura, sial. Untuk apa aku berdoa setiap malam, jika kata-kata itu penuh dengan dosa. Untuk apa, untuk siapa, dan kenapa. Biarlah malam ini aku sendiri, bercerita tentang aku yang ingin menjadi diriku sendiri, tentang kehidupan yang aku syukuri. Satu pertanyaan lagi, siapa yang sekarang ada disampingku? Disampingmu? Disamping kalian? Jagalah, sayangilah, cintailah, jangan buat dia pergi. Akhirnya aku merasakannya…




pertamax niy…
keren2 oom isinya,, desainnya jg bagus
tapi kalau menurut gw si bahasa si oom ini terlalu tinggi kurang susah dipahami buat orang kek gw
tapi 3 kali baca dah maksud apa yang ditulis oom radit..
gw suka banget sama layoutnya…
rgrds,
keduaX nih…
wakakakakaka
asik ada bung raf mampir…
iye gw juga yg nulis, kadang suka bingung sendiri sama tulisan gw
klo soal layout mah punya orang om, belom bisa bikin sendiri
ditunggu blog-nya om hehehe