Walk With Lamb Of God in Hell

Lamb Of God

Rasa penasaran gw yang selama ini hanya bisa nonton dari dvd konser mereka, akhirnya terobati kemarin malam. Tiket konser yang cukup mahal, pada akhirnya juga terbayar dengan penampilan maksimal mereka. Lamb Of God yang terdiri dari Randy Blythe (Vocals), Mark Morton (Lead&Rhythm Guitar), Willie Adler (Lead&Rhythm Guitar), John Campbell (Bass), Chris Adler (Drums), sukses membuat ribuan fans-nya berheadbangin’ ria di tenis outdoor senayan kemarin malam 9 Maret 2009.

Band yang sudah mengeluarkan 6 album ini (Burn the Priest, New American Gospel, As the Palaces Burn, Ashes of the Wake, Sacrament, dan Wrath) memang sudah diisukan akan datang ke Indonesia sejak tahun lalu. Namun baru bisa hadir tahun ini dalam tur dunia mereka bertajuk “Wrath Tour”, sekaligus mempromosikan album baru mereka berjudul “Wrath”. Sebelum tampil di Jakarta, Lamb Of God tampil di Jepang dan Australia, Sehabis itu mereka akan terbang ke kembali ke Amerika untuk meneruskan tur disana.

Lamb Of God

Gw sampe di venue sekitar jam 6, karena gw udah punya tiket jadi langsung aja bertemu dengan teman yang udah nunggu disana. Sambil menunggu pintu masuk dibuka gw ngobrol dan sesekali melihat sekitar area konser. Hebat ternyata tiket mahal nga bikin anak-anak metal diem dirumah, mereka malah datang ke konser, dan jumlah mereka nga sedikit. Senangnya gw bisa dateng ke konser metal, setelah sekian lama, karena gw selalu absen setiap ada band metal manggung di Jakarta. Jadi gw nga akan menyia-nyiakan malam yang langka ini. Akhirnya pintu masuk dibuka sekitar jam 7. Gw sempet berpikir membeli kaos “Wrath Tour” sepulang konser, namun sesal yang ada, karena pas pulang kaosnya sold out (hiks).

Konser dibuka oleh penampilan band death metal, Dead Squad, tepat jam 8 malam. Area konser masih diguyur hujan, namun hal itu nga bikin para metal-head terus berdiri di pinggir untuk berteduh. Pas intro musik dimulai, mulai-lah penonton yang didominasi oleh kaos metal berwarna hitam ini maju kedepan, tak sabar untuk menikmati malam untuk para penggemar metal di Indonesia. Gw pun yang sebelumnya berada dipinggir, bersama Andre dan Randi (Teman dari Padang, yang khusus datang demi konser ini) akhirnya maju menuju ke tengah venue.

Penampilan Dead Squad pada malam itu, cukup gahar, death metal emang musik gw dari kecil. Walau sound yang keluar terdengar kurang jernih dan sedikit pecah, namun nga menghentikan gw untuk mulai menggoyangkan kepala alias head banging. Hahahahaha cuma gw nga mao terlalu semangat, bisa habis energi gw sebelum Lamb Of God main entar. Dead Squad sempet memainkan tribute untuk Sepultura “Arise”, lagu ini yang bikin gw merinding dan makin panas. Old Sepultura I really miss you, dan makasih buat Dead Squad yang udah bawain lagunya.

Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu, Lamb Of God tampil dimulai dengan intro yang membuat suasana tenis outdoor menggemuruh dengan teriakan-teriakan. Area konser yang sudah tidak terguyur hujan itu seketika dipenuhi kepalan-kepalan tangan “devil’s horn” yang diangkat setinggi-tingginya, seraya seperti mengucapkan selamat datang  kepada Lamb Of God. Tanpa basa basi, Randy dan kawan-kawan langsung memainkan lagu pembuka “Hourglass”. Serentak penonton melompat, berteriak, headbanging, dan moshing.

Lamb Of God @ Jakarta

Kerumunan orang didepan mulai melakukan gerak memutar secara agresif, inilah yang dinamakan circle pit, gw menyebutnya lingkaran setan hehehehe. Penonton yang nga mao ikutan segera mundur, membiarkan circle pit ini bertambah besar (termasuk gw juga ikut mundur). Hentakan drum Chris Adler berbarengan dengan permainan gitar Mark dan Willie memulai lagu berikutnya “Laid to Rest”. Suasana semakin panas, semua orang melompat dan berteriak bersama Randy “See Who Gives A Fuck”.

“Walk With Me in Hell” lagu ketiga dan lagu yang gw tunggu-tunggu untuk dimainkan, permainan gitar Mark dan Willie saling beradu skill disini. Dentuman drum dan bass dari Chris dan John secara berirama mengikuti. Sebuah melodi yang benar-benar mengantarkan kita ke neraka. “Pathetic” dari album Sacrament menjadi lagu berikutnya, diikuti dengan ” Set to Fail” dari album baru mereka Wrath. Sudah 5 lagu yang dibawakan Lamb Of God, Randy sesekali menyapa penontonnya “Give Me Some Noise, Jakarta”.

“Ruin” mengantarkan gw dan ribuan orang untuk kembali bermoshing dan berheadbanging. Diteruskan dengan teriakan “Now you’ve got something to die for” yang merupakan lagu selanjutnya dari album Ashes Of The Wake. Lagu yang juga gw tunggu untuk dimainkan, hentakan keras drum Chris menghentikan jantung gw sesaat dan sepertinya tubuh ini mengikuti irama gitar kedua gitaris. Randy berteriak “Now you’ve got something to die foooooor” diikuti oleh ribuan penonton sambil mengacungkan kepalan tangan dan devil’s horn.

Konser terus berlanjut “Descending”,  “Fake Messiah”, “Blacken the cursed Sun”, dan “Dead Seeds” menjadi lagu berikutnya dari total 15 lagu yang dibawakan Lamb Of God. Sebelum lagu berikutnya, Randy menyuruh diam seluruh penonton lalu dia memulai intro “Whoever appeals to the law against his fellow man is either a fool or a coward. Whoever cannot take care of themself without that law is both. For a wounded man shall say to his assailant, “If I Live, I will kill you, If I Die, You are forgiven.” Such is the Rule of Honor” lagu “Omerta” pun berhasil menyihir penonton untuk bernyanyi bersama.

Lamb Of God @ Jakarta

Akhirnya lagu kebangsaaan (bagi gw) dimainkan “Vigil” dengan intro lembut sebelum akhirnya teriakan Randy “Our father thy will be done” memulai lagu yang membangkitkan emosi gw. Hahahahaha gw udah mulai gila-gila-an disini, karena gw tahu tinggal 2 lagu lagi dan konser berakhir. Gila lagu ini bener-bener bikin ngeluarin-emosi-kebencian, aura gelap gw serasa lepas bersamaan dengan lagu ini.

Lagu yang sepertinya ditunggu penonton “Redneck” bener-benar membuat mereka menjadi gila, circle pit bertambah luas. Semua penonton seperti tak mau mengakhiri konser yang sudah berjalan selama hampir satu setengah jam ini. Namun konser memang harus berakhir, “Black Label” menjadi penutup konser Lamb Of God. Kerumunan penonton terbagi menjadi dua, inilah pertanda Wall Of Death. Malam itu benar-benar malam yang gila dan spesial.

Gw dan penonton lain berharap masih ada lagu tersisa, teriakan “We want more” pun terus menggema. Tapi tampaknya Lamb Of God menyudahi konser dan tidak ada lagi lagu yang dibawakan. Setelah memberi salam dan berterimakasih kepada penonton Jakarta, satu persatu menghilang ke balik panggung. Randy, Willie, Mark, John, dan Chris telah bermain maksimal dan profesional walau masalah teknis terjadi ditengah-tengah konser. Basah Kuyup, Badan serasa rontok, Sepatu rusak, Cd dan Kaos Dead Squad itulah yang gw bawa pulang dari Konser. Terima kasih Lamb Of God, gw akan ingat janji Randy untuk datang lagi tahun depan.

———————–

Video | Lamb of God | Live at Tennis Outdoor Senayan | Jakarta

Lamb of God – Vigil

Lamb Of God – Set To Fail


One thought on “Walk With Lamb Of God in Hell

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s