My Review is Sucks: Edward Scissorhands, Bangkok Dangerous (1999) & Science of Sleep

Edward Scissorhands

You see, before he came down here, it never snowed. And afterwards, it did. If he weren’t up there now…   I don’t think it would be snowing. Sometimes you can still catch me dancing in it ~ Kim

Di sebuah kastil diatas sebuah bukit tinggal seorang penemu yang hebat, dengan ciptaan Edward (Johnny Depp) yang hampir mendekati bentuk manusia sempurna. Namun sungguh amat disayangkan, sang penemu menemui ajalnya sebelum ia bisa menyelesaikan tangan untuk Edward. Hidup sebatang kara dengan tangan masih berbentuk pisau, Edward akhirnya didatangi oleh Peg (Dianne Wiest) seorang penjual kosmetik yang sudah putus asa karena tidak menjual satupun kosmetik yang dijualnya.

Peg yang memutuskan mendatangi kastil di atas bukit, satu-satunya tempat terakhir yang belum dikunjunginya dan berharap ada yang membeli kosmetiknya, malah bertemu dengan Edward. Bukannya takut dengan bentuk yang tidak seperti manusia biasa, dengan jari-jari berbentuk pisau. Peg malah ingin membantu Edward dan meminta untuk ikut dengannya tinggal dirumahnya.

Kondisi Edward yang tidak sempurna, malahan mendekati monster menakutkan dengan jari-jari tajam ternyata membuat para tetangga simpati kepadanya. Lingkungan tempat Peg dan sekeluarga tinggal menerima Edward layaknya manusia biasa, walau kadang Edward masih dijadikan bahan ejekan karena dia berbeda. Apalagi setelah Edward memperlihatkan kemampuan khususnya dalam membentuk tanaman menjadi karya seni, semakin banyak tetangga menyukainya khususnya para ibu-ibu tentu saja Peg sendiri.

Edward pun sering diundang ke rumah tetangga, untuk di mintai bantuan membentuk tanaman menjadi bentuk-bentuk unik dengan bayaran semangkuk kue atau segelas minuman. Tak lama kemudian, secara tidak sengaja Edward dapat melakukan hal lain yang di luar dugaan seperti memotong bulu anjing hingga terlihat beda dan menarik. Tak hanya itu Edward juga menjadi ahli penata rambut bagi ibu-ibu di lingkungan tersebut, termasuk penata rambut pribadi bagi Peg.

Edward diam-diam memendam rasa suka kepada anak perempuan Peg, yaitu Kim (Winona Ryder). Pertama kali melihat Photo Kim sewaktu dia pertama kali datang, Edward memperlihatkan wajah yang menunjukkan dia suka gadis di photo itu. Awal pertemuannya dengan Kim memang tidak baik, Kim yang baru datang larut malam dikagetkan oleh Edward yang tidur dikamarnya. Kim yang sudah mempunyai pacar pada awalnya belum menyadari ada orang asing yang sedang memperhatikannya, yaitu Edward.

Sayangnya kebahagiaan Edward di tempat barunya mulai terusik dengan berbagai macam kejadian. Edward mulai tersandung masalah demi masalah, karena fitnah dan provokasi salah satu tetangga, Edward jadi dibenci oleh para tetangga dan terutama oleh pacar Kim yang tidak menyukai Edward. Apakah Edward hanya dimanfaatkan selama ini? seperti habis manis sepah dibuang, Edward tidak lagi diperlukan untuk membantu di taman, merapihkan anjing tetangga, ataupun menata rambut. Malang benar nasibnya, kini Edward menjadi musuh nomor satu di lingkungan yang sebelumnya bersahabat dengannya.

Lalu bagaimana dengan rasa sukanya kepada Kim? akankah cinta Edward hanya bertepuk sebelah kanan?

Salah satu film yang nga bosen untuk ditonton, nga pernah bosen liat akting keren Depp di Edward Scissorhands. Akting yang gw namain “Psycho-Culun”, bisa-bisanya Depp berperan seperti boneka-boneka bermake-up gothic ala stop-motion di film-film Tim Burton lainnya yaitu The Nightmare Before Christmas atau Corpse Bride. Lihat saja perubahan mimik yang memperlihatkan Edward ketika bahagia, sedih, bingung, dan marah. Sangat ekspresif menurut gw, nga perlu dia berbicara kita udah tahu klo Edward sedang sedih atau bingung.

Gerak-gerik si manusia gunting ini juga ajaib klo gw bisa bilang begitu. Sebuah karakter yang nga bisa dilupakan, Tim Burton emang jenius klo soal menciptakan karakter-karakter aneh bin ajaib di filmnya. Di film yang menampilkan Alan Arkin masih muda ini juga sangat unik dalam pewarnaan, entah karena film lama juga kesannya jadi vintage dicampur dengan khas Burton jadinya tetep suram klo menurut pandangan gw.

Terakhir, tentu saja si cantik Winona Ryder yang pas banget berpasangan dengan Depp. Edward yang nampak seperti monster dipasangkan dengan Kim yang cantik, versi lain dari Beauty and The Beast. Pantes aja Edward suka, pinter banget milihnya, gw juga suka hehehehehe.

Overall, super-duper-bagus, cerita dongeng modern yang cocok untuk dibacakan sebelum tidur. Seperti layaknya film-film disney namun ini versi Tim Burton yang gelap dan suram.

——————————-
Rating 5/5

Bangkok Dangerous (1999)

Entah apa yang ada dipikiran Pang bersaudara untuk me-remake Bangkok Dangerous dengan judul yang sama pada tahun 2008 silam. Kenyataannya remake tersebut bisa dibilang gagal, malahan tidak menyaingi sedikit pun film pendahulunya yang diproduksi tahun 1999. Setelah mencari dari tumpukan koleksi vcd yang sudah lama terabaikan, alhasil gw menemukan film Thailand yang pernah gw tonton dulu sekali, disutradarai oleh dua bersaudara, Oxide Pang Chun dan Danny Pang.

Menceritakan seorang pria bernama Kong yang bisu dan tuli sejak kecil. Berkat kemahirannya dalam menembakkan senjata,  dia direkrut dan dilatih oleh Jo untuk menjadi partnernya dalam bekerja sebagai pembunuh bayaran. Mendapat bantuan dari teman wanita bernama Aom, mantan pacar Jo yang bekerja di klub striptis juga sekaligus penghubung mereka dengan bosnya.

Pekerjaan Kong dan Jo selalu rapih, tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Partner dalam membunuh pada awalnya membuat mereka seperti kakak-beradik pada akhirnya. Namun sayang tragedi membuat Kong harus beraksi sendiri setelah telapak tangan kanan Jo tertembak. Walau berkerja sendirian, setiap misi pembunuhan yang masuk melalui Aom, dikerjakan dengan baik oleh Kong bagai pemburu yang kelaparan mencari mangsa, pembunuh bayaran berdarah dingin.

Sampailah petualangan bunuh-membunuh yang dikerjakan Kong pada titik balik kehidupannya. Ketika dia bertemu dengan gadis cantik yang bekerja di apotik, bernama Fon. Tanpa tahu siapa sebenernya Kong, perkenalan singkat berlanjut menjadi hubungan yang lebih dekat. Rahasia yang dibawa oleh Kong tidak akan selamanya tertutup dan dia menyadari cepat atau lambat Fon akan tahu siapa dia sebenarnya. Seorang pembunuh bayaran ini akan bertemu dengan takdirnya, dimana dia harus memilih antara pekerjaan, persaudaraan, balas dendam, dan cinta.

Kembali ke pertanyaan, kenapa harus ada remake? film yang menghadirkan seorang pembunuh bayaran yang dingin berubah menjadi hangat karena cinta ini sudah amat sangat bagus, lalu kenapa harus ada versi hollywoodnya. Cerita yang amat menarik dari film berdurasi 105 menit ini, dimana diperlihatkan kalo seseorang yang tadinya dingin, tak punya hati, dengan pandangan seorang pembunuh bisa takluk oleh seorang wanita.

Lalu konflik batin di film ini tidak hanya datang dari satu sisi saja, yaitu si gadis apotik, namun dari dua arah. Pekerjaan terakhir yang akhirnya membuat Kong sadar bahwa ada keluarga yang kehilangan akibat perbuatannya dan perasaan yang sama dirasakan olehnya ketika dia kehilangan orang-orang yang selama ini dekat. Ada Scene keren di film ini, ketika Kong pergi untuk balas dendam di sebuah restoran. Nampaknya gw harus mencari dvdnya sampai ketemu, tapi seru juga nonton di vcd, nostalgia banget…hahahahahahaha.

——————————-
Rating 3.5/5

Science of Sleep

Udah lama punya filmnya, cuma baru nonton full dan serius semalem. Michel Gondry sekali lagi membawa kita ke dunia khayal dalam film Science of Sleep Aka La Science des rêves. Memang belom bisa menandingi ke-labirin-an Eternal Sunshine of the Spotless Mind, film Gondry yang menurut gw masterpiece-nya dia.

Film yang di bintangi Gael García Bernal, bercerita tentang Stephane, seorang seniman kreatif yang bekerja di sebuah perusahaan pembuat kalender. Hidup di sebuah kamar apartemen ditemani hanya oleh mimpi dan imajinasinya. Kehidupannya tidak ada yang luar biasa, hingga suatu ketika dia dipertemukan oleh gadis penghuni kamar sebelah. Pertemuan yang tidak ada unsur romantismenya ini, lambat laun menjadi pengisi kekosongan ruang dalam kehidupan Stephan, sekaligus juga masalah-masalah baru.

Oke, gw suka dengan visualisasi-unik-plus-fantasi-ria di film ini, dimana Stephan selalu membawa kehidupan nyatanya ke dalam dunia mimpinya. Sebuah mimpi yang benar-benar mimpi mampu ditampilkan dengan baik, terkadang gw juga nga ngerti apa arti dari simbol-simbol yg ada. Dunia yang terbuat dari kertas dan kardus yang muncul setiap saat Stephane tertidur. Dunia yang mirip dengan imajinasi anak kecil.

Tapi sayang cerita di luar mimpi Stephan, tidak semenarik mimpinya, kehidupannya bener2 membosankan. Mungkin cerita yang “boring” yang bikin gw selalu tertidur ketika nonton film ini…hehehehe. Pembawaan karakter yang ada juga jadi terlihat biasa, kecuali ketika Stephan ada di dalam mimpi, dia selalu jadi orang lain yang menarik. Gw jadi bingung sendiri, memilih Stephan untuk terus mimpi atau menyuruh dia bangun dan perbaiki hidupnya sendiri yang berantakan.

Overall, film yang masih bisa dinikmati ketika lo bosen dengan film2 yang itu-itu aja. Penuh fantasi namun sayang ter-lalu sayang dapat mengakibatkan bosan. Kecuali lo betul2 penyuka film jenis ini. Jadi jangan menonton film ini klo anda salah satu orang yang bilang “Meet the Spartans” itu bagus banget.

——————————-
Rating 3/5

One thought on “My Review is Sucks: Edward Scissorhands, Bangkok Dangerous (1999) & Science of Sleep

  1. Edward Scissorhands, sukaa banget….
    Bangkok Dangerous… ga suka film2 action gt,
    nice review anyway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s