My Review is Sucks: The Hidden Fortress, Bowling for Columbine & The Kite Runner

Hidden Fortress

Hide a stone among stones and a man among men. ~General Rokurota Makabe

Cerita bermula dengan dua orang petani serakah bernama Tahei dan Matakishi yang harus menelan pil pahit tidak mendapatkan keuntungan dari perang antara klan Yamana dan Akizuki. Saat keduanya berencana pulang, serta menghindari patroli dari prajurit klan Yamana, kedua petani ini menemukan emas disembunyikan di dalam ranting kayu. Emas tersebut adalah milik klan Akizuki yang sudah kalah perang. Keserakahan mereka menuntun keduanya untuk menemukan ranting-ranting kayu lainnya, dengan harapan emas mereka bertambah.

Takdir lalu mempertemukan Tahei dan Matakishi dengan seorang lelaki bertampang gahar, ketika sedang mencari emas tersembunyi lainnya. Tidak mau rahasia emas itu diketahui orang tersebut, keduanya pergi seakan tidak terjadi apa-apa. Namun celakanya si lelaki bertubuh besar ini mengikuti mereka sampai pada akhirnya diketahui klo dia tidak lain adalah seorang jenderal dari klan Akizuki.

Rokurota Makabe, itulah nama jenderal yang sekarang bersembunyi di sebuah tempat rahasia milik klan Akizuki. Rokurota mengajak kedua petani itu ke tempat persembunyiannya. Dengan iming-iming akan diberi emas, Tahei dan Matakishi yang keduanya sering bertengkar memperebutkan emas, setuju untuk membantu sang jenderal yang akan membawa emas-emas tersebut melewati perbatasan yang dijaga klan Yamana.

Ternyata Rokurota menyembunyikan putri Yuki Akizuki, yang dicari-cari oleh klan musuh, dan akan membawanya juga melewati perbatasan. Memanfaatkan keluguan kedua petani, sang putri menyamar menjadi gadis bisu. Tak ada yang tahu kalo sebenarnya gadis bisu tersebut adalah putri yang paling dicari dengan imbalan 10 ryo, kecuali jenderalnya sendiri Rokurota.

Setelah persiapan yang matang, Rokurota, Putri Yuki, dan kedua petani tersebut memulai perjalanan berbahaya mereka untuk sampai ke wilayah lain tanpa diketahui musuh. Rokurota harus bersiap melindungi sang putri dari ancaman klan Yamana. Putri Yuki sendiri pun harus tetap membisu agar selamat sampai ditujuan. Sedangkan kedua petani serakah terus saja mencari cara licik untuk membawa semua emas ketika ada kesempatan.

The Hidden Fortress atau Kakushi-toride no san-akunin, adalah film ketiga Akira Kurosawa yang gw tonton setelah sebelumnya mengacungkan dua jempol dan takjub dengan Seven Samurai dan Kagemusha. Tidak seperti kedua film tersebut, yang bermakna terlalu dalam dan memiliki jalan cerita yang tampak seperti puisi, ciri khas film Kurosawa. Film The Hidden Fortress lebih bisa dinikmati dengan jalan cerita yang lumayan ringan dan ditambah dengan komedi disela-sela film berdurasi 139 menit ini.

Film yang menginspirasi seorang George Lucas untuk membuat Starwars ini, menampilkan cerita yang sederhana namun dibalut dengan cerdas oleh seorang legenda perfilma Jepang, Akira Kurosawa. Akhirnya menampilkan sebuah film yang bagus, nyaman untuk ditonton, menarik untuk diikuti sampai akhir. Walau tidak berwarna alias hitam putih, film yang diproduksi tahun 1958 ini berwarna dari segi konflik dan akting para pemainnya.

Toshirô Mifune, yang sudah tampil di hampir semua film yang disutradarai oleh Kurosawa, tampil luar biasa, mendominasi sebagai seorang jenderal yang harus melindungi seorang putri, tak kenal takut, cerdas, dan ahli dalam beladiri. Di lain pihak dia juga harus terus tampil superior di hadapan kedua petani yang kerap menyusahkan sang jenderal, Tahei dan Matakishi (Minoru Chiaki & Kamatari Fujiwara).

Seperti disebutkan kalau film ini bisa lebih dinikmati karena Kurosawa menyisipkan humor-humor ke dalam filmnya yang satu ini. Kekonyolan dan kebodohan Tahei dan Matakishi-lah yang kerap membuat gw tertawa, entah itu saling berlomba memperebutkan ranting pohon ataupun cara mereka menghindari musuh dan rencana licik mereka yang serakah akan emas. Keduanya adalah bumbu penyedap di film ini.

Peranan sang putri Yuki (Misa Uehara) juga tidaklah gampang, dia harus bertindak diluar keinginannya, menuruti kehendak sang pelindungnya, yang berlawanan dengan sikap pemberontaknya karena beban klan yang harus ditanggung sendiri. Untuk selamat dari kejaran musuh dan keluar dari perbatasan-pun dia harus berpura-pura bisu. Nampaknya lebih susah untuk sang putri menyamar dengan kebisuannya, menghadapi dua orang petani serakah dan licik daripada berurusan dengan prajurit Yamana.

Scene awal dari film ini, dimana kedua petani berjalan untuk pulang mengingatkan gw akan scene R2-D2 dan 3CPO yang berkelana di gurun pasir dan akhirnya bertengkar lalu berpisah. Lalu sama-sama tertangkap oleh  Jawas, pedagang barang-barang bekas. Sama halnya dengan Tahei dan Matakishi yang bertengkar lalu memilih untuk berjalan masing-masing sampai akhirnya bertemu lagi setelah tertangkap oleh pasukan Yamana. Karena memang Starwars terinspirasi dari The Hidden Fortress.

——————————-
Rating 5/5

Bowling for Columbine

The two by-products of that whole tragedy were, violence in entertainment, and gun control. And how perfect that that was the two things that we were going to talk about with the upcoming election. And also, then we forgot about Monica Lewinsky and we forgot about, uh, the President was shooting bombs overseas, yet I’m a bad guy because I, well I sing some rock-and-roll songs, and who’s a bigger influence, the President or Marilyn Manson? I’d like to think me, but I’m going to go with the President. ~Marilyn Manson

Film dokumenter yang keren, Michael Moore membuat dengan cara tidak biasa. Bowling for Columbine menceritakan tentang gimana gampangnya senjata didapat di Amerika sana, lo bisa dapet senjata gratis dengan hanya buka akun bank dan gampang beli amunisi di wal-mart. Tingkat pembunuhan dengan senjata yang tinggi mencapai ribuan pertahunnya. Massacre di sekolah Columbine dan hubungannya dengan politik di Amerika yang “membolehkan” warganya untuk mempunyai senjata. Serta diceritakan juga sedikit sejarah Amerika yang dari dulu “paranoid” udah jadi bagian dari budaya mereka.

Cerita sedikit tentang biaya gratis medis di Kanada (selanjutnya ada di “Sicko”) dan Serangan 11 September yang membuat rakyat Amerika semakin paranoid dengan orang di lingkungans sekitar (selanjutnya ada di “Fahrenheit 9/11”). Selama 2 jam, gw diperlihatkan bagaimana televisi bisa jadi mesin pembuat ketakutan, membuat orang-orang mengunci dirinya dalam rumah, dan membuat orang-orang menjadi lebih konsumtif. Yup, televisi adalah mesin-paranoid, bukan pembawa berita yang seharusnya membuat aman-nyaman, tapi membawa ketakutan.

Jadi jangan salahkan musik Rock n Roll, salahkan kenapa kita nga pernah mendengar apa yang orang lain, ataupun anak-anak inginkan. Karena mereka nga butuh ceramah, anak-anak butuh didengar dan diperhatikan.

——————————-
Rating 4/5

The Kite Runner

There is only one sin, only one. And that is theft. Every other sin is a variation of theft… When you kill a man, you steal a life. You steal his wife’s right to a husband, rob his children of a father. When you tell a lie, you steal someone’s right to the truth. When you cheat, you steal the right to fairness. ~ Baba

Sebuah cerita persahabatan dua anak Afghanistan yang gemar bermain layang-layang ini patut di acungi jempol. Kisah petualangan hidup dua bocah yang berbeda suku, sudah seperti saudara, di masa sebelum Uni Soviet menginvasi Afghanistan. Marc Forster (Finding Neverland),  menyutradarai dengan baik film yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Khaled Hosseini.

Gw kira pertama kali liat cover filmnya, ini film asli Afghanistan, ternyata setelah melihat nama sang sutradara, baru sadar ini film Amerika. Syuting filmnya juga tidak asli di Afghanistan, negara yang menjadi setting film ini, malahan kebanyakan di China yang dibuat sedemikian rupa mirip dengan Afghanistan.

The Kite Runner, bercerita tentang persahabatan dua orang anak bernama Amir dan Hassan. Keduanya berasal dari status dan suku yang berbeda. Amir adalah anak orang kaya yang mempunyai rumah besar di Kabul, dan berasal dari suku mayoritas di Afghanistan. Sedangkan Hassan sendiri bekerja bersama ayahnya di rumah tersebut, mereka datang dari suku minoritas.

Amir dan Hassan gemar bermain layang-layang dan mengejar layang-layang yang putus. Hassan-lah yang selalu tahu kemana layang-layang yang putus tersebut akan jatuh. Keduanya sudah seperti saudara, persahabatan mereka terukir di sebuah pohon kering, tempat Amir membacakan cerita-cerita uttuk Hassan.

Masalah datang ketika harus berhadapan dengan berandalan setempat, namun keberanian Hassan selalu menolong mereka berdua. Kemenangan Turnamen layang-layang yang seharusnya menjadi momen indah masa kanak-kanak, memulai retaknya persahabatan mereka. Bukan karena pertengkaran memperebutkan layang-layang, namun hal lain yang lebih complicated.

Gw kira emang akan menjadi sebuah kisah persahabatan biasa dengan intrik-intrik pertengkaran yang sering dilihat di film-film sejenis, hahaha nampaknya gw selalu banyak menerka film di 10 menit awal. Nyatanya film ini mengisahkan kisah persahabatan yang luar biasa dan bisa menginspirasi yang menonton. Sisi lain persahabatan dengan konflik-konflik batin ditambah sedikit setting sejarah tentang Afghanistan. Film yang overall menarik untuk ditonton kedua-ketiga-dan keempat kalinya.

——————————-
Rating 3.5/5

3 thoughts on “My Review is Sucks: The Hidden Fortress, Bowling for Columbine & The Kite Runner

  1. film pertama n kedua gw ga tau…
    tapi film yang ketiga, gw baca bukunya and ntn filmnya..
    manteeeeeeeb… tapi emang bagusan bukunyaa…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s