My Review is Sucks: Good Bye Lenin!, No Man’s Land & Transformers: Revenge of the Fallen

Goodbye Lenin!

On the evening of October 7, 1989 several hundred people got together for some evening exercise and marched for the right to go for walks without the Berlin Wall getting in their way. ~Alexander Kerner

Ingat dengan cerita Malin Kundang? berkisah tentang anak yang dikutuk karena durhaka kepada ibu kandungnya sendiri, akhirnya si anak ini menjadi batu. Boleh dibilang kisah di film yang akan gw review ini tentu saja bertolak belakang dengan cerita Malin. Sebaliknya disini, si anak rela melakukan apa saja untuk ibunya. Si anak mencoba memperlihatkan kecintaan terhadap ibu kandungnya dengan cara yang tidak biasa.

Berlatar belakang Jerman Timur pada masa perang dingin, sebelum jatuhnya tembok Berlin, Good Bye Lenin! menceritakan Christiane Kerner (Katrin Saß), seorang wanita yang mempunyai dua orang anak, Alexander (Daniel Brühl) dan Ariane Kerner (Maria Simon). Orang tua tunggal yang harus mengurus kedua anaknya seorang diri setelah berpisah dengan suaminya. Christiane juga adalah warga negara yang setia dengan Jerman Timur, seorang sosialis yang mengabdikan dirinya untuk negaranya.

Kehidupan sehari-seharinya dia isi dengan menjadi guru, mengajar musik dan lagu-lagu wajib Jerman Timur. Di rumah, dia aktif membantu siapa saja yang memerlukan bantuan. Sedangkan anak-anaknya, Alex dan Ariane tumbuh tanpa seorang pamor ayah disamping mereka. Seorang ayah yang lari ke wilayah Jerman Barat bersama wanita lain, seperti itulah kira-kira Christiane  menjelaskan kenapa ayah mereka pergi.

Perayaan 40 tahun Jerman Timur, dengan parade militer di jalanan, poster dan bendera dimana-mana, hari itu mengawali segalanya. Sekelompok demonstan turun kejalan pada malam harinya. Mereka adalah orang-orang yang anti dengan tembok Berlin, yang menyuarakan penolakan mereka adanya tembok yang memisahkan antara Jerman Timur dan Barat. Alex ada diantara mereka, ikut serta dalam demonstrasi. Polisi pun datang untuk menghadang, dengan kekerasan mereka yang berdemo terpaksa kocar-kacir. Mereka yang tertangkap dipukuli dan dibawa dengan mobil polisi. Nasib buruk menimpa Alex dua kali, seperti sudah jatuh tertimpa tangga, dia tertangkap dan dia melihat ibunya diseberang jalan. Ibunya pingsan di jalan.

Christiane, yang ketika itu dalam perjalanan pulang, tidak sengaja melihat Alex yang dipukuli oleh polisi dan ditangkap. Mencoba mendekati anaknya yang dibawa polisi, dia terkena serangan jantung dan tergeletak di jalanan. Alex hanya bisa melihat dan tidak bisa melakukan apapun. Setelah dibebaskan dari penjara, Alex langsung menuju rumah sakit, hanya untuk mendapati kalo ibunya dalam keadaaan koma.

Dalam keadaan koma, Christiane ibunda Alex, melewatkan begitu banyak hal penting berhubungan dengan Jerman. Runtuhnya tembok Berlin, bersatunya Jerman Barat dan Timur, lalu diikuti oleh mulai masuknya kapitalisme barat ke negara tersebut. Apa yang akan terjadi ketika nantinya seorang wanita yang dulunya sangat setia kepada Jerman Timur, tiba-tiba mendapati negaranya sudah berubah. Apa yang akan Alex lakukan?

8 bulan kemudian, Christiane sadar dari koma, Alex sadar harus melakukan sesuatu untuk ibunya. Mengingat kondisi ibunya yang apabila terlalu kaget, bisa memacu serangan jantung kedua kalinya, dan mungkin saat itu bisa mengakibatkan kematian. Untuk melindungi ibunya, Alex terpaksa tidak memberitahu apa yang terjadi dengan negaranya sekarang. Alex mesti menutupi Jerman yang baru dari ibunya sendiri.

Apa yang akan dilakukan Alex? sebaiknya ditonton sendiri. Bagaimana cara Alex memanipulasi Jerman yang sekarang sudah berubah dari ibunya dan tentu saja kita sebagai penonton, disitulah cerita berkembang sangat begitu menarik. Disamping itu kita bisa melihat tokoh Alex, yang dibawakan oleh Daniel Brühl dengan sangat baik, berubah dari peran anak yang pemberontak menjadi semakin dewasa. Lambat laun, Alex sepertinya mempelajari arti hidup dari proses melindungi ibunya, mengurusnya, dan lain-lain.

Kecintaan terhadap ibunya-lah yang membuat dia harus berbohong setiap hari. Walau terkadang saudaranya, kekasihnya, dan temannya sendiri tidak mendukungnya idenya, dia tetap melakukannya asal itu akan membuat ibunya tetap sehat. Hubungan yang erat antara Alex dan Ibunya tersebutlah yang membuat film ini sangat menyentuh. Plot yang terkadang juga disisipkan humor didalamnya, setidaknya membuat kita tersenyum melihat tingkah-laku Alex. Imajinasi yang dibangun oleh Alex untuk ibunya, tanpa sadar juga membuat gw masuk kedalam dunia yang dibuatnya. Dunia dimana dia bisa menyelamatkan ibunya.

Secara tidak langsung apa yang Alex imajinasikan dalam dunianya, itulah yang kita inginkan, kita hanya ingin melihat dunia ini damai, tidak ada keributan di televisi, itulah yang diciptakan Alex. Membangun dunianya sendiri untuk sang ibu tercinta. Sebuah ilusi tentang Jerman Timur yang masih hiduplah yang membuat ibunya tetap hidup. Lucu dan sekaligus tragis bagaimana Alex harus mempertahankan ilusinya tersebut, ketika dunia yang sebenarnya menjadi musuh bagi ilusi dan imajinasinya.

Film berdurasi 2 jam yang sayang untuk dilewatkan satu detik-pun, karena cerita yang begitu mengikat antara kesedihan, tragis, dan kelucuan terbalut jadi film yang menarik untuk ditonton sampai selesai. Nilai plus tambahan untuk sejarah yang menjadi setting film ini, menjadi pelajaran tersendiri tentang negara yang punya sejarah kelam. Gw juga salut dengan apa yang ada dibalik layar, Sang sutradara Wolfgang Becker dan kawan-kawan bisa menghidupkan kembali Jerman Timur dengan sangat detail.

Secara keseluruhan, film yang sudah mendapat banyak penghargaan di festival-festival film di eropa ini, memang wajib untuk ditonton. Tidak sia-sia pencarian gw selama ini, menunggu untuk bisa menonton film ini. Akhirnya terbayarkan dengan kepuasan. Selamat menonton.

——————————-
Rating 4.5/5

No Man's Land

Apa yang berhasil ditangkap di film ini adalah sebuah kisah perang yang digambarkan dari sisi-sisi yang berbeda. Film pemenang Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik ini, mencoba mengambil  sudut pandang lain dari sebuah perang yang didalamnya terdapat humor, kebencian, hidup dan juga kematian. Tanpa memihak kepada salah satu negara yang bertikai, Bosnia dan Serbia, film ini dapat dengan tulus menceritakan sedikit neraka yang bisa diakibatkan oleh perang.

No Man’s Land, diawali dengan sekumpulan pejuang Bosnia yang terjebak kabut tebal dan terpaksa menunggu pagi. Malang bagi mereka, sesaat setelah hilangnya kabut, Pasukan Serbia menyerang dengan gempuran tank dan rentetan senjata. Tak ada yang selamat dari serangan tak terduga tersebut kecuali satu orang, bernama Ciki. Walaupun dia berhasil jadi satu-satunya yang selamat dari maut, bukan berarti dia berada di zona aman. Dalam keadaan terluka dia kabur dari tempat yang merupakan perbatasan antara Bosnia dan Serbia tersebut.

Pelarian Ciki membawanya ke sebuah tempat perlindungan yang dibangun oleh pihak Serbia. Di tempat inilah cerita berlanjut, Ciki harus terjebak dengan rekan sesama Bosnia-nya bernama Cera, dan Nino, seorang tentara Serbia. Terjebak diantara pihak yang bertikai, dan tidak punya jalan keluar dari tempat tersebut membuat keadaan semakin tidak menguntungkan bagi mereka. Ditambah salah satu diantaranya,yaitu Cera, harus tetap  tidak bergerak, karena dia tertidur di atas sebuah ranjau.

Sebuah drama perang yang menyentuh, menegangkan, sekaligus menghibur. Sejarah sudah membuktikan perang adalah jalan satu-satunya yang paling konyol, hanya meninggalkan luka dan penderitaan. Film ini salah satunya, membawa misi untuk memperingatkan perang yang tidak ada gunanya. Walau hanya bercerita tentang tiga orang yang terjebak, dan konflik yang terjadi diantara mereka, apa yang terjadi pada mereka sudah cukup untuk menceritakan keseluruhan arti dari perang yang sesungguhnya. Apa yang mereka rasakan selama negara mereka Bosnia dan Serbia berperang dan apa yang dihasilkan.

Walau tidak ada adegan perang besar-besaran dan tidak menyuguhkan aksi bombardir yang dasyat, layaknya film-film perang lainnya. Film buatan Bosnia ini sudah cukup baik menyampaikan pesan anti-perangnya lewat cerita yang terjalin luar biasa. Pesan-pesan dalam yang juga diselipkan adegan humor tercipta oleh kelucuan-kebodohan dan ketakutan mereka. Secara keseluruhan film yang patut diacungi dua jempol ini, adalah film yang luar biasa powerful dan shocking, lucu dan juga menghibur, dibawakan dengan baik oleh ketiga aktor utamanya. Jadi amat-sangat direkomendasikan untuk ditonton. Enjoy!!!

——————————-
Rating 5/5

Transformers - Revenge Of The Fallen

Holy-mother-alien-robot!!! Totally entertaining!!! Starscream blow my mind out!!! Gw bukan kritikus yang pandai mencaci-maki film, sekaligus bukan orang yang pintar menilai film bagus atau jelek dari segi teknis dan bla-bla-bla. Klo soal bikin tontonan menghibur penuh dengan ledakan dan aksi laga yang dasyat, Michael Bay-lah orangnya, jadi gw nga ber-ekspektasi berlebihan untuk soal cerita. Tentu saja, sekali lagi, setelah gw dibuat terbengong-bengong-berhenti makan popcorn di film pertama. Kali ini Optimus dan kawan-kawan kembali menghadirkan suguhan yang amazing, gw amat-sangat-banget terhibur di film kedua ini.

Terlepas dari hiburan aksi para robot alien yang berhasil disajikan dengan porsi berlebihan ala Michael Bay, terselip juga kekurangan film ini. Cerita yang tidak konsisten dengan plot-nya nampak memaksa dan mengundang banyak keganjilan dan pertanyaan. Menurut gw juga ada beberapa adegan yang yang tidak penting dan membuat bosan, yah bosan menunggu pertarungan selanjutnya antara Autobots dan Decepticons.

Munculnya robot-robot baru dari kedua pihak yang berseteru, tentu saja lebih banyak dari pihak Megatron, membuat perang antara robot alien yang berasal dari planet Cybertron ini tambah menarik dan seru. Sayangnya adalah peran mereka jadi sedikit, cepat mati, ataupun hanya jadi bahan lelucon. Bisa dilihat dari peran Soundwave, Devastator, yang notabennya banyak orang termasuk gw sendiri punya ekspektasi lebih untuk aksi dua robot ini. Peran robot yang pernah hadir di film pertama juga jadi berkurang kecuali pemimpin para Autobots, Optimus Prime, yang masih jadi dominasi dan fokus cerita.

Sama halnya dengan rivalnya, Megatron dan Starscream juga masih diberi peran yang layak disini. Begitu juga dengan robot yang bertransformasi menjadi Camaro berwarna kuning, Bumblebee, dia masih memegang peranan penting. di film ini. Sedangkan Ironhide dan Rachet seperti dilupakan, padahal gw menunggu aksi lain dari robot spesialis senjata di Autobots ini. Pembagian jatah nongol di layar juga tidak datang dari sesama robot, karena para robot juga harus berbagi peran dengan ras manusia yang ikut berperang disini. Jadi memang kali ini dengan adanya tambahan robot baru berkesan terlalu banyak karakter dalam satu film.

Melirik ke belakang, seperti juga film pertama yang kadang membuat kita tertawa karena unsur komedi yang diselipkan. Film kedua juga tak kalah lucu, klo bisa dibilang, unsur-unsur humor di film ini lebih banyak ketimbang film sebelumnya. Kelucuan-kelucuan yang hadir tidak  hanya dari pemeran manusia tapi juga para robot, terutama dua robot kembar dan robot  “peliharaan” Mikaela, memang sangat menghibur dan membuat gw tertawa terbahak-bahak. Jelas klo film ini tahu dimana harus tahu menyelipkan komedi disaat dunia nampak segera berakhir lewat ancaman Decepticons.

Transformers: Revenge of the Fallen, yang kali ini berkisah tentang kebangkitan dan usaha pihak Decepticons untuk membalas dendam kekalahan mereka terdahulu terhadap musuh terbesarnya Autobots, sudah membayar dengan kepuasan rasa penasaran gw selama ini akan film ini. Kepuasan karena sudah terhibur walau gw harus pergi dari satu bioskop ke bioskop lain hanya untuk menonton di hari pertama.

Walau filmnya sendiri terdapat kekurangan sana-sini, bahan cercaan kritikus, dan plot hole dimana-mana, tapi semuanya gw rasa tertutupi oleh adegan-demi-adegan dasyat dari transformasi bentuk robotnya sampai pertarungan menegangkan yang kadang diselipi slow-motion dan angel yang ciamik. Adegan-adegan ciamik yang diselimuti efek-efek visual canggih tersebut makin luar biasa dengan tata suara yang makin menggelegar ditambah alunan score yang membangkitkan emosi dari Steve Jablonsky.

Gw amat sangat merekomendasikan film ini dengan poin jangan terlalu berharap anda dapat tontonan dengan cerita yang rumit dan serius karena sudah jelas film ini hiburan semata. Sang sutradara adalah orang dibalik film-film sukses yang bukan dinilai dari segi cerita complicated, sebaliknya formula yang diberikannya adalah cerita ringan dengan hiburan yang akan membuat pikiran anda meledak dengan sedikit sentuhan drama yang menyentuh. Seperti halnya film ini, sudah cukup bagi gw terhibur dari segi non-cerita dan gw akan menonton kedua kalinya karena hal itu. This is Starscream, All Decepticons Mobilize!!!!

——————————-
Rating 3.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s