My Review is Sucks: Heat, Shinjuku Incident, Shaun of the Dead & Pengabdi Setan

Heat

You know, we are sitting here, you and I, like a couple of regular fellas. You do what you do, and I do what I gotta do. And now that we’ve been face to face, if I’m there and I gotta put you away, I won’t like it. But I tell you, if it’s between you and some poor bastard whose wife you’re gonna turn into a widow, brother, you are going down. ~ Vincent Hanna

Heat merupakan film drama-kriminal yang rilis pada tahun 1995. Ditulis dan disutradarai oleh Michael Mann, dibintangi oleh Al Pacino dan Robert De Niro.  De Niro berperan sebagai pencuri profesional bernama Neil McCauley, sedangkan Al Pacino berperan sebagai Vincent Hanna, seorang detektif veteran kepolisian Los Angeles. Neil yang merupakan mantan napi dan ahli dalam mencuri ini beraksi dalam pencurian sebuah “armored car” bersama rekan seprofesinya termasuk Chris Shiherlis (Kilmer) dan Michael Cheritto (Sizemore). Walau tidak berjalan sesuai rencana, karena berakhir dengan kematian 3 penjaga mobil tersebut, mereka berhasil membawa kabur hasil curian senilai 1,6 juta dolar. 

Vincent Hanna, bertugas dalam menyelidiki pencurian yang dilakukan Neil dan kru-nya. Vincent telah dikenal sebagai top detektif di divisinya yaitu pembunuhan dan pencurian. Vincent dan tim-nya pun tidak mau tertinggal jauh, segera bekerja untuk menangkap Neil dan kawan-kawannya. Sedangkan dilain pihak, Neil rupanya sedang mengatur rencana pencurian lainnya, kali ini besar. Pencurian bernilai 12 juta dolar dengan target sebuah bank. Neil yang pintar dan cerdik akan menemui tandingannya yaitu Vincent, bagaikan pemburu dan mangsa-nya, Vincent dan Neil akan saling mengatur siasat masing-masing untuk saling menjatuhkan.

Film ini betul-betul luar biasa, sebuah drama tentang polisi dan pencuri yang menurut gw adalah yang terbaik. Kita ditawarkan action dan ketegangan dengan tensi yang tetap terjaga selama 3 jam. Bukan hanya ketegangan  dengan visual menarik dari adegan “perang” di jalanan, penuh tembak-tembakan. Namun juga, Mann berhasil membawa ketegangan dengan level  setara lewat adegan restoran, yang kali ini tanpa senjata.

Dua adegan terbaik di film ini yang membuat  tidak ada sedikitpun rasa bosan walau dengan durasi film bisa dibilang “melelahkan”. Ditambah dengan storyline yang bagi gw tiada dua-nya, bagi gw ini adalah film Michael Mann yang terbaik dan enjoyable. Cerita yang digarap dengan begitu bagus, memfokuskan kepada kedua karakter utama di film ini. Tidak hanya melihat dari sisi pekerjaan, seorang polisi yang mengejar penjahat atau pencuri yang berusaha lari dari polisi. Kita juga akan dibawa melihat kedalam seluk-beluk kehidupan pribadi masing-masing karakter. Keluarga, kekasih, sahabat, musuh menjadi sebuah variasi cerita yang akan membuat kita goyah dalam menentukan siapa bad guy dan siapa good guy.

Neil dan Vincent, dua karakter yang diperankan dengan apik dan ciamik oleh dua aktor legendaris Robert De Niro dan Al Pacino, telah berhasil menyita perhatian gw sejak menit-menit awal film ini. Tidak hanya karena akting mereka yang tidak perlu lagi diragukan dalam hal totalitas, tapi pertemuan De Niro dan Al Pacino yang memang patut untuk ditonton karena jarang-jarang mereka bisa bertemu dalam satu film. Dalam The Godfather II mereka memang ada di satu film, namun tidak pernah bertemu dalam satu adegan. Film “reuni” terbaru mereka, Righteous Kill, berhasil mempertemukan lagi dua pria yang sudah tidak muda ini, namun sayangnya film ini tidak begitu bagus terkesan hanya memajang nama besar Al dan De Niro.

Secara keseluruhan, ini adalah film yang patut untuk ditonton bagi mereka yang menyukai crime-drama ala Michael Mann. Bagi mereka yang rindu akan duo Al Pacino dan Robert De Niro, dengan akting terbaik mereka, ini adalah film yang 100% gw rekomendasikan. Tidak masalah dengan durasi yang lama, satu hal yang pasti, gw tidak pernah bosan menonton film ini. Adegan-adegan memorable di film ini membuat gw ingin kembali menontonnya. Enjoy!!! Bang! Bang! Bang!

——————————-
Rating  4.5/5

Shinjuku Incident

Shinjuku Incident menjadi menarik karena didalamnya ada aktor jago kungfu, bernama Jackie Chan. Tapi tunggu dulu, hal menarik dari film ini bukan karena Jackie kembali memperlihatkan aksi beladirinya. Sebaliknya di film ini dia berperan sebagai orang yang sama sekali tidak bisa berkelahi, walaupun terdapat scene perkelahian, itu bukan karena karakter yang diperankan Jackie adalah jagoan tapi semata-mata bermodalkan keberanian sedikit nekat juga sih hehehe. Agak lucu juga melihat akting Jackie yang berbeda disini, yang biasanya jago pukul sana-sini, malah selalu kena pukul dan kena sial. Kenyataannya itulah yang membuat film ini menjadi magnet tersendiri, penasaran bagaimana sih seorang Jackie Chan bisa bertahan tanpa kungfunya.

Jackie Chan disini berperan sebagai Steelhead, seorang imigran gelap berasal dari China yang harus bertahan hidup di rumah barunya yaitu Jepang. Hidup seadanya bersama teman-teman satu komunitas di daerah Shinjuku dan bekerja serabutan demi bisa mengisi perut. Apa saja mau dikerjakan olehnya dari mencuci di sebuah bar sampai mengais-ngais sampah di lorong bawah tanah. Steelhead pun lama-lama mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya, bisa sedikit berbahasa Jepang, diajarkan cara berbisnis yang walaupun ilegal tapi menghasilkan banyak uang dan selalu membantu rekan-rekannya sesama orang China. Tidak jarang dia harus berurusan dengan geng setempat karena harga diri dan teman-temannya diinjak-injak. Kehidupannya akan segera berubah ketika pada suatu saat dia menyelamatkan seorang bos yakuza.

Gw selalu suka film bertema kehidupan, bagaimana seseorang bertahan hidup dari kerasnya kehidupan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari film-film semacam ini. Dari film ini saja, gw selalu akan mengingat janganlah lupa siapa diri kita sebelumnya ketika nantinya kita sukses. Istilahnya jangan sampai seperti kacang lupa kulitnya. Gw juga selalu suka film-film yang didalamnya ada unsur geng-geng-an, apalagi di film ini ditampilkan geng-geng lokal sampai yakuza. Tentu saja elemen terkuat film ini adalah dari segi ceritanya, digarap dengan baik dan cukup menyentuh dengan dramanya. Akting serius Jackie Chan tanpa berkelahi di film ini memang betul-betul menarik. Sekali lagi gw bisa bilang ini adalah film yang bagus, drama kehidupan yang tidak terlalu berlebihan, enjoyable untuk ditonton.

——————————-
Rating  3/5

Shaun of the Dead

We take Pete’s car, we drive over to Mum’s, we go in, take care of Philip – “I’m so sorry, Philip” – then we grab Mum, we go over to Liz’s place, hole up, have a cup of tea and wait for this whole thing to blow over. ~ Shaun

Brilliant Movie!! Zombie dengan bumbu komedi adalah suatu penemuan yang jenius hahahahahaha. Duet maut Simon Pegg dan Nick Frost memang layak untuk ditonton tak terkecuali di film ini, aksi kocak-aneh-lucu ala British mereka tak pernah membuat bosan. Plus mereka memadukan kekonyolan dengan Pub dan juga sekumpulan zombie, maka lengkaplah sebuah film yang membuat tertawa sekaligus merinding pada waktu yang bersamaan. Nampaknya film ini bisa dibilang pionir dalam genre serupa yakni zombie-comedy. Nyatanya film yang sebenarnya juga mem-parodikan Dawn of the Dead ini, hadir sebagai tontonan alternatif genre zombie-horror diantara film-film pure zombie minus comedy. Bagi gw sendiri, film ini adalah cult-nya zombie-comedy.

Shaun of the Dead, menceritakan kehidupan seorang Shaun (Simon Pegg) yang mulanya biasa-biasa saja. Kehidupan sehari-harinya diantaranya berkumpul di sebuah bar lokal di kota London, bernama Winchester. Bersama dengan pacarnya Liz (Kate Ashfield) dan kedua temannya David (Dylan Moran) dan Dianne (Lucy Davis), serta tak ketinggalan teman satu rumah Shaun yaitu Ed (Nick Frost). Sedangkan di tempat dimana Shaun tinggal, selain Ed, ada satu teman lagi bernama Pete yang tidak akur dengan kedua teman serumahnya. Begitulah cerita dibalik Shaun, Selain itu hubungannya dengan Liz juga tidaklah baik-baik saja dan Shaun benci dengan pekerjaannya sebagai salesman di sebuah toko elektronik.

Cerita mulai berkembang aneh, Shaun mulai merasakan sesuatu akan atau sedang terjadi. Surat kabar mulai memuat berita-berita tentang serangan, seseorang pingsan di halte bis, dan televisi melaporkan lebih banyak lagi serangan. Di tempatnya bekerja, Shaun bertemu dengan ayah angkatnya Philip, hubungan mereka tampak tidak akur. Philip datang untuk mengingatkan Shaun untuk datang menjenguk ibunya. Shaun melihat kejadian yang aneh lagi, ketika sedang membeli bunga untuk ibunya. Seorang sedang mencoba memakan burung sampai akhirnya menghilang ketika sebuah bis lewat. Dalam perjalanan pulang pun, Shaun terpaksa turun dari bis karena terjadi kecelakaan disebabkan seseorang pingsan didalam mobilnya.

Cerita berlanjut dengan Shaun yang kehilangan Liz, karena lupa memesan tempat di restoran favoritnya. Shaun yang patah hati pergi ke Winchester dan berkumpul dengan Ed, menghabiskan malam di tempat itu dengan mabuk-mabukan. Kejadian aneh kembali muncul, sesosok manusia mengetuk-mengetuk jendela bar dan bersuara aneh. Ketika pulang pun tanpa disadari oleh Shaun dan Ed, yang ketika itu sedang mabuk, melihat seorang wanita tampak berciuman. Padahal itu adalah zombie-wanita yang sedang memakan seorang pria. Dengan bodohnya, Shaun dan Ed sempat-sempatnya mengolok-olok seorang pria yang juga zombie.

Keesokan paginya, seperti hari-hari sebelumnya, Shaun pergi ke toko untuk membeli minuman dan es krim untuk Ed, namun ada yang berbeda dengan pagi ini. Shaun belum menyadari jika sekelilingnya sudah berubah, semua orang sudah berubah menjadi zombie, jalanan berantakan, kaca-kaca mobil pecah, dan banyak mayat bergelimpangan. Shaun yang dalam keadaan setengah sadar belum menyadari fenomena ini, sampai pada akhirnya seseorang wanita berada di halaman belakang rumahnya. Wanita tersebut ternyata sudah menjadi zombie dan muncul zombie lainnya. Shaun dan Ed baru menyadari kalau mereka berada di tengah serangan zombie dan mulai mencari cara untuk menyelamatkan diri. Bagaimana nasib Liz dan temannya? bagaimana nasib teman mereka Pete yang sebelumnya terkena gigitan seseorang? dan juga bagaimana Shaun menyelamatkan kedua orangtuanya?

Satu setengah jam, gw dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh aksi kedua orang konyol Shaun dan Ed di film ini. Bayangkan mereka berdua melempari zombie dengan barang-barang seadanya. Lalu ide bodoh lain muncul, dengan setumpuk piringan hitam, mereka mencoba membunuh dua zombie di halaman belakang. Dungunya, mereka memilah-milah terlebih dahulu, jika album tersebut langka, mereka akan menyimpannya dan jika tidak barulah dilempar ke arah zombie. Hahahahaha dan belum tentu kena tepat sasaran ke arah kepala zombie, yang membuat mereka mati. Adegan tersebut salah satu adegan favorit gw di film ini ditambah dengan aksi-aksi konyol mereka yang tiada duanya dalam upaya menyelamatkan diri, teman dan keluarga.

Secara keseluruhan, film ini jelas menghibur. Dalam urusan membuat tertawa nama Simon Pegg dan Nick Frost, adalah jaminan anda pasti dibuat sakit perut. Lihat saja kekompakan mereka dalam berbuat konyol di film berikutnya Hot Fuzz dengan sutradara yang sama yaitu Edgar Wright. So, direkomendasikan untuk penggemar film zombie yang ingin tidak hanya melihat darah dan isi perut tapi juga aksi kocak. Bagi pecinta komedi-komedi ala British, this movie juga definitely for you. Enjoy!! Shoot them in the head!!!

——————————-
Rating  4/5

Pengabdi Setan

Totally serem!!! inilah satu diantara beberapa film horror yang berhasil membuat gw ketakutan dan mengalami mimpi buruk setelah selesai menontonnya. Film buatan tahun 1982 ini memang pintar menakut-nakuti gw sewaktu masih SD dulu. Indonesia memang terkenal jago-nya membuat film horror sejak dulu, sebut saja Malam Satu Suro dan film-film yang dibintangi ratu horror Suzzana atau film Bayi Ajaib yang bagi gw super-menyeramkan. Bagi gw film-film horror jaman dulu tetep yang terbaik.

Memang jika kembali melirik film-film itu sekarang, dengan kesederhanaan cerita yang cenderung klise kadang juga memaksa, tidak lagi menjadi tontonan yang istimewa. Apalagi dengan efek-efek yang diciptakan terkadang cukup menggelikan dibandingkan dengan film-film horror zaman sekarang. Namun ada yang tidak akan pernah berubah, tidak ada yang pernah bisa mengalahkan atmosfir kengerian film-film horror nan klasik ini. Gw nga pernah lagi merasakan hal yang sama ketika menonton film-film horror zaman sekarang, termasuk Jelangkung yang notaben-nya masih jadi horror modern Indonesia terbaik menurut versi gw. Gw rindu ditakut-takuti film horror Indonesia.

Pengabdi Setan atau Satan’s Slave, bercerita tentang sebuah keluarga yang mengalami kejadian-kejadian aneh, tepatnya setelah kematian satu dari anggota keluarga mereka. Setelah kepergian Ibunya tersebut, Anak laki-laki di keluarga tersebut mulai berprilaku aneh diikuti dengan kemunculan kembali arwah ibunya yang baru saja meninggal. Kemunculan sosok wanita misterius yang berkerja sebagai pembantu rumah tangga makin menambah keanehan yang melanda di rumah tersebut. Sejak saat itu peristiwa-peristiwa di luar akal sehat manusia alias mistis mulai menyelimuti kediaman keluarga ini. Segala daya upaya dilakukan untuk membuka tabir misteri dirumah itu, sayangnya sebelum pintu misteri sempat terbuka, kematian demi kematian menjemput lebih dahulu.

Atmosfir kengerian dan ketakutan seperti pada saat menonton film inilah yang selama ini gw rindukan di film-film horror Indonesia. Walau tidak dipungkiri juga, plot yang dihadirkan di film ini belum bisa dibilang sempurna. Masih banyak kekurangan disana-sini dari segi ceritanya. Seperti juga film-film serupa pada zamannya, efek yang dipakai juga tidak-lah secanggih sekarang, bisa dimaklumi karena ini film lama. Tapi jelas efek tersebut tidak mengurangi ke-seraman menonton film ini. Begitu pula dari segi akting yang diperlihatkan oleh aktor dan aktrisnya, masih terlihat begitu kaku dan kurang dalam memerankan perannya masing-masing.

Tapi sekali lagi dari segala kekurangan yang ada dari film yang dulu sempat menjadi sumber mimpi buruk gw ini, tidak sedikitpun mengurangi suasana seram yang dibangun dari awal sampai akhir film. Ada beberapa adegan yang cukup -memorable- sebagai adegan paling seram dari film ini. Cukup bisa terhibur untuk bernostalgia dengan film yang bagi gw adalah film “cult” Indonesia untuk genre horror. Jadi untuk anda pecinta horror dan rindu film-film horror yang membuat anda menutup mata, film ini bisa jadi pilihan anda. Enjoy!

——————————-
Rating  3/5

2 thoughts on “My Review is Sucks: Heat, Shinjuku Incident, Shaun of the Dead & Pengabdi Setan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s