My Review is Sucks: V for Vendetta, Leon & Prison on Fire

V for Vendetta

Voilà! In view, a humble vaudevillian veteran, cast vicariously as both victim and villain by the vicissitudes of Fate. This visage, no mere veneer of vanity, is a vestige of the vox populi, now vacant, vanished. However, this valorous visitation of a by-gone vexation, stands vivified and has vowed to vanquish these venal and virulent vermin van-guarding vice and vouchsafing the violently vicious and voracious violation of volition. The only verdict is vengeance; a vendetta, held as a votive, not in vain, for the value and veracity of such shall one day vindicate the vigilant and the virtuous. Verily, this vichyssoise of verbiage veers most verbose, so let me simply add that it’s my very good honor to meet you and you may call me V. ~ V

“Remember, remember the 5th of November…” terus terngiang-ngiang di pikiran setelah menonton film ini, yup gw akan selalu mengiingat tanggal itu hehehe. Film ini bener-benar memacu emosi gw untuk turut serta dalam aksi yang dilakukan si tokoh utama, sebuah kebebasan adalah suatu yang berharga dan patut untuk diperjuangkan. Gw merasa iri dengan orang-orang yang memakai kostum topeng serba hitam di film ini, sumpah ini adalah salah satu kostum “pembela kebenaran” yang paling keren menurut gw. Cerita film ini juga tidak kalah kerennya dengan kostum si pria bertopeng yang namanya hanya disingkat menjadi huruf “V” ini. Sebuah eksplorasi cerita yang menarik dengan memaksimalkan pembangunan dua karakter utama film ini.

Jelas kalau film ini jadi salah satu tontonan favorit sepanjang masa for me. Gw adalah penggemar superhero/pahlawan bertopeng/pembela kebenaran yang kental dengan nuansa kegelapan ataupun bisa dibilang punya sisi gelap dalam dirinya. Sebut saja Spawn dan Hellboy, tak ketinggalan juga dalam daftar adalah Batman, yang akhir-akhir ini mulai suka karena 2 film terakhirnya, sebelumnya gw nga pernah suka si manusia kelelawar ini. Back to karakter V, kecocokan gw dengan si biang teroris menurut pihak berwenang ini, sudah dimulai sejak menit-menit awal film. Muncul dari lorong yang gelap dan mulai beraksi dengan pisau berkilau-nya plus sedikit mengeluarkan kata-kata sakti sudah jadi jaminan seterusnya film ini bakal bagus. Toh nyatanya film ini memang bagus. Fantastic!!

V for Vendetta, bersetting-kan Inggris di masa depan yang mendekati keadaan suram dalam arti dibawah kepemimpinan yang otoriter. Dibalik “topeng” dalam rangka membasmi teroris, pemerintahan diktator terpilih mengisi gedung parlemen dibawah pimpinan kanselir Adam Sutler (John Hurt) untuk menyelamatkan negara dari para teroris ini. Satu-satunya masalah adalah rakyat menjadi terbelenggu oleh berbagai peraturan, memenjara mereka dengan ketakutan, merenggut kebebasan mereka atas nama “selamat” dari pihak teroris. Pemerintahan pun berubah menjadi kejam, korupsi,  dan alat untuk menindas rakyat. Jam malam mulai diberlakukan, Tak boleh ada musik, hal-hal seperti itu diperparah dengan dibentuknya polisi-polisi barbar berkedok penegak keadilan bernama Fingerman. Rakyat memerlukan seseorang untuk membebaskan mereka.

Didasarkan oleh niat balas dendam pribadi, munculah seorang yang misterius bernama William Rookwood (Hugo Weaving) untuk tampil sebagai pembebas atas tirani ini. Berpakaian serba hitam dengan topeng “Guy Fawkes” untuk menutupi wajahnya, “V’ itulah sebutan untuk dirinya, memulai misinya untuk menghancurkan pemerintahan yang kejam ini, dan membawa kembali  sebuah keadilan yang telah lama hilang dari negaranya.

Dalam upaya serangan pertamanya yaitu menghancurkan sebuah gedung bernama The Old Bailey, V secara kebetulan menolong seorang wanita yang diganggu oleh polisi rahasia “Fingerman”.  Evey (Natalie Portman), wanita yang ditolong V, kemudian diajak untuk menonton aksinya merayakan hari 5 November. Tanggal ini sendiri dipilih untuk menghormati tanggal di mana Guy Fawkes melakukan aksi peledakkan gedung parlemen Inggris pada abad ke-17 yang gagal—kisah mengenai Guy Fawkes sendiri adalah kisah yang nyata terjadi. Dimulai dengan alunan musik karya Tchaikovsky’s yakni 1812 Overture, lalu diikuti dengan ledakan yang meluluh-lantahkan gedung pengadilan tinggi tersebut. Maka dari situlah V memulai petualangan heroiknya.

Wachowski bersaudara yang sebelumnya sukses dengan trilogi The Matrix, berhasil membawa cerita yang boleh disebut puisi terbalut ledakan, yang luar biasa bagus ke layar lebar. Bersama dengan James McTeigue, yang juga pernah bekerjasama dengan kedua bersaudara itu lewat The Matrix Trilogy sebagai asisten sutradara. James kembali diberi tugas yang kali ini  malah sebagai sutradara. Mereka pada kenyataannya berhasil membuat film yang didasarkan novel grafis karya Alan Moore dan David Lloyd menjadi sebuah mahakarya yang akan meledakkan otak anda dengan “kembang api” dalam artian plot yang meledak-ledak.

Formula cerita dengan gaya yang unik dengan penokohan yang khas dan kuat pada dua tokoh utamanya V dan Evey adalah elemen kuat film ini. Ditambah dengan dialog-dialog cerdas berbalut keindahan, seolah kita mendengar puisi lewat kata-kata yang dikeluarkan oleh V. Gw sendiri terkesima alias jatuh cinta dengan tokoh V ini jika sedang berbicara. Suara Hugo Weaving memang cocok sebagai V, sangat berat namun berwibawa dan terkesan kelam. Peran Hugo walau tidak diperlihatkan wajah dan rautnya karena tertutup topeng, namun bisa terlihat bagus lewat suaranya dan gerak-geriknya sebagai pembela kebenaran bertopi lebar ini. Sedangkan untuk Natalie Portman sendiri, sangat-sangat mendalami sekali perannya sebagai “pembantu” sekaligus “pewaris” ide dari V. I Love Natalie di film ini, sampai-sampai mengunduli kepalanya.

Secara keseluruhan, apa yang ditawarkan film ini dari aksi memukau V dengan pisaunya, ledakannya, dialog puitisnya, sampai dengan pesan-pesan moral didalamnya, menjadikan film ini sebuah tontonan yang lengkap dan menarik. Apalagi ending yang menurut gw Amazing!!! membuat gw ingin membenturkan kepala gw layar televisi. Yah mungkin bagi yang suka dengan film “superhero” dengan tema tidak biasa dan cerita sedikit berat, akan cocok menonton film ini. Remember, remember… ya untuk menonton film ini. Enjoy!!!

——————————-
Rating  4.5/5

Leon The Professional

Wow. How about this: I work for you; in exchange, you teach me how to clean. Hmmm? What do you think? I’ll clean your place, I’ll do the shopping, I’ll even wash your clothes. Is it a deal? ~ Mathilda

Leon : The Professional mengisahkan tentang Mathilda (Natalie Portman), seorang anak perempuan berumur 12 tahun, hidup tertekan dan tidak bahagia dengan keluarganya. Dia membenci kakak perempuannya yang tidak pernah mau mengalah, hanya persoalan Mathilda yang ingin menonton film kartun saja. Kakaknya sampai memukulnya karena mengganggu acara senam yang sedang ditonton. Ibunya sepertinya tidak pernah lagi peduli, bekerja adalah prioritas utamanya. Sedangkan ayahnya lebih parah lagi, selalu “ringan tangan”, membuat wajah gadis cilik ini selalu tersisa bekas memar. Hanya adik laki-lakinya yang masih berumur 4 tahun saja yang membuat Mathilda bertahan di keluarga yang tidak lagi sayang dengannya. Tinggal menunggu waktu saja hingga dia menemukan orang yang betul-betul disayangi dan menyayangi balik. Takdir sepertinya akan segera menjawab.

Pada suatu hari, Norman Stansfield (Gary Oldman), seorang polisi bermuka dua, mendatangi kediaman Mathilda untuk bertemu lagi dengan ayahnya. Namun malang bagi keluarga tersebut, Stansfield mempunyai niat buruk pada hari sial itu. Dengan membawa beberapa anak buahnya, penjahat berkedok anggota DEA ini pun berencana tanpa ampun menghabisi seluruh keluarga Mathilda. Alasannya karena sang ayah, mencuri obat-obatan terlarang milik Stansfield, dan tidak mengakuinya. Maka berterbanganlah peluru di rumah nan asri tersebut dan bersarang di tubuh sang Ibu yang sedang mandi, sang kakak yang berlarian ketakutan, dan juga sang Ayah yang mencoba berontak. Biadabnya, Standsfield juga membunuh sang adik yang mencoba melarikan diri. Beruntung Mathilda tidak berada di rumah, dia sedang belanja dan membeli susu untuk tetangga satu apartemen dengannya. Tetangganya bernama Leon (Jean Reno).

Leon yang dari awal mengintip dari balik pintu, tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa melihat sekilas apa yang sedang terjadi. Mathilda yang baru saja kembali, hanya bisa terdiam, shock dengan apa yang terjadi. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia berpura-pura terus berjalan menuju tempat Leon melewati Ayahnya yang sudah tergeletak tak bernyawa. Standsfield dan anak buahnya belum menyadari mereka menyisakan satu anggota keluarga lagi. Mathilda yang ketakutan dan menahan tangis, mencoba berharap Leon membukakan pintu agar dia bisa selamat. Sampai pada akhirnya Leon menyelamatkan gadis yang membawakan susu ini dengan membiarkannya masuk. Mathilda pun selamat.

Sejak saat itu, hidup keduanya akan berubah. Leon yang sebenarnya adalah seorang pembunuh bayaran dan hal ini akhirnya diketahui oleh Mathilda, tidak mau terus diikuti oleh gadis yang masih ingusan. Hal ini bisa mengganggu pekerjaannya, Lalu bagaimana Leon mengatasinya? apalagi Mathilda yang tampaknya tidak mau lepas dari pahlawannya itu. Bagaimanakah mereka berdua yang terpisahkan jaraknya oleh umur bisa hidup berdampingan? Apa Leon akan mengusirnya? Apa Mathilda dapat membujuknya dengan segelas susu? Bagaimana dengan Standsfield?

Minum susu ah!! supaya jadi hitman yang hebat kaya Leon hehehehe. Kisah seorang pembunuh bayaran dan imigran dari Itali yang menyukai tiga hal ini : membunuh, tanaman, dan susu, sudah membuat gw jatuh cinta dengan film ini. Film besutan sutradara asal Perancis ini bener-bener menawarkan hal yang baru dari segi cerita, karakter, dan angel-angel kamera yang unik. Luc Besson berhasil membuat gw terus menatap ke layar selama hampir 2 jam, mengikuti jalan cerita yang dibuat sedemikian menarik, tidak terbesit pikiran merasa bosan dan makin penasaran dengan bagaimana endingnya. Adegan demi adegan dibangun dengan matang dan cerdas, emosi yang tercipta berhasil mengikutsertakan gw kedalam filmnya.

Tak ada adegan dan akting yang menurut gw sia-sia di film ini. semuanya menyatu, menyempurnakan film ini dengan baik. Film ini berjalan natural, enak untuk diikuti, dan tanpa melebih-lebihkan emosi yang ada di setiap adegannya. Luapan kekesalan, amarah, sedih, ingin balas dendam, dicoba untuk dibuat se-manusiawi mungkin. Yah film ini memang sangat-amat menguras emosi penontonnya, itu yang gw rasakan. Selain menguras air mata…eh nga kok, film ini nga terlalu sedih bagi gw, bukan tipikal film cengeng. Action yang ditawarkan juga tidak berlebihan, cukup untuk bisa  memaksimalkan inti cerita yang ada. Banyak momen memorable yang bisa disaksikan di film ini, momen-momen yang terkadang seksi, indah dan juga berseni. Huhuhu film ini memang menyuguhkan banyak kenikmatan.

Film buatan tahun 1994 ini, menghadirkan Portman kecil sebagai Mathilda yang aktingnya sungguh luar biasa. Membuat orang normal seperti gw mungkin akan menjadi pedofil, karena jatuh cinta dengan Mathilda kecil ini. Pesonanya di film ini sungguh menggoda, entah Portman yang masih anak ingusan ini belajar darimana untuk terlihat seperti itu. Pokoknya salut deh untuk akting si gadis bertubuh mungil yang kelak berperan sebagai Queen Amidala di film Star Wars I: The Phantom Menace. Ngomong-ngomong gw dari kemaren nonton film tanpa disengaja, ada Natalie Portman terus nih (Heat, V for Vendetta, dan Leon). Tokoh Leon sendiri yang diperankan oleh Jean Reno, menurut gw tampil maksimal dan sama “menggoda” dengan keahliannya membunuh targetnya.

Overall, film yang layak untuk ditonton. Sebuah petualangan dan pengalaman yang unik di dunia yang dibentuk Luc Besson, dimana cinta tidak mengenal usia dan pekerjaan seseorang, cinta adalah sebuah anugrah yang universal. Dengan cinta kita bisa hidup dan tanpa cinta, hidup ini tidaklah layak diperjuangkan. Begitulah kira-kira pesan yang nyangkut setelah menonton film ini. Enjoy!!! EVERYONE!!!

——————————-
Rating  4.5/5

Prison On Fire

Suka sekaligus rindu, itulah motif gw untuk menonton film hongkong yang satu ini. Pernah beberapa kali menonton di televisi dan vcd, wah udah lama banget klo mencoba untuk diingat lagi. Film-film hongkong seperti ini dan sejenisnya yang mempunyai elemen geng, triad, polisi korup, penjara brutal, dan peran utama yang mesti survive sendiri, selalu seru untuk ditonton lagi. Gw sendiri penggemar film-film hongkong jadul. Setelah sekian lama nga nonton film kekerasan dan perkelahian gaya hongkong yang unik, akhirnya bisa nonton lagi lewat DVDnya yang secara kebetulan ternyata ada, langsung aja beli, seperti menemukan harta karun.

Prison On Fire (Gam yuk fung wan), berkisah tentang Lo Ka Yiu yang masuk penjara karena kasus pembunuhan. Pria yang nantinya punya nomor 51910 di penjara ini, tidak sengaja membunuh seorang berandalan setelah membuat onar di toko ayahnya dan melukainya. Di dalam penjara, Yiu tidak punya teman, dan harus beradaptasi sendiri dengan lingkungan penjara yang asing baginya. Sampai suatu saat, dia bertemu dengan Ching untuk pertama kalinya di ruang perawatan. Diawali dengan sedikit kesalahpahaman, lambat laun mereka menjadi teman, saling membantu satu sama lain.

Ching yang lebih dahulu berada di penjara tersebut, sudah hafal dengan seluk-beluk penjara beserta isinya, berusaha membimbing Yiu yang agak “besar mulut” dan merasa dirinya benar serta terlalu jujur. Kejujuran Yiu pun sering kali membuat mereka berdua mendapat masalah dari penghuni penjara lain. Namun keteledoran Yiu tersebut, tidak membuat Ching marah, persahabatan mereka tetap terjaga. Sampai pada akhirnya mereka akan berurusan dengan salah-satu pimpinan geng di penjara tersebut, dan jadi musuh bebuyutan. Tidak sampai disitu, persahabatan mereka pun diuji oleh kepala penjara yang dikenal keras. Bagaimanakah nasib mereka berdua? Selamatkah mereka berdua di penjara ini?

Film ini punya kisah yang seru dengan setting tempat penjara yang brutal, sering terjadi perkelahian geng yang berakhir rusuh. Cerita yang tidak terlalu berbelit-belit dan fokus bagaimana usaha Yiu dan Ching selamat dari penjara itu dengan cara mereka sendiri. Gambaran penjara Hongkong disini pun divisualisasikan dengan baik. Penjara yang digambarkan penuh kekerasan, peruh intrik diantara para narapidana, dan penjaga yang korup selalu mengambil keuntungan untuk kepentingannya. Namun walau begitu, masih ada sisi-sisi cerah di film ini, ada beberapa narapidana yang juga baik, penjaga pun ada yang baik di film ini. Jadi tidak semua di film ini ditampilkan jahat. Film tahun 1987 ini juga menampilkan akting terbaik para pemerannya.

Chow Yun Fat, bermain apik sekali sebagai Ching, teman yang siap sedia membantu. Aktingnya bervariasi disini, dari biasa saja, humoris, sampai berpenampilan sangar ketika marah dan berkelahi. Film-film lama Chow Yun Fat yang juga terkenal dengan si dewa judi ini memang selalu bagus. Tak salah klo aktor yang sudah membintangi puluhan film ini, menurut gw, adalah salah satu aktor mandarin terbaik. Tony Leung sebagai Yiu, juga berperan bagus dan bisa mengimbangi akting Chow, mereka jadi duo yang klop di film ini. Ditambah Kepala Penjara si muka codet, yang diperankan oleh Roy Cheung, yang juga berperan meyakinkan sebagai orang yang keras. Overall, this is absolutely A-Movie-You-Must-Watch. Film lama yang patut ditonton apalagi penggemar film hongkong. Film bagus!!! Enjoy!!!

——————————-
Rating  4/5

3 thoughts on “My Review is Sucks: V for Vendetta, Leon & Prison on Fire

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s