My Review is Sucks: The Host & Man on Fire

You wouldn’t know it, but he was a really smart kid. For example, when he was two, he’d sit in front of the village store, and everyone walking by would ask him directions. That’s how smart he looked. As you know, when he was young, I was out of my mind, hardly ever coming home, staying out all night. And this poor boy with no mother, he must have been so hungry. Going around, doing seo-ri all the time. Raising himself an organic farm. Whenever he got caught, he’d get beaten up. In this way, he lacked protein when he needed it most. So that’s why, every now and then, he dozes off like a sick rooster. I think something up there ~ Park Hie-bong

Tidak terlalu berekspektasi dan memang tidak dapat bocoran film apa yang akan ditayangkan di “Surprise Movie” pada perhelatan akbar Jiffest 2006, malah membawa gw ke dalam momen keberuntungan, terbukti akhirnya gw justru jatuh cinta “pada pandangan pertama” dengan film asal Korea Selatan ini. Menonton kembali, toh tidak membuat bosan. Sebaliknya setiap kali melihat tingkah laku keluarga Park di film ini, gw pribadi seperti dibawa kembali ke awal dimana gw menonton untuk pertama kalinya. Tawa masih menghiasi setiap adegan-adegan lucu yang terselip ataupun sengaja di hadirkan film ini. This movie simply become my favorite monster-movie of all time.

The Host (Gwoemul) dibuka dengan kenyataan pahit, sebuah adegan yang memperlihatkan betapa bodohnya seorang dokter Amerika menyuruh rekan seprofesinya yang kebetulan orang Korea, untuk membuang bahan-bahan kimia berbahaya ke dalam wastafel. Alasannya sesederhana kebodohan itu sendiri, hanya karena botol-botol cairan kimia tersebut sudah berdebu dan dia tidak menyukai debu. Puluhan botol yang dikosongkan ini pun menjadi saksi akan kebejatan ulah manusia yang nantinya manusia sendirilah yang akan menerima konsekuensi dari ulah mereka, yang sayangnya berdampak pada orang yang tak bersalah.

Beberapa tahun kemudian, di sebuah pinggir sungai tempat dimana orang biasa menghabiskan waktu untuk rekreasi, piknik, dan berkumpul dengan keluarga, dibuat terkejut dengan sebuah makhluk yang menggelantung di sebuah jembatan. Semua orang bertanya-tanya apakah itu? termasuk seorang pria bernama Gang-Du, anak dari pemilik stand makanan dan minuman di tempat tersebut. Belum habis rasa penasaran orang-orang yang melihat, tiba-tiba makhluk itu menjatuhkan dirinya ke dalam air. Gang-Du dengan polosnya melempari bayangan mahkluk itu di sungai dengan sekaleng bir. Lalu, semua orang ikut melempari dengan berbagai macam barang yang ada ditangan mereka.

Merasa terusik, binatang yang diperkirakan orang-orang adalah semacam lumba-lumba dari amazon ini pun menghilang ke dalam sungai. Namun ternyata mahkluk yang kemungkinan adalah monster hasil dari mutasi tercemarnya sungai muncul ke permukaan, mengamuk dan mengejar setiap orang yang ada dihadapannya. Gang-Du segera berlari menyelamatkan diri bersama ratusan orang yang sedang panik, lari kocar-kacir kesana-kemari. Keberanian Gang-Du muncul ketika harus menyelamatkan orang-orang yang terjebak, dia pun terpaksa berhadapan dengan monster berbentuk ikan tersebut walau ketakutan setengah mati. Tapi sayangnya, dia bukan lawan seimbang dengan monster itu, jadi dengan kesadarannya dia lebih memilih lari ke keluarganya dan menyelamatkan anaknya Hyun-Seo.

Tragisnya, Gang-Du gagal menyelamatkan anak perempuannya itu, sang monster yang kembali ke sungai berhasil membawa Hyun-Seo. Setelah mengira anaknya telah tiada, Gang-Du hanya bisa pasrah, keluarganya pun hanya bisa menangisi kepergian keponakan sekaligus cucu tercintanya itu. Kemalangan sepertinya belum berpindah dari Gang-Du dan keluarga, karena diperkirakan telah melakukan kontak langsung dengan monster, mereka dibawa untuk dikarantina. Pemerintah dengan sigap menutup-nutupi tragedi ini dengan mengatakan ini adalah serangan virus yang sama seperti SARS. Orang-orang yang diduga terjangkit pun dipaksa dikarantina dan diteliti oleh pihak pemerintah. Di saat kebingungan melanda keluarga Park atas apa yang mereka hadapi, Hyun-Seo yang diduga telah tewas menelepon mereka. Harapan pun timbul kembali untuk mencari dan menyelamatkan Hyun-Seo, tetapi sekarang bagaimana cara mereka keluar dari karantina pemerintah?

Ceritanya begitu komplit, film ini berhasil meramu dengan apik elemen horor, action, drama, serta komedi menjadi satu paket tontonan sempurna. Sutradara Joon-ho Bong berhasil mentransfer visinya ke dalam sebuah film dengan sangat baik, mengesekusi jalan cerita yang tidak membosankan, mengemas adegan demi adegan menjadi satu kesatuan yang solid. Alur cerita yang ditawarkan pun dibuat sedemikian rupa agar penonton dapat dengan lembut mencerna kisah di film ini, bukan malah membuat kita pusing seperti pemerintah yang bingung menghadapi sang monster. Semua dibuat semaksimal mungkin disini, untuk memuaskan penontonnya.

Drama yang tercipta dari kisah Gang-Du dalam usahanya memperjuangkan nasib anaknya yang “diculik” oleh monster sungai tersebut, perlahan namun pasti dapat mengambil simpati kita para penontonnya untuk bersama berharap Hyun-Seo dapat ditemukan dan selamat. Walau dengan penokohan yang dibuat tolol, Gang-Du lambat-laun menebarkan pesona heroiknya dengan kesederhanaan pemikiran dan keputusannya. Sesekali kita juga akan dibawa terharu oleh adegan menyentuh Gang-Du dan keluarganya, namun dengan cepat pula kita akan dibuat tertawa dengan tingkah dan ekspresi mereka dalam menghadapi tragedi ini. Semua pemancing tawa tersebut terselip dari awal hingga akhir film, bersamaan dengan upaya penyelamatan Hyun-Seo dan usaha pemerintah untuk menangani kasus “virus” ini.

Black comedy memang membawa kesegaran tersendiri dalam film ini, kadarnya tidak lebih dan juga tidak kurang, pas memberi rasa manis dalam kisah yang sebenarnya horor ini. Ketika kita lupa akan monster yang begitu menakutkan karena tertawa, seketika itu pula intensitas ketegangan dibawa kembali naik. Spesial efek sungguh mempercantik keseluruhan film ini, sang “lumba-lumba dari amazon” menjadi semakin nyata dan menakutkan. Adegan-adegan action-nya tak ubah seperti kejadian yang sebenarnya bukan hanya rekayasa. Semuanya berkat kerja maksimal dalam membuat detail sosok monster dan segala pendukungnya.

Para pemainnya bermain dengan total, maksimal menyatu dengan cerita yang sudah disajikan dengan baik. Ketegangan lanjut dengan ketegangan berikutnya semakin menular kepada kita lewat akting-akting pemainnya yang natural seakan mereka semua adalah korban yang sebenarnya. Terutama peran Gang-Du, yang hampir mendominasi menjadi pencuri perhatian disini dengan kebodohan, keteledoran, dan ketololannya, namun tak melupakan sikap kepahlawanan seorang ayah yang mencintai anaknya dan akan melakukan apa saja demi sang anak. Ah-sung Ko juga bermain apik dalam memerankan Hyun-Seo yang tetap tegar dalam kurungan sang monster.

Secara keseluruhan, Film The Host tampil sebagai juara dalam bertutur-kata menyampaikan kisahnya kepada penonton. Membiarkan kita untuk asyik berpetualang bersama keluarga Park dan terhibur dengan drama serta horor yang disajikan dengan menarik. Film yang tidak membosankan walau ditonton berulang-ulang. Apakah sang monster akan kembali di The Host 2? yang rencana sedang dalam proses pembuatan. Mari menunggu bersama dan semoga masih dalam jalur yang benar, tidak mengecewakan dan lebih baik dari pendahulunya. Enjoy!!!

——————————-
Rating  4.5/5

Man On Fire

That’s what everybody keeps saying. “I’m just a professional”. Everybody keeps saying that to me. “I’m just a professional”, “I’m just a professional”. I’m getting sick and tired of hearing that. ~ John Creasy

Penculikan sedang merajalela di Mexico City, menginfeksi masyarakatnya dengan kepanikan diantaranya para orang tua dari keluarga yang kaya raya. Tidak ingin anak mereka jadi korban penculikan, para orang tua pun banyak yang mempekerjakan seorang bodyguard. Tak terkecuali keluarga seorang pengusaha kaya di kota itu, Samuel Ramos (Marc Anthony), dia dan istrinya Lisa ingin anaknya terlindungi dari kejahatan yang bisa kapan saja menghampiri keluarga ini. Maka dengan bantuan Paul Rayburn (Christopher Walken), seorang kepala sebuah perusahaan “security”, dia menyarankan Keluarga Ramos untuk menyewa teman lamanya di CIA yaitu John Creasy (Denzel Washington).

Terkesan dengan background John Creasy yang mantan anggota CIA dan militer, Samuel dan istrinya tanpa pikir panjang lagi akhirnya setuju untuk mempercayakan perlindungan dan keamanan anaknya Pita Ramos (Dakota Fanning) yang berumur 9 tahun kepada bodyguard barunya tersebut. Creasy yang masih terbebani oleh masa lalunya dan kecanduannya terhadap minuman keras, sedikit mempengaruhi prilakunya walau begitu dia tetap fokus pada pekerjaannya dan berusaha profesional. Awal perkenalannya dengan Pita memang tidak begitu baik, Creasy terkesan acuh terhadap anak yang di lindunginya itu. Padahal Pita sendiri baik-baik ingin mencoba berteman dengan bodyguard barunya itu.

Waktu pun berbicara, lambat laun bersamaan dengan membaiknya kondisi batin Creasy, luntur juga sikap acuhnya terhadap Pita. Hubungan mereka semakin membaik dari hari ke hari. Pita sendiri memanggil boneka beruang kesayangannya dengan nama “Creasy Bear” dan menulis betapa sayangnya dia dengan bodyguardnya itu di buku hariannya. Selain mengantar-jemput Pita ke sekolahnya, Creasy juga mengajarkannya menjadi perenang yang tercepat. Tidak sia-sia berlatih di rumah setiap hari, Pita pun dapat membuang rasa takutnya dan menjadi pemenang pertama.

Creasy yang mulai menganggap Pita seperti anaknya sendiri, tampaknya harus merelakan momen bahagianya dirusak oleh para penculik. Segala upaya untuk melindungi Pita tidak berhasil yang ketika itu sedang berlatih piano dan Creasy menjaga dari luar. Para penculik datang dan berusaha merebut Pita yang baru keluar, Creasy dengan sigap memuntahkan peluru dari senjatanya untuk menggagalkan upaya penculikan tersebut. Namun sayangnya upaya mati-matian Creasy gagal, dia kehilangan Pita. Dengan luka tembak di tubuhnya, Creasy pun ambruk di tempat kejadian. Apakah Creasy tewas? Bagaimana dengan Pita?

Gw selalu cocok dengan film-film Denzel Washington, tak terkecuali dengan film arahan Tony Scott kali ini, berjudul Man on Fire. Aktor yang hingga saat ini sudah mengkoleksi 2 Oscar ini selalu saja bisa memukau gw dengan akting maksimalnya yang biasanya juga didukung dengan film-film yang punya cerita bagus. Ciri khas filmnya yang selalu saja bisa mengajak emosi gw untuk ikut membaur ke dalam film juga masih hadir di film ini. Faktor lain yang membuat gw menyukai film ini adalah temanya. Balas dendam tanpa ampun yang diusung film ini toh menjadikan film ini semakin menarik bagi gw.

“Creasey’s art is death. He’s about to paint his masterpiece.” kutipan pembicaraan Rayburn tersebut ternyata ada benarnya. Karena Creasy dengan keahlian mematikannya benar-benar memberikan pesan kepada musuh-musuhnya kalau dia bukanlah orang sembarangan dan jangan pernah cari masalah dengan orang ini. Tanpa kenal ampun, seperti diperlihatkan Creasy di film ini, dia akan menghalalkan segala cara dan mengorbankan apa saja bahkan dirinya sendiri untuk meraih apa yang diinginkannya.  Hebatnya dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Film ini bisa diartikan sebagai balas dendam dengan cara yang manis. Tentu saja manis versi Creasy. Penuh dengan ledakan, peluru, darah.

Film yang merupakan remake film dengan judul yang sama pada tahun 1987 ini berhasil dengan baik menceritakan kisah drama berbalut action namun juga bisa mengharukan di beberapa adegan yang memang disiapkan untuk memancing emosi penonton. Tony Scott memang tahu cara mengemas film bertema balas dendam ini menjadi sebuah tontonan yang menarik sekaligus menghibur dengan adegan-adegan “kepahlawanan” Creasy sepanjang film. Didukung dengan plot yang tidak bertele-tele dan fokus pada cerita utama. Selain Denzel yang tampil apik seperti yang sudah-sudah, pemain lain juga bisa mengimbangi sang tokoh utama dengan bermain bagus, terutama Dakota Fanning dengan aktingnya yang “mind-cathing”.

Jadi tidak salahnya menonton lagi kisah menarik ini di lain waktu, gw sendiri entah sudah berapa kali sudah menonton film ini. Faktor pendukung Denzel, Dakota, dan tema balas dendam sudah cukup jadi alasan gw menjadikan ini film favorit gw. Selalu menunggu film-film Denzel selanjutnya. Enjoy!!!

——————————-
Rating  4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s