JIFFEST 2009: Mammoth

Leo Vidales (Gael García Bernal) mengadakan perjalanan ke Thailand bersama rekannya untuk sebuah penandatanganan kontrak bisnis setelah permainan berbasis onlinenya sukses di Amerika. Sedangkan istrinya, Ellen (Michelle Williams) harus tetap tinggal di New York bersama dengan anak perempuannya yang berumur 8 tahun bernama Jackie. Tiba di Bangkok, Thailand, Leo terpaksa menunggu dengan penuh ketidakpastian ketika rekannya harus membuat kesepakatan tentang “uang” terlebih dahulu dengan perusahaan di Thailand tersebut. Leo merasa bosan dan selalu  bercerita kepada istrinya yang sekarang berada jauh darinya. Dia merasa asing dan tak nyaman dengan hotel mewah tempat dia menginap dan segala fasilitas yang seharusnya bisa membuatnya rileks dan memanjakan diri selama ada di Thailand. Seorang pemijat perempuan yang dia tolak misalnya, “kemewahan” sungguh membuatnya tersiksa dan dia ingin sekali pergi dari hotel tersebut.

Kembali ke New York, Ellen yang sibuk sebagai dokter bedah di sebuah rumah sakit dan harus selalu siaga 24 jam, harus merasakan tekanan batin seorang ibu ketika dia tidak lagi merasa dekat dengan anaknya. Sebaliknya anaknya malah semakin dekat dengan seorang pengasuh bernama Gloria, yang berasal dari Filipina. Kedekatan itu membuat hati seorang ibu macam Ellen pun cemas karena merasa tidak lagi diperlukan oleh sang anak. Ellen pun menjadi sulit tidur dan pekerjaannya jadi sedikit terganggu dengan masalah ini. Selagi sang ibu punya masalahnya sendiri, begitu pula dengan Gloria, dia harus pasrah meninggalkan dua anaknya yang masih kecil di Filipina untuk mencari uang di Amerika. Gloria menitipkan anak-anaknya bersama dengan neneknya, walau sering berkomunikasi, anak-anaknya terutama yang paling besar selalu ingin sang Ibu kembali. Gloria tidak bisa melakukan itu dan kembali ke Filipina, alasan yang sering dia utarakan setiap kali menelepon anaknya adalah dia ingin anak-anaknya bisa sukses, uangnya juga akan dipakai untuk membangun rumah agar mereka semua bisa hidup lebih baik.

Leo semakin tidak kerasan di tempatnya sekarang, maka dia memutuskan untuk pergi dan mencari tempat lain yang bisa membuatnya tidur nyenyak. Dia pun segera memberitahu rekannya bahwa dia akan pergi, karena dia sudah terlalu bosan dan butuh “jalan-jalan”. Maka di pun pergi dengan pesawat lalu meneruskan dengan mobil, hingga sampailah dia ke sebuah penginapan sederhana di pinggir pantai. Di tempat inilah, Leo mulai betah sambil sesekali bermain di laut, pergi ke bar untuk minum-minum. Tetapi masalah akan segera muncul dengan suasana “nyaman” yang semakin merasuk kedalam diri Leo ketika dia yang pada waktu itu jauh dari sang istri dan keluarga. Di tengah penantiannya akan kesepakatan bisnis, Leo mulai mencari-cari hiburan di sekitar tempatnya menginap. Dia pun bertemu dengan teman baru yang mengajaknya ke sebuah tempat hiburan malam yang mereka rekomendasikan. Di tempat ini, Leo bertemu dengan seorang gadis lokal yang bekerja sebagai “penghibur”. Walau tidak terjadi apa-apa dengan mereka, namun pertemuan yang sebentar itu, mulai mendekatkan mereka berdua. Apa yang akan terjadi dengan Leo? Lalu bagaimana dengan Ellen yang semakin merasa jauh dengan anaknya? Apakah Gloria juga akan tetap tinggal di Amerika ketika anak-anaknya sangat membutuhkan kehadiran seorang Ibu?

Lukas Moodysson sepertinya tahu bagaimana harus bercerita tanpa harus berbelit-belit dan berbasa-basi. Terbukti lewat debut film berbahasa Inggrisnya yang pertama ini, dia mampu berbicara banyak tentang kehidupan yang ditempatkan berbeda dari karakter satu dan yang lainnya. “Mammoth” seakan mengajarkan kita bahwa hidup memang penuh dengan sebuah pilihan yang tidak seharusnya kita biarkan begitu saja, hanya menunggu untuk memilih dan membiarkannya membusuk juga bukan hal yang terbaik. Karena ketika keputusan itu tak pernah kita ambil, maka hak kita untuk memilih akan direbut oleh sebuah konsekuensi. Konsekuensi yang biasanya baru akan menyadarkan kita dan membuat kita menyesal karena terlambat untuk mengambil keputusan yang tepat. Baik dan buruknya sebuah konsekuensi itu diperlihatkan dengan jelas di film yang berdurasi 125 menit ini, lewat kehidupan keluarga yang berbeda namun punya inti masalah yang sama yaitu “jarak”.

Semua bermula dari “jarak”, hubungan yang terpisahkan entah itu sejengkal ataupun ribuan meter jauhnya, pada akhirnya akan bisa menimbulkan masalah yang juga beragam bentuknya. Lukas mengemas film ini juga lewat masalah-masalah yang timbul dari jarak yang memisahkan setiap karakternya yang kompleks. Leo dan Ellen terpisah jarak ribuan kilometer, walau terlihat tidak terjadi apa-apa dengan hubungan pernikahan mereka, namun masalah ternyata timbul dari masing-masing individu walau belum ke tahap merusak hubungan mereka. Ellen pun punya masalah serius dengan anaknya, walau tinggal serumah, namun jarak keintiman “ibu dan anak” terasa semakin renggang. Gloria yang juga terpisah dengan anak-anak, semakin tidak tenang dengan anak-anak yang membutuhkan ibunya untuk ada disamping mereka. Film ini bisa menangkap setiap kegelisahan, kekhawatiran, dan kebingungan para karakternya dengan baik sejalan dengan begulirnya film dari menit ke menitnya. Kesederhanaan film ini pun memperlihatkan niat baik para karakternya untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dan berupaya memperbaiki kesalahan yang sudah mereka perbuat.

Walau terlihat begitu kompleks dengan karakternya dan setiap masalah yang hinggap pada mereka, namun film ini tidak mencoba membawa film ini ke konflik yang lebih dalam lagi atau setidaknya membawa sebuah konflik yang lebih membuat penonton tercengang. Sebaliknya dari awal, film ini menceritakan kisahnya dengan pola yang datar-datar saja, walau timbul konflik-konflik yang mengganggu namun cerita masih terasa datar dan tidak memuncak, seperti tak ada klimaks yang membuat film ini seharusnya bisa lebih baik. Lukas sepertinya lupa menambahkan bumbu penyedap lain kedalam filmnya dan asyik dengan racikan yang rasanya manis, pedas-pedas sedikit itu. Film pun berakhir tanpa kesimpulan yang mengejutkan, masih dengan pola datarnya film ini mencoba mengambil keputusannya sendiri. Kejutan-kejutan yang mengakhiri film ini memang terasa ada yang kurang, namun begitulah Lukas menginginkan semua berakhir. Mungkin memang seperti inilah khas film dari sutradara asal swedia ini.

Dengan kekurangan yang dimiliki film ini, setidaknya film ini masih menarik untuk ditonton dengan akting yang cukup pas dibawakan setiap pemainnya. Walau tidak cemerlang, tetapi setiap karakternya masih bisa membaur dengan ceritanya. Porsi untuk mendalami setiap karakter di film ini juga tidak kurang tidak berlebihan, semua dibagi rata, tetapi tetap berfokus pada tokoh utama tentunya. Secara keseluruhan film ini masih tampil baik menceritakan drama kehidupan dengan masing-masing masalah yang menghampiri dan upaya setiap karakter untuk memperbaikinya. Lukas juga dengan baik bisa menjaga tempo filmnya dan mengurung mood film ini untuk tidak lepas dari sangkarnya. Jika ada yang menanggap film ini membosankan, itu adalah kesalahan besar, film ini justru menarik dengan variasi nilai moralnya yang bisa kita petik, menyadarkan arti sebuah keluarga, dan dengan tidak muluk-muluk berani bercerita tentang kehidupan.

Rating: 3.5/5

2 thoughts on “JIFFEST 2009: Mammoth

  1. salam kenal ya, blognya bagusss! saya link ya! senang bisa ketemu dengan moviegoers lain,
    saya nonton Mammoth di Jiffest kemarin dan saya suka ceritanya, spirit Jiffest banget film2 seperti ini,
    setuju banget sama reviewnya

    1. makasih udah mampir2 kesini…
      thanks udah taruh linknya di blognya🙂

      jiffest tahun ini banyak film2 model “depressing” kaya gini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s