My Review is Sucks: Tony

You’re not a criminal, you’re a soldier, you’re gonna die like a soldier, You’re no soldier, you’re a fly on a pile of shit ~ Tony

Siapa Tony? Siapa dia? Semua yang nantinya menonton film ini, pasti akan bertanya-tanya hal yang sama, menanyakan eksistensi seorang manusia “spesial” bernama lengkap Tony Benson ini. Well, London mungkin mengacuhkan keberadaan Tony, tapi tidak dengan kita yang mengikuti kemana arah kakinya melangkah. Ketika dia berjalan-jalan menelusuri hiruk pikuk kota London di siang hari tak ada yang memperhatikannya, atau sepinya pagi sewaktu semua orang baru saja ingin melahap sarapan mereka bersama keluarga, tak ada yang mau diajaknya berbicara. Tony berada di sana diantara peradaban modern yang mencampakkannya, menuruti takdir kosong, mengunyah kehampaan, dan meneguk kesendirian. Tony seperti biasa pada hari itu berjalan sendiri, misinya hari demi hari sama, dia mencari teman untuk diajak bicara. Tony hobi sekali menonton film-film action “oldskool”, maka dia mengajak bicara seorang yang sedang menjajakan DVD, padahal dia tidak punya player untuk memutarnya. Tony hanya ingin di respon, tapi yang didapatnya hanya hening, sang penjual sama sekali tak menghiraukan kehadiran Tony disebelahnya. Tony memang agak “terbelakang” tapi dia bukan orang idiot, dia hanya sedikit aneh, sulit bersosialisasi, dan tidak punya pekerjaan. Seburuk itukah?

Tony nyatanya memang berbeda dari kebanyakan orang normal, tapi itu justru tidak memberikan nilai buruk pada laki-laki yang tinggal sendiri di sebuah apartemen ini. Tunggu saja sampai anda melihat siapa dia sebenarnya, baru anda bisa memberikan nilai yang pantas untuknya. Pertanyaan tentang “siapa Tony” sedikit terkuak ketika dia pada akhirnya bertemu dengan orang yang mau “berteman” dengannya. Teman barunya adalah dua orang pecandu, yang mengajak Tony bersama mereka karena telah membantu memberi uang receh untuk menelepon. Setelah diajak kesana-kemari, mereka berakhir di kediaman “home sweet home” Tony. Dua pecandu ini bersiap untuk pesta narkoba, Tony pun ingin mencoba apa yang mereka hirup, namun tak diberi kesempatan. Walau sudah berbaik hati dan bersikap sewajar-wajarnya, namun itu tidak menutupi sudut pandang para “junkie” ini untuk beranggapan Tony is a weirdo, jadi kenapa tidak dimanfaatkan.

Sebelum itu terjadi, Tony beraksi terlebih dahulu. Ketika dua pecandu ini sedang “high”, Tony menutupi salah satu dari mereka yang sebelumnya bersikap “not nice” kepadanya, dengan sebuah plastik. Membalut penuh kepala si pecandu dan mengikat bagian lehernya dengan perekat, supaya tak lagi berkutik dan kehabisan udara. Tony tidak membunuh pecandu lainnya, dengan muka pucat seperti hantu dia memperingatkannya, jika di rumah ini dialah yang berkuasa dan jangan membuatnya marah. Tony pun membebaskan satu orang pecandu ini setelah sebelum berhasil keluar dari sekapannya sambil berteriak melihat temannya sudah kaku tak bernyawa. Dibalik “keluguan” dan “kepolosan” Tony, ternyata dia menyembunyikan seorang monster dibalik jiwanya. Tak banyak yang akan mengira bahwa sesungguhnya orang yang bertampang kikuk, dengan kacamata besar dan berkumis ini bisa menyimpan “nafsu setan” dikantong celananya selama ini. Pertanyaan awal tentang identitas yang sebenarnya sudah terjawab, sekarang pertanyaan berikutnya adalah, siapa korban Tony selanjutnya?

Sweet!! Gerard Johnson terbukti mampu menyajikan kisah tentang serial killer dengan begitu “manis” lewat karakter bernama Tony. Balutannya yang serba minimalis justru bisa tampil maksimal menghadirkan sesuatu yang menghibur dari pola cerita yang dapat dibilang orisinil ini. Gerard dengan bujet yang tidak terlalu tinggi, berhasil membungkus rapih film ini menjadi tontonan yang kaya rasa. Dari segi plot, film ini memang tidak terlalu banyak memberikan kejutan, namun skema kejutan yang disiapkan sudah cukup mengisi 70 menit durasi film ini, layaknya hiburan klub gay yang mengisi kekosongan hari-hari membosankan kehidupan Tony. Selain kejutan kalau ternyata Tony adalah seorang pembunuh, ini bukan kejutan lagi toh, karena sinopsis pun sudah membeberkan siapa Tony dan film ini pun menceritakan tentang serial killer. Jadi Gerard punya misi khusus membuat penontonnya shock ketika se-serial killer apa sih Tony ini? dan ternyata memang cukup membuat jantung ini terhentak. Walau jika dilihat dari sudut pandang kaca mata penyuka slasher atau film-film pembunuh berantai film ini akan menjadi biasa, tapi jika melihat kalau semua “ketidaknormalan” ini datang dari seorang dengan balutan pria dungu, maka film ini akan jadi luar biasa menggelitik naluri kemanusiaan kita.

Gerard juga cermat memilih pemainnya, dan tak salah memasangkan film ini dengan akting Peter Ferdinando yang ajaib di setiap adegannya. Pria “bodoh” yang dicaci maki karena melihat istri orang ini, dilakonkan dengan cemerlang oleh Peter. Aktingnya sangat natural, kita akan mudah tertipu dengan penampilan Tony yang old fashion ini dan juga kembali diperlihatkan akting yang memukau ketika Tony membuka pintu ke jiwanya yang lain. Peter benar-benar telah memerankan sosok pembunuh yang punya “teman” tidur ini dengan berbeda, punya gayanya sendiri, menyegarkan sekaligus menakutkan. Tokoh utama yang sangat mendukung keseluruhan cerita yang menggambarkan dengan baik atmosfir “bagaimana rasanya sendiri”. Gerard sekali lagi tahu cara mengemas film ini untuk bisa unik dari film lainnya. Alurnya memang dibuat berjalan lambat, tapi hey! sepertinya Gerard punya maksud dan tujuan mulia untuk membuat kita ikut merasakan kebosanan yang dibebankan kepada Tony. Maka alurnya yang pelan-pelan mengganggu ini sukses mengajak kita ke dunia Tony yang psycho, percayalah alurnya yang lambat tidak punya pengaruh atau mengurangi kenikmatan menonton film ini. Secara keseluruhan film ini sukses menyajikan kisah dan karakter yang unik, bosan dengan film yang itu-itu saja, maka mungkin film ini bisa jadi pilihan selanjutnya…enjoy!

Review: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s