My Review is Sucks: Alice in Wonderland

I’m afraid so. You’re entirely bonkers. But I’ll tell you a secret. All the best people are. ~ Alice Kingsley

Alice Kingsley (Mia Wasikowska) datang ke sebuah pesta bangsawan yang sebenarnya sangat tidak dia sukai, karena memang sudah kewajiban dan paksaan ibunya, Alice hanya bisa pasrah. Alice yang baru saja kehilangan ayahnya, akhirnya mengetahui bahwa pesta yang diadakan teman ayahnya tersebut diperuntukan untuknya, di pesta itu Alice akan dilamar. Alih-alih menjawab iya atau tidak pada lamaran Hamish (calon suaminya), Alice justru melarikan diri untuk mengejar kelinci putih lengkap dengan rompi. Sampailah Alice pada sebuah lubang besar dimana kelinci tersebut masuk kedalamnya. Kebetulan, disengaja, atau takdir, Alice pun terperosok masuk kedalam lubang yang ternyata sangat dalam ini. Ketika sampai di dasarnya, Alice menemukan dia berada di ruangan yang aneh penuh dengan pintu. Saat mencoba membuka pintu-pintu yang ternyata terkunci ini, Alice akhirnya menemukan pintu yang ukurannya jauh lebih kecil dan membukanya (setelah mengambil kunci yang ada di sebuah meja). Sayangnya ukuran tubuhnya yang lebih besar dari ukuran pintu menghalanginya untuk masuk ke manapun pintu kecil tersebut tertuju. A-ha Alice akhirnya bisa mengecilkan tubuhnya berkat bantuan botol bertuliskan “drink me” dengan minuman ajaib didalamnya. Di balik pintu kecil tersebut, apa yang ditemukan Alice adalah sebuah negeri dongeng lengkap dengan hewan-hewan ajaib seperti kuda mainan yang bisa terbang dan juga bunga-bunga yang memiliki wajah dan dapat berbicara. Alice pun bertemu dengan kelinci putih yang dikejarnya.

Kelinci putih yang diketahui bernama “The White Rabbit” ini, menghampir Alice tidak sendirian melainkan bersama duo kembar Tweedledum dan Tweedledee, burung dodo bernama Dodo, dan seekor tikus yang berpakaian ala ksatria lengkap dengan pedang bernama Dormouse. Kelimanya berdebat hebat tentang apakah Alice yang dibawa oleh The White Rabbit adalah benar-benar “Alice” yang mereka cari. Alice pun kebingungan dengan tingkah pola para penghuni tempat yang dinamakan Underland ini, yang mengira Alice adalah Alice yang salah. Alice belum menyadari bahwa dia tidak sedang bermimpi, bahkan dulu sekali sewaktu berumur 6 tahun, Alice pernah mengunjungi Underland. Ketika perdebatan semakin sengit, Alice diputuskan untuk menemui Absolem, ulat berwarna biru dan sering merokok yang konon dikenal paling bijak. Namun Absolem sendiri pun masih kurang yakin tentang keaslian Alice, padahal Alice yang asli dipercaya akan membawa kedamaian di Underland. Hanya Alice yang bisa membunuh naga peliharaan Red Queen (Helena Bonham Carter) menurut ramalan. Sebelum semuanya jelas, tentara ratu yang berbentuk kartu berwarna merah menyerang dan menangkap semuanya, kecuali Alice. Ditengah pelariannya, Alice bertemu dengan Cheshire Cat, kucing yang bisa melayang dan menghilang. Kucing yang selalu tersenyum lebar ini pun berbaik hati menawarkan bantuan mengantar Alice menemui Mad Hatter.

Alice in Wonderland merupakan judul sebuah buku cerita terkenal yang dikarang oleh penulis asal Inggris bernama Charles Lutwidge Dodgson, alias Lewis Carroll. Kisah dongeng fantasi anak-anak yang diterbitkan pada 1865 ini sudah banyak diadaptasi ke dalam bentuk film, salah satunya oleh Disney, yang membuat film kartunnya pada tahun 1951. Tetapi yang paling menakjubkan adalah 100 tahun yang lalu, Alice untuk pertama kalinya muncul dalam medium film. Cecil M. Hepworth dan Percy Stow menyutradarai film tersebut pada tahun 1903. Bagaimana dengan tampilan Alice di masa sekarang lewat tangan seorang Tim Burton yang visioner? lihat saja karya-karya magisnya seperti “Edward Scissorhands”, “Sleepy Hollow”, “Beetle Juice” atau “The Nightmare Before Christmas” yang dia produseri. Well, Burton sepantasnya dijuluki seorang pesulap. Dia berhasil mengubah filmnya menjadi lahan bermain layaknya taman bermain, tentu saja kita tak luput diubahnya menjadi anak-anak. Kisah klasik Wonderland diserap masuk ke dalam otak Burton dan keluar menghasilkan kisah baru yang total penuh dengan fantasi. Burton tidak serta merta meledakkan daya imajinasi dan menghujani film ini dengan gaya filmnya yang sudah kita kenal, kelam dan menjurus didominasi unsur gothic. Kali ini dia justru membaurkan ciri ghotic-nya untuk bisa bercampur dengan warna-warna cerah ala film-film fairytale, hasilnya sebuah dongeng fantasi yang menakjubkan.

Visi liar Burton dalam menciptakan dunia Underland benar-benar menghipnotis, terima kasih untuk tidak men-spoiler semuanya di trailer, karena ternyata film ini jauh lebih indah dari apa yang dibayangkan. Pohon-pohon berbentuk melengkung dengan ranting-rantingnya yang unik, jamur yang bertebaran beraneka ragam bentuk dan berwarna-warni (menggemaskan untuk tidak menggigitnya), makhluk-makhluk fantasi yang menghuni berkeliaran kesana-kemari, dan keunikan lain yang bisa dilihat di film ini, berhasil menciptakan sensasi yang menggelitik syaraf-syaraf imajinasi untuk nantinya ikut masuk kedalam Underland. Burton menciptakan tribut-nya sendiri untuk Caroll lewat film yang rilis pada 4 Maret 2010 di Indonesia ini. Karakter-karakter unik yang menjadi ciri khas sutradara berambut ala Robert Smith ini juga ditularinya untuk “merakit” para penghuni Underland. Karakter-karakter seperti Tweedledum dan Tweedledee, Mad Hatter, atau Dormhouse, dan karakter lainnya tampil fantastis dengan masing-masing keunikannya serta sangat cocok dengan dunia fantasi disekitarnya. Dengan cerita adaptasi yang digodok oleh Linda Woolverton (Mulan, Lion King, Beauty and The Best), film ini hadir dengan cerita yang cukup bersahabat dan tidak muluk-muluk dibuat berlebihan dan memusingkan (apalagi bagi mereka yang tidak kenal cerita Alice ini). Tapi memang cukup disayangkan film ini seharusnya punya cerita yang bisa digarap lebih, entahlah untuk film yang disutradarai oleh Burton, Alice memang dirasa kurang memuaskan dari segi bercerita dengan plot yang kurang maksimal.

Kekurangan yang ada beruntung bisa ditutupi sekali lagi oleh visualnya dan juga oleh jajaran pemain yang bermain apik dalam melakonkan masing-masing karakternya di film ini. Sebut saja Helena Bonham Carter yang dari awal sudah mencuri perhatian dengan tindak tanduknya sebagai ratu yang sangat kejam. Helene (yang tak lain adalah istri Burton) dengan balutan Red Queen yang gemar memenggal kepala orang yang tidak disukainya ini, tampil luar biasa di sepanjang film, menampilkan mimik-mimik yang menghibur dengan bentuk kepala yang sangat besar itu. Akting, cara dia berbicara, dan teriakan-teriakannya tersebut, sukses memberi kesan Ratu yang pasti sulit disukai oleh rakyatnya dan juga menakutkan karena gampang sekali memberi perintah jahat ini-itu. Helena memang bermain “wonderful” di film ini, begitu pula dengan Johnny Depp sebagai Mad Hatter, bisa menandingi akting lawan mainnya Helena yang sudah beberapa kali bermain bersama dengannya (di film Tim Burton). Sayangnya untuk tokoh sentral Alice yang diperankan oleh Mia Wasikowska, penampilannya bisa dibilang tidak begitu gemilang, aktingnya justru biasa saja. Secara keseluruhan Alice in Wonderland adalah petualangan yang mengasyikan di dunia Underland, visual yang menghibur mata, tidak lupa memberikan kisah yang menyenangkan ala dongeng anak-anak (walau terdapat kekurangan dari sisi cerita). Film ini juga mengajarkan dengan baik  sikap “ksatria” lewat sisipan moral cerita, dimana kita ada baiknya menghadapi masalah seberapa buruk dan seberapa tidak mungkinnya masalah tersebut, sebaliknya jangan lari dari sebuah masalah. I love Alice in Wonderland, Enjoy!

Rating: 4/5

2 thoughts on “My Review is Sucks: Alice in Wonderland

  1. jujur si jauh dari yang diharapkan…..kuciwa berat…hehehehe. jalan cerita yang biasa banget, visualisasi mengharapkan lebih dari yang sekarang, aktingnya kok merasa semua so wrong…tapi ya laku keras..ahh mungkin perasaan gw aja. tapi tetep kuciwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s