My Review is Sucks: Ratu Sakti Calon Arang

Kalian telah salah besar! Jangan sembah Tuhan! Sembahlah ratu kami Calon Arang!

“Ratu Sakti Calon Arang”, seperti halnya film-film Suzanna lain, selalu meninggalkan kesan tersendiri dan kepuasan yang unik, setelah menonton film-film yang dibintangi oleh wanita yang punya predikat ratunya horor Indonesia ini. Film-film Suzanna bagi gw bukan lagi masuk ke dalam list “guilty pleasure”, tapi sudah bagian dari cara gw untuk meng-apresiasi film-film Indonesia, terlebih untuk film-film jaman dahulu. Gw tidak merasa bersalah ketika menontonnya, tidak menyesal karena filmnya punya kualitas ala kadarnya, dan tidak punya niat buruk untuk mencaci-maki filmnya diakhir. Satu-satunya yang gw rasain, justru enjoy setengah mati hahaha, serius! Begitu juga dengan yang satu ini. Berkisah tentang si “calon arang” yang punya kesaktian tinggi namun sayangnya ilmu yang dimilikinya disalahgunakan untuk menyengsarakan rakyat.

Selain dilatarbelakangi ambisi Calon Arang untuk menjatuhkan Kerajaan Daha yang kala itu dipimpin oleh Prabu Erlangga. Wanita paling ditakuti di tanah Bali ini, juga dendam pada seluruh rakyat bali dan seluruh kerajaan Daha karena putri satu-satunya bernama Ratna Mangali tak kunjung menikah, tidak ada yang mau melamarnya. Kesaktian yang tiada duanya yang didapat dari Dewi Durga itu pun dimanfaatkan untuk menghancurkan kehidupan rakyat, dengan mengirim penyakit, mendatangkan bala bencana, termasuk menculik penduduk desa untuk dijadikan tumbal. Tindak tanduk Calon Arang yang tidak berperikemanusian, kejam, dan durhaka pada rakyatnya ini bukan tanpa tentangan dari pihak Prabu Erlangga. Utusan, pendekar, prajurit dari kerajaan Daha selalu mengadakan perlawanan dengan menyerang istana wanita penyihir si calon arang. Namun hasilnya tetap saja nihil, calon arang selalu lebih superior walau dengan 5 prajurit setianya yang kesemuanya wanita.

Sesederhana menerbang-nerbangkan bola api dengan diikat seutas tali untuk menambah efek perkelahian tambah dramatik, film ini juga sesederhana itu mengikat penonton dengan ceritanya. Walau terlihat “cupu” untuk jaman sekarang yang notabennya film sudah bermetamorfosis menjadi lebih canggih dan serba rekayasa komputer, gw masih lebih terhibur ketimbang harus menonton sinetron kolosal di salah satu stasiun tv swasta yang dengan bangganya terus membodohi penonton dengan efek tolol dan cerita jiplakan. Kisah si Calon Arang dalam usahanya menguasai Bali dan tanah Jawa ini, memang masih belum dapat dikatakan film Indonesia yang masterpiece, tetapi setidaknya sebagai sebuah hiburan, dimata “amatir” kaya gw, ini film yang layak ditonton. Seperti apa yang gw bilang di awal, niat awal adalah untuk mengapresiasi film Indonesia, “melestarikan”-nya supaya tidak hilang. Tidak saja hilang dari sejarah perfilman Indonesia, yang paling buruk adalah hilang dari ingatan kita sendiri, melupakan jika pernah ada film berjudul “Ratu Sakti Calon Arang” ini.

Tawaran menarik yang disajikan film ini bukan dari efek canggih, obral monster kancut, atau setting 3-D kasar murahan. Tetapi sajian sederhana dengan kualitas secukupnya dari horor dan action yang dipadu-padankan dengan efek-efek “cupu” namun hasilnya pas. Memang tidak dipungkiri, kita…ehm gw juga tertawa ketika melihat efek gunung meletus yang terlihat palsu, manusia-manusia terbang yang bergerak melawan logika, yang paling fantastis light-saber tradisional yang bisa menembakkan sinar (sebenarnya ini keris yang bercahaya saja). Semua ditambah menggila ketika gw disuguhkan tarian-tarian yang entah siapa koreographernya, tarian yang mungkin awalnya difungsikan untuk menambah rasa mistis film ini berubah jadi lucu karena gerakan-gerakan kaku dan terlampau aneh untuk dijadikan sebagai tarian “persembahan”.

Semua kesederhanaan dan kelucuan yang menemani film berdurasi 75 menit ini tak pelak memang membuat gw tertawa setidaknya tersenyum atau berkata “WTF”, tapi sesekali tak bisa dipungkiri gw juga melotot melihat adegan perkelahian yang maha dasyat dan berbumbu merah darah ini. Apalagi niat banget mengolah action perkelahiannya untuk bisa jadi bagus (dijamannya). Tapi lagi-lagi action yang diciptakan sedemikian rupa dengan efek-efek yang seperti gw bilang “sederhana” itu, memancing gw untuk senyum dan sesekali tertawa. Ah tetapi bukan karena film ini jelek, tapi itu bukti kalau film ini bagi gw menghibur bisa menghilangkan stress, serius hiburan yang tidak dibuat-buat lho. Bukan seperti film horor yang sebelumnya gw review, ingin membuat takut malah jadi komedi karena terlalu norak.

Dari segi akting, film tahun 1985 ini punya kelemahan di dialog, tentu saja seperti halnya film-film Indonesia di jaman dahulu (tidak semuanya) yang  percakapan-percakapan-nya terlalu baku, jadi seperti para pemainnya membaca dialog yang dipajang didepan mereka. Ah lupakan dialog-dialog lucu yang berasal dari beberapa pemain seperti Barry Prima yang bermain menjadi Mpu Bahula disini, yang kelak akan menikahi putri sang Calon Arang demi misi rahasia mengambil kitab sakti miliknya. Suzzana menutup semua dialog lucu tersebut dengan kata sumpah serapah dan kasar yang sering keluar dari mulutnya yang penuh dengan sirih, contohnya: “Mampus kau binatang lapar”. Suzanna yang bermain double disini, sebagai Calon Arang dan juga jadi Ratna Mangali, bermain sangat ekspresif. Mimik wajah seram dengan tatapan melotot tajam ke penonton sudah menjelaskan dia tidak sedang bermain-main dan aktingnya betul-betul serius.

Gerakan-gerakan tubuhnya juga sangat mewakili sifat jahat si Calon Arang, tidak seperti wanita “bangsawan” yang lemah-gemulai, tetapi kasar dan sangat “bitch” sekali. Tapi ketika memerankan Mangali, aktingnya berubah total, menjadi baik dan memperlihatkan porsi akting yang lebih halus. Salut untuk Suzanna yang bisa memerankan dua orang yang berbeda di film ini. well, secara keseluruhan film yang bersetting di abad ke-11 ini dengan keindahan alam dan pura-pura Bali-nya ini, masih bisa dikatakan layak tonton, toh memang dari awal samapai akhir film ini terbukti menghibur. Walau dengan efek, akting, dan dialog “cupu”, film karya Sisworo Gautama Putra ini bisa lebih baik dilihat dari sisi semangat, totalitas, dan caranya mengemas cerita. Cupu tapi manteblah!! Apalagi buat para penggemar ratu horor kita, wajib nonton…enjoy!


5 thoughts on “My Review is Sucks: Ratu Sakti Calon Arang

  1. Nah khan… benar! Saya udah pernah nonton film ini. Gak familiar sih dengan setiap judul film Suzanna…

  2. nice review…. aku baru pertama nih bro ngunjungi blokmu, tpi lumayan untk pembuka.. Bisa ketagihan nih. Hehehehe…. Bro, pernah nonton oldboy blum…. Katanya ni film bagus. Ceritanya tentang lelaki yg disekap di kamar selama bertahun-tahun…

  3. Tawaran menarik yang disajikan film ini bukan dari efek canggih, obral monster kancut, atau setting 3-D kasar murahan. Tetapi sajian sederhana dengan kualitas secukupnya dari horor dan action yang dipadu-padankan dengan efek-efek “cupu” namun hasilnya pas. Memang tidak dipungkiri, kita…ehm gw juga tertawa ketika melihat efek gunung meletus yang terlihat palsu, manusia-manusia terbang yang bergerak melawan logika, yang paling fantastis light-saber tradisional yang bisa menembakkan sinar (sebenarnya ini keris yang bercahaya saja). Semua ditambah menggila ketika gw disuguhkan tarian-tarian yang entah siapa koreographernya, tarian yang mungkin awalnya difungsikan untuk menambah rasa mistis film ini berubah jadi lucu karena gerakan-gerakan kaku dan terlampau aneh untuk dijadikan sebagai tarian “persembahan”

  4. bro tau filmnya suzanna yang jadi bulurah trus dikasih lulur trnyata lulurx ada santetx. trus adikx bnuh diri.
    itu judulx apa, q lupa soalx mau download.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s