My Review is Sucks: La Horde

I’ll smash a lot of them with this…my love. ~ Tony

Laksana mencari peluru terakhir di tumpukan mayat dan isi perut, seperti itulah saya membandingkan film-film zombie yang pantas ditonton diantara banyaknya judul film zombie yang bertaburan dimana-mana layaknya ceceran otak. Ketika Hollywood sedang asyik dengan horror-horror remake yang sudah berada di level memuakkan, para zombie sepertinya harus bersabar untuk kembali muncul di layar lebar, itu juga lagi-lagi hanya sebagai figuran, sasaran tembak, memang miris melihat nasib mayat hidup ini. Romero pun seperti sedang tidak bersemangat, film-filmnya belakangan terakhir tidak lagi sama seperti pada waktu dia membuat “Dawn of The Dead” dan teman-temannya. Tapi tetap saja karya “Father of the zombie” ini selalu saya tunggu, siapa lagi yang bisa menandingi loyalitasnya Romero dalam urusan membuat film zombie, hanya dia yang paling setia.

Okay kembali ke film horor asal Perancis, “La Horde”, film besutan Yannick Dahan dan Benjamin Rocher ini bercerita tentang sekelompok polisi yang melakukan misi pribadi untuk balas dendam kepada geng kriminal yang bertanggung jawab atas kematian teman mereka. Ouessem dan teman-temannya pun langsung menyerang sebuah gedung kosong dimana para penjahat ini bersembunyi. Bodohnya mereka justru yang “tertangkap” lebih dahulu, rencana mereka gagal dan menyebabkan beberapa orang terluka bahkan tewas. Nasib buruk para polisi ini ternyata diikuti oleh takdir “manis” yang pada akhirnya justru menyatukan kekuatan polisi dan penjahat. Ketika mereka bersitegang dan menodongkan senjata, mereka tidak menyadari di luar gedung kekacauan sedang terjadi. Sesosok pria penuh luka dan darah dengan beringas masuk menggigit salah satu dari penjahat.

Terkejut dan tidak sadar apa yang sedang terjadi, ratusan peluru berhamburan keluar dari senjata para penjahat pimpinan Adewale ini, seketika bersarang di tubuh sang penyerang. Anehnya walau sudah ditembaki berkali-kali, pria ini tetap menyerang sampai akhirnya sebuah peluru dari shotgun menghancurkan kepala mayat hidup ini. Kini mereka sadar bahwa mereka punya musuh yang sama, yaitu zombie-zombie yang sudah menguasai kota dan mengepung gedung tersebut. Memendam sementara dendam pribadi, mereka akhirnya menyatukan kekuatan untuk bisa selamat dari “zombie outbreak” ini. Ouessem dan teman-temannya pun melihat sendiri kota mereka berubah seperti neraka, api terlihat dimana-mana, asap hitam membumbung tinggi menutupi sinar bulan, bunyi ledakan saling bersautan, dan penghuni neraka berjalan di muka bumi mendekati mereka.

Lupakan film Resident Evil yang memasuki seri ke-empat dalam usahanya memalukan nama sakral game-nya. Saya menyukai film pertama dan setengah dari film kedua, lalu selanjutnya adalah sesi caci-maki. “La Horde” membuat RE seperti permainan “survivor” bagi anak kecil, karena film ini memang sebuah horror-zombie-survival yang sebenarnya. Ruangan sempit penuh zombie dan suara berisik dari sebuah mini gun, fiuh!! Film ini benar-benar membuat saya lelah karena asyik berlarian kesana-kemari dari kejaran zombie-zombie kelaparan. Tidak hanya mengandalkan aksi jarak jauh, film ini juga dengan sombong memamerkan adegan laga jarak dekat antara manusia dan zombie, yang pastinya tidak pernah saya lihat di film manapun (kecuali saya memang lupa).

Lucu sih melihat zombie yang dipukuli bertubi-tubi, apalagi sampai di bentur-benturkan ke dinding. Ouessem dan teman-temannya sepertinya tidak pernah menonton film zombie atau membaca aturan-aturan bagaimana membunuh zombie, karena jika mereka tahu, pasti tidak usah susah-susah memukuli sang zombie sampai bonyok karena percuma saja, seharusnya langsung tembak ke kepala. Walau terlihat bodoh tapi adegan-adegan inilah yang justru menjadi bagian paling menghibur di film ini, lebih menghibur daripada harus melihat sekumpulan zombie yang ditembaki sampai peluru habis (namun zombienya tak mati). Yannick Dahan dan Benjamin Rocher setidaknya tahu bagaimana membuat film zombie yang tak “lesu” atau tidak sampai membuat film zombie yang ujung-ujungnya malah menjadi film “superhero”. Film ini total memaksimalkan bujet, skill pemain, dan efek make-up yang mumpuni dengan balutan cerita serta horor yang extra-ciamik.

Elemen-elemen wajib film zombie bisa dibilang hadir semua di film ini, termasuk asal-usul virus zombie yang sama sekali tidak diceritakan (Romero biasanya melakukan ini). Film yang premier di ajang festival horor tahunan Frightfest 2009 di London ini tidak lupa memasukkan unsur gore-fiesta (sudah menu wajib bagi film zombie), bisa dibilang visual sadis muka hancur yang diperlihatkan masih dalam batas kewajaran dan saya yakin masih cukup bersahabat dengan mata dan juga perut penonton (kalau saya salah, mohon jangan kejar-kejar saya dengan gergaji mesin). Untuk urusan make-up, film ini sepertinya membuang jauh-jauh kata “asal-asalan”, sebaliknya mereka menghias wajah-wajah mati dengan sangat rapih dan menyeramkan. Zombie-zombie yang bisa berlarian dengan semangat ini, tampil mengerikan lengkap dengan mata putih dan wajah hancur penuh darah. Semua sudah cukup dalam usahanya membuat saya bersembunyi dibalik kursi karena ketakutan melihat segerombolan zombie-zombie seram ini.

Yannick Dahan dan Benjamin Rocher patut diacungi jempol lewat film ini, apalagi ini adalah film debut mereka, dan mereka sukses mengemas film zombie yang asyik dan seru dari menit ke menitnya. Walaupun ada bagian-bagian yang membosankan tapi itu semua dengan cepat tergantikan dengan adegan super-tegang lewat aksi Ouessem dan kawan-kawan dalam membasmi para mayat hidup dan selamat keluar gedung yang sebentar lagi berubah menjadi “markas” zombie ini. Satu-satunya adegan favorit saya adalah ketika Ouessem dengan gagah berani atau bisa dibilang setengah gila melawan zombie yang jumlahnya tidak sedikit (sebentar saya hitung dulu) hmm…puluhan zombie! WTF!! adegan itu seperti menginjeksi saya dengan cairan adrenalin. Secara keseluruhan film yang hadir juga di Sitges Film Festival 2009 ini merupakan sebuah oase darah dan gerai usus goreng yang tidak hanya menyegarkan tenggorokan yang haus akan film zombie yang seru dan enak ditonton, tetapi juga mengenyangkan perut-perut yang lapar akan aksi-aksi laga menegangkan. “La Horde” adalah film horror-survival sejati.


7 thoughts on “My Review is Sucks: La Horde

  1. Ada dua yg kusuka dari film ini:
    1. adegan Oussem dikeroyok zombie diatas emang keren banget. tembak sana sini pake pistol sampai peluru abis, lalu ambil parang bacok sana-sini, parang ilang, bogem mentah juga dipake. MANTAP!!!!

    2. Zombienya itu lho, gak kayak film zombie lain yang pemalas dan suka gerak break dance. Yang ini gak mau kalah sama atlet sprinter, dgn semangat 45 lari kencang menyeruduk mangsa kayak setan kelaparan. Justru ini bikin tegang. Manusianya bisa capek lari, si Zombie malah makin semangat ngejar.

  2. Salam kenal, raditherapy.

    Gak sengaja ‘nemu’ blog ini, dan langsung tertarik dengan review-reviewnya. Gue fans zombie. Dawn of the Dead 2004 adalah salah satu film favorit gue yang gak ada matinya. Terus gue sempet denger tentang The Horde. Tapi nyari DVD-nya susah banget. Kalo boleh tau, The Horde nyari dimana?

    Keep writing!

  3. tapi efek pas the whole town kebakaran looking so cheap yah. hehehe after all. this one bnr2 beradrenalin sangat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s