My Review is Sucks: Predators

They can hear you. Smell you. They see you ~ Noland

Tiga buah titik laser berwarna merah membentuk segitiga mengarah kepada anda, itu pertanda sesosok pemburu tak kasat mata sudah menentukan siapa mangsa berikutnya. Tidak ada gunanya berlari dari monster setinggi 2 meter ini, karena dia bisa melacak kemanapun mangsanya pergi dengan pelacak panas tubuh yang terpasang di topeng, lengkap dengan senjata mematikan yang siap melumpuhkan, menyiksa, menghancurkan, meledakkan, dan mencabik-cabik setiap mangsanya. Seperti itulah kita diperkenalkan dengan makhluk ini, kita menyebutnya sebagai “Predator”. Di tahun 1987, kita pertama kali dipertemukan dengan para makhluk angkasa luar ini, lewat Arnold Schwarzenegger menjadi lawan tanding mereka. Di film kedua, Predator 2 (1990), para pemburu ini hadir kembali di tengah-tengah perang obat terlarang antara geng Jamaika dan Kolombia. Di tahun 2004, setelah 14 tahun berlalu, para predator ini menemukan lawan tanding yang seimbang, para Alien dari franchise Alien yang terkenal itu di . Kedua icon monster legendaris ini pun “dipaksa” bertarung sampai mati di dua film, “Alien vs. Predator” lalu berlanjut ke “Aliens vs. Predator: Requiem” di tahun 2007.

Perburuan pun dimulai kembali di tahun 2010, lewat “Predators” yang merupakan sekuel dari dua film pendahulunya “Predator” (1987) dan “Predator 2” (1990). Disini kita akan diperkenalkan oleh Royce yang diperankan oleh Adrien Brody, seorang tentara bayaran dan mantan pasukan militer yang terkejut ketika dirinya terbangun tengah terjun bebas. Dia pun jatuh dengan selamat di sebuah hutan rimba dan menemukan beberapa orang yang senasib dengannya. Seorang anggota kartel obat-obatan dari Meksiko, lalu mantan militan RUF dari Sierra Leone, anggota pasukan elit Rusia, ada pula seorang narapidana hukuman mati, ditambah wanita yang merupakan penembak jitu mematikan. Tim ini pun lengkap dengan kehadiran seorang yakuza yang tak pernah berbicara dan seorang dokter yang tampaknya hanya dia sendiri yang “berbeda”, ketika semua orang dikelompoknya bisa dikategorikan sebagai “monster”. Royce dan temen-teman barunya pun segera akan mengetahui jika mereka tidak lagi berada di bumi. Ketika para manusia ini melangkah mencari jawaban keberadaan mereka di hutan tanpa ujung ini, mereka tidak sadar sedang diawasi oleh pemburu paling mematikan dan berbahaya. Siapa yang akan selamat?

Diproduseri oleh Robert Rodriguez (Planet Terror, Sin City) dan Nimród Antal yang sebelumnya menangani “Vacancy”, duduk di bangku sutradara. “Predators” ternyata di luar dugaan mampu hadir sebagai paket “survival” yang tidak hanya menegangkan tetapi juga tak akan membiarkan penontonnya untuk lengah sedikitpun, yah jika tidak ingin jadi korban pertama sang predator. Seperti tidak punya waktu untuk berbasa-basi, kita akan langsung dihajar oleh serentetan kejutan-kejutan, termasuk ketika para “mangsa” ini tahu mereka berada di planet yang sepertinya jauh dari bumi. Bersama dengan kedelapan jiwa bernasib sial yang mencari jawaban tentang siapa yang membawa mereka kesini dan apa maksudnya dari semua ini, kita akan diajak bersama-sama untuk masuk ke dalam hutan penuh bahaya ini, terjebak dengan segala pertanyaan dan juga teror.

Adrenalin pun terbantai habis ketika para predator mulai menampakkan diri dari balik “jubah” kasat mata mereka. Dengan persenjataan lengkap dan canggih mereka jelas sejak dulu memang selalu unggul melawan ras manusia dan kali ini “mereka” pun tanpa ampun tidak hanya berhasil memangsa satu persatu keberanian penontonnya namun juga sukses meledakkan otak dengan ketegangan yang dikemas seru. Nimród seperti membawa atmosfir tegang yang dia miliki dalam film “Vacancy” lalu mengembangkan ketegangan tersebut menjadi berkali lipat dengan tidak lagi memakai lokasi sebuah motel tentu saja, tetapi arena permainannya kali ini adalah hutan penuh binatang “alien” buas, perangkap mematikan, dan tumbuhan “berbisa”. Aksi-aksi menegangkan yang sudah sukses dalam upayanya memompa level adrenalin kita sampai titik didih itu pun ditambah lengkap saat Nimród Antal tahu betul dimana dia harus menempatkan setiap “jebakan”-nya, menipu para penonton untuk selanjutnya masuk ke dalam perangkap berupa plot penuh twist.

Memang bukan sebuah twist yang hebat dalam upayanya memutar otak para penonton, tapi sudah cukup untuk membuat kita terkejut dan sadar kita sudah ditipu. Plot-nya juga tidak dipungkiri terasa lemah dan jelas sekali dalam beberapa adegan dipaksakan untuk mengarah ke adegan selanjutnya. Tapi hebatnya Nimród, dia bisa membuat penontonnya lupa (termasuk saya) dengan “kelemahan” film ini, ketika dia bisa kembali menyajikan adegan-adegan tegang dan penuh kejutan disana-sini. Pondasi thriller yang dibangunnya dari awal sepertinya tidak sia-sia, karena semakin mendekati akhir film, Nimród bisa menjaga emosi penonton dan intens-nya ketegangan dengan apik. Ketika tiba-tiba sutradara yang pernah menjadi aktor ini melepaskan teror-teror “extraterrestrial”-nya, kita pun harus siap disajikan kisah fiksi ilmiah berbalut horor, dengan adegan-adegan yang tidak jarang berbau sadis, penuh darah, dan lumayan mengoyak perut ini, lengkap dengan setting luar biasa yang dibangun film ini.

Bagi para fans predator, film ini tidak akan mengecewakan mereka, karena design yang dirancang oleh Stan Winston dari film pertama tetap dipertahankan keasliannya, dari topeng khas predator sampai wajah asli “mereka” yang jelek. Momok predator yang menakutkan dan mengintimidasi lawan akan tetap terasa di film ini. Hutan yang menjadi arena pertandingan hidup dan mati pun bertambah ramai dengan kehadiran predator jenis baru dan jangan lupakan munculnya berbagai makhluk alien baru yang siap memburu para manusia yang sedang ketakutan. Segi akting pun ternyata tidak mengecewakan, Adrien Brody yang lebih sering terlibat dalam film berbau drama ternyata mampu dan meyakinkan berakting sebagai “pemimpin” di film ini. Tidak sia-sia dirinya membuat tubuhnya kelihatan lebih kekar (jauh berbeda ketika kita melihatnya di The Pianist, dengan baju compang-camping dan tubuh kurus), karena otot-otot tersebut mendukung penampilan aktingnya yang pada akhirnya juga tidak kalah “berisi”. Adrien Brody bisa dikatakan lawan tanding sepadan untuk para predator ini dan “Predators” adalah lawan yang patut diperhitungkan dalam medan perang film-film di musim panas.

6 thoughts on “My Review is Sucks: Predators

  1. jadi ga sabar buat nonton neh!2 film yg vs alien ancur berat!tampaknya ini setara atau lebih bagus dari orisinilnya ya?

    1. klo dilihat minus film ini di review sebelah, saya setuju aja tuh, saya juga disini bilang plotnya lemah (maksa) dan untuk segi akting memang cuma brody yg menonjol…

  2. Untuk Predator, saya anggap versi Arnold yang lebih baik. Namun bukan berarti film ini jelek. Saya mengajak pacar saya menonton film ini, bukan karena penasaran dengan ceritanya, karena saya tahu pola ceritanya akans ama dengan Predator sebelumnya, tapi karena saya lebih menikmati pacar saya terkaget-kaget dan mencengkram tangan saya. Hahahaha!
    Dan untuk tujuan itu, film ini cukup berhasil. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s