My Review is Sucks: Dread

Your time will come…

Apa rasa takut yang paling kamu takuti? “Dread” seperti mengajak kita untuk mengikuti sesi terapi dan bertanya pada penontonnya, apakah mereka mengenal rasa takutnya? atau selama ini kita hanya bisa memanipulasi ketakutan itu, seperti Quaid yang selalu menelan obat-obatan penenang untuk menghindari ketakutannya. Jadi apakah ketakutan seseorang bisa dijadikan sebuah permainan? seberapa lama kita bisa “tahan” melawan ketakutan itu, sampai pada akhirnya kita dikuasai oleh ketakutan, apakah yang akan terjadi? film ini bersedia menjawabnya untuk kita. Didasarkan pada cerita pendek Clive Baker, sutradara Anthony DiBlasi mencoba menggali sisi psikologis manusia, memancing rasa takut untuk membuka matanya. Melalui debut filmnya, apakah ia sanggup memanggil ketakutan kita dan mengajaknya bermain, jadi sekarang apakah yang paling kamu takuti di dunia ini?

Stephen Grace (Jackson Rathbone) awalnya hanya ingin membuat tugas untuk kuliahnya, mempelajari ketakutan manusia dengan mewawancara beberapa orang dan merekamnya lewat kamera video, dibantu dengan Cheryl (Hanne Steen) dan Quaid (Shaun Evans). Tak ada yang aneh pada awalnya dengan proyek ini, Stephen berhasil mengundang banyak sukarelawan untuk bersedia jadi “bintang” untuk tugasnya ini. Tapi ada satu hal yang tidak disadari oleh Stephen, teman satu proyeknya Quaid, mulai terobsesi dengan proyek ini. Dia mulai berlaku aneh dan berdalih jika proyek ini tidak hanya sebuah tugas sekolah tetapi jadi seperti percobaan pribadi baginya. Quaid memang sebenarnya punya masalah psikologis berkaitan dengan trauma masa kecil yang tragis. Jadi sepertinya proyek inilah yang bisa mengalihkan perhatian “The Beast” untuk tidak muncul di mimpi-mimpinya, setelah dia sudah membuang semua obat-obatan. Proyek ini pun akhirnya hancur ketika Quaid tidak bisa mengendalikan obsesinya. Ditinggal oleh teman-temannya, Quaid mulai mengerjakan proyeknya sendiri. Sekarang tema ketakutan tidak lagi hanya sebuah tugas tetapi naik ke level permainan yang mematikan, Quaid menjadi pemegang kendali dan mempermainkan ketakutan orang lain dan menunggu apakah “The Beast” akan muncul?

Nama Clive Baker, keterkaitannya dengan “Hellraiser” dan ketenaran namanya di dunia literatur horor, tampaknya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh “Dread”, terlebih ketika DiBlasi terbilang cukup gagal dalam memancing rasa ketakutan saya dengan esekusinya yang lemah. DiBlasi terlihat sekali kesulitan ketika harus mengembangkan ide Baker dan menjadikannya naskah yang matang. Niatnya untuk memasuki setiap ruang psikologis penontonnya pun terhenti ketika langkahnya terhalang oleh dinding bertuliskan “bosan”. Film ini terlalu lama dan bertele-tele memperkenalkan kita dengan masalah yang dibawa-bawa oleh setiap karakter yang muncul, penting memang untuk membangun simpati tapi akhirnya justru menjadi bumerang sendiri bagi filmnya. Stephen terus menerus berduka dengan kematian kakaknya, Quaid seperti yang sudah saya utarakan diatas mengalami sebuah trauma masa kecil, ini juga bisa terlihat di setiap flashback yang disisipkan oleh DiBlasi. Sedangkan pemanis dalam film ini, Cheryl juga memiliki masalah dengan masa kecil, ketika dia mengaku di hadapan kamera tentang ayahnya sendiri.

Temanya juga “ketakutan” jadi setiap karakter diwajibkan punya rasa takut yang selama ini menghantui hidup mereka, termasuk Abby (Laura Donnelly) yang punya tanda lahir menutupi sebagian tubuhnya. Ketika DiBlasi terlalu lama asyik mengajak kita mengobrol dengan topik yang itu-itu saja dan memperlihatkan konflik yang tidak berkembang, film ini seperti terjebak pada satu masalah. Kita terus saja di ajak berputar dengan perselisihan Stephen dan Quaid yang sama sekali tidak berhasil mengandeng saya untuk bersimpatik pada salah-satu orang ini, tidak sekalipun berpikir untuk bersekutu. Saya justru terganggu dengan apa yang sebenarnya ada di pikiran Stephen sampai tergiur untuk terus berteman dengan Quaid yang jelas-jelas tidak waras, masalahnya adalah dia karakter terlalu baik di sini. Sedangkan sebaliknya Quaid adalah karakter anti-simpati yang selalu berhasil bisa memancing saya untuk mengasah kampak, bersiap melayangkannya ke kepala Quaid.

Beruntung film ini tidak terus menerus terlena membuat bosan penontonnya karena pada sekitar 30 menit terakhir, DiBlasi bisa menghadirkan horor yang sebenarnya dan berhasil membiarkan sisi psikologis kita untuk berteriak sebentar. Sayang memang ketika momen di akhir tersebut dirusak oleh proses menuju kesana, awal yang tidak menggigit dan juga perjalanannya yang tidak menyenangkan sama sekali. “Dread” juga juga diawaki oleh pemain yang terbilang biasa saja, termasuk Jackson Rathbone, yang lebih kita kenal dari seri Twilight. Satu-satunya yang bisa menghibur tatanan lakon di film ini hanya pemain wanita bernama Hanne Steen yang bermain sebagai Cheryl. “Dread” secara keseluruhan merupakan horor yang terlambat mengesekusi leher-leher penontonnya, menumpuk rasa bosan sebelum akhirnya melepaskan terornya. Dengan menuangkan jalan cerita yang mudah ditebak, film ini dengan baik hati masih bisa membuat saya terkejut. Saya dengan berat hati harus memasukkan film ini ke dalam daftar antologi “Afterdark Horrorfest” yang tidak istimewa. Tidak ada salahnya sekarang mengulang momen 30 menit itu.

One thought on “My Review is Sucks: Dread

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s