My Review is Sucks: The Machine Girl

It’s payback time!

Sepertinya tidak sah jika saya tidak mengulas film ini, setelah saya sempat menyebut-nyebut “The Machine Girl” (Kataude mashin garu) di review “Vampire Girl vs. Frankenstein Girl”. Film ini juga tidak jauh dari membawa tema balas dendam yang dibalut dengan dark comedy yang ekstrim, dalam artian sesadis apapun film ini mengobral adegan-adegan seperti memotong kepala dan membuang-buang bergalon-galon darah, tetap saja di sela-sela adegan brutal tersebut saya dan mungkin saja penonton lain akan bisa tertawa geli. Mungkin alasan tersebutlah yang membuat saya tak ada bosan-bosannya menonton film yang di sutradarai oleh Noboru Iguchi ini, sebuah oase ditengah kebosanan saya dengan film-film normal. Sebuah film yang sepertinya tidak lagi peduli dengan batas-batas logika, mengeksploitasi pikiran dengan menjejalkan cerita yang “murahan”, dan jangan berharap Noburu akan memanjakan mata lewat efek-efek canggih.

Tidak perlu terburu-buru, mungkin kata yang tepat untuk mengawali film ini. Dengan formula yang hampir mirip, biasanya kita akan diajak terlebih dahulu ke sebuah drama dengan atmosfir khas drama-drama remaja Jepang, begitu juga dengan film ini. Cerita bermula dengan kehidupan Ami Hyuga, seorang gadis sekolahan yang biasa-biasa saja, punya adik bernama Yu, yang juga biasa-biasa saja. Walau tidak lagi tinggal bersama dengan orang tuanya karena keduanya sudah meninggal, Ami dan Yu hidup bahagia, yah itu yang terlihat dari luar. Apa yang tidak diketahui Ami adalah Yu sering diganggu oleh anak-anak berandalan. Yu dan temannya Takeshi setiap hari harus berurusan dengan Sho Kimura dan anak buahnya. Merasa jagoan dengan gelar anak seorang bos yakuza, Sho dengan seenaknya meminta uang yang tidak sedikit pada dua bocah malang ini.

Telat bagi Ami yang baru sadar adiknya punya masalah, karena Yu sudah keburu tewas bersama temannya karena dipukuli lalu di jatuhkan dari ketinggian oleh Sho dan geng bau kencur-nya. Belum lagi Ami hampir saja diperkosa ketika sedang mengejar Yu yang berakhir dengan kematiannya, beruntung Ami ternyata diam-diam jago berkelahi, entah dari mana kekuatan “supergirl” tersebut dia dapatkan (padahal udah mengharapkan ada adegan seronok tapi gagal LOL). Meyakini jika adiknya tewas bukan karena bunuh diri seperti yang dikatakan polisi, Ami mencoba menyelidikinya sendiri, tidak perlu berlama-lama sampai akhirnya dia menemukan catatan terakhir adiknya berupa daftar anak-anak yang dia benci. Catatan tersebut mengantarnya ke rumah pertama, dimana akhirnya Ami berubah dari gadis biasa menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.

Ketidakberuntungan menghampiri Ami ketika dia akhirnya sampai di rumah Sho, terkejut karena kedua orang tua Sho bukan orang biasa, ayahnya seorang yakuza dan juga masih punya hubungan darah dengan ninja legendaris Hattori Hanzo. Sedangkan ibunya mantan preman yang hobinya membunuh pembantu dan koki yang tidak dia senangi. Ami yang tiba-tiba menyerang pun sayangnya harus rela tertangkap dan kehilangan lengan kirinya karena sabetan samurai. Karena kecerobohan penjaga, Ami beruntung bisa melarikan diri dan berakhir tidak sadarkan diri di kediaman orang tua Takeshi. Ditempat ini Ami akan diobati, dilatih dan dibuatkan senjata untuk lengannya yang terputus. Bersiaplah dengan kelahiran seorang mesin pembunuh yang cantik dan bersiap juga untuk melangkah ke level yang lebih gila persembahan Noboru Iguchi.

Berurusan dengan film yang disutradarai oleh sutradara yang biasa mengarahkan film-film bertema “dewasa” ini, memang cukup mengandalkan sisi otak yang bereaksi dengan hiburan saja. Tidak perlu saya repot-repot mengelus-elus bagian otak yang biasa dipakai untuk berpikir, berusaha sepusing-mungkin untuk mem-filter film ini dengan logika dan mencari-cari plothole atau kesalahan-kesalahannya. Saya hanya membutuhkan ramuan “nikmati saja tanpa harus memakai otak”, terbukti berhasil menjerumuskan saya dalam kepuasan sinematik tersendiri. Misi Noboru untuk menghibur dengan caranya sendiri sudah sukses menaklukkan ego saya yang hanya ingin menonton film-film bagus supaya terlihat prestisius, makanya saya lebih memilih menonton film ini karena ingin dibilang tidak keren. Tapi jangan salah persepsi, bagi saya keren atau tidaknya sebuah film kadang tak selalu harus karena film itu direkomendasikan semua orang, kualitas oskar, memiliki plot berlapis-lapis seperti lapis legit. Film seperti ini juga bisa dibilang keren, dilihat dari sudut pandang 180 derajat dan kacamata 3D buatan sendiri yang diwarnai pakai krayon.

Bagaimana tidak keren ketika kita bisa melihat pertarungan antara Ami dan seorang ibu yang punya tawa cekikikan mengalahkan kuntilanak, berakhir dengan urutan tangan Ami yang teraduk dengan adonan tepung lalu dimasukkan ke minyak yang mendidih, hasilnya adalah tangan Ami berubah menjadi tempura (lebih mirip ayam goreng), lebih sedap jika dicocol dengan sambal dan disantap dengan nasi panas. Entah bagaimana caranya tangan tempura itu pun sudah bisa normal kembali nantinya. Masih kurang keren? film ini masih punya lusinan adegan ajaib, tubuh terbelah seperti kue ulang tahun, kepala berlubang karena ditembaki senapan mesin, tubuh tanpa kepala yang bisa memuncratkan bergalon darah, ditambah koreografi pemainnya yang menampilkan pose-pose menakjubkan yang mengingatkan saya pada film-film power rangers.

“The Machine Girl” tak ubahnya seperti coklat stroberi yang berbentuk dildo, berwarna cerah, manis rasanya, namun tidak sedap dipandang. Enggan mencicipi, saya terpaksa harus menutup otak untuk bisa menikmati sajian 96 menit kegilaan yang dihadirkan oleh Noboru. Memang tidak mudah, tapi setelah perlahan terus digempur film-film seperti ini, seperti yang saya bilang di review sebelumnya, genre ini sudah berhasil membuat saya jatuh hati pada pandangan pertama. Jika dibandingkan dengan film “Vampire Girl vs. Frankenstein Girl”, jelas Noburu lebih bisa mengemas filmnya dengan tatanan kegilaan yang lebih rapih dengan mengajak Yoshihiro Nishimura bergabung dengannya duduk di departemen efek khusus. Kerjasama keduanya terbukti bisa menghasilkan tontonan yang menghibur (sudah berapa kali saya menyebut kata menghibur), walau semua tubuh-tubuh prostetik tersebut terlihat palsu dan darah menyembur melanggar hukum kedokteran. Yah yang paling terpenting adalah bisa melihat Minase Yashiro dalam balutan seksi seragam sekolah dan beraksi layaknya ksatria baja hitam dan menghabisi musuh-musuhnya.

5 thoughts on “My Review is Sucks: The Machine Girl

  1. ehh ada lagi lho film yang tema, crew film makernya sama dengan yg buat film ini, judulnya “Shyness Machine Girl” lumayanlah untuk numpulan logika otak kita walaupun cuman film pendek😀

  2. budi: kebanyakan nonton film kelas hotel dan gak tau nikmatnya ngekos. Wajar sih kalau ga kenal apa itu guilty pleasure en vividism.

    Padahal review diatas udah mencantumkan soal ‘keren-tidak keren’, grok.

    Harus nonton kayaknya nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s