My Review is Sucks: Noroi (The Curse)

I want the truth. No matter how terrifying, I want the truth. ~ Kobayashi

Lewat Noroi (jika diterjemahkan menjadi kutukan atau the curse), sekali lagi Jepang dan para filmmaker di belahan bumi Asia membuktikan mereka memang masih unggul dalam melahirkan horor-horor yang berkualitas, dalam segi cerita dan efektivitas ketakutan dari segi horornya sendiri, ketimbang pelaku perfilman Hollywood yang sepertinya semakin terjebak dengan horor daur ulang. Seperti sudah kehabisan ide, solusi terakhir untuk tetap menghasilkan uang sebanyak-sebanyaknya adalah dengan me-remake film apa saja yang di mata mereka sanggup mendatangkan keuntungan, dari mengacak-ngacak horor klasik sampai bergerilya keluar kandang ke Asia. Apa hasilnya? kebanyakan dari remake tersebut jatuh ke lubang bertuliskan gagal di nisannya. Freddy Krueger harus rela dilempari tomat busuk karena ulah orang-orang dari Platinum Dunes, begitu juga dengan daur ulang horor Asia seperti “One Missed Call”, yang tertular kutukan remake horor-horor Asia lain yang flop.

Gerah dengan kegagalan, mata Hollywood pun sekarang tertuju pada Eropa, belakangan negara-negara seperti Perancis (Frontiers, Martyrs), Spanyol (Rec, The Orphanage) dan Swedia (Let the Right One) memang sedang giat membuat film-film horor yang ternyata berhasil menakuti penggemar horor di seluruh dunia. Rec asal Spanyol sudah lebih dulu diboyong, menghasilkan “Quarantine” yang (walau) tidak mengecewakan namun tentu saja tidak sanggup mengalahkan superioritas film aslinya. Berikutnya menyusul Martyrs yang sukses membuat mata ini trauma, The Orphanage dan film persahabatan antara manusia dan vampir “Let the Right One” yang siap tayang tahun ini dengan judul baru “Let Me In”. Pertanyaannya sekarang apakah proses recycle ini sukses memuaskan para penonton khususnya horror-junkie, mendengar film favorit mereka diremake saja sudah menciptakan rasa pesimis terlebih dahulu, tak sabar untuk mencaci jika gagal.

Berbeda dengan Hollywood, Asia sebaliknya selalu saja punya ide bagaimana membuat seisi bioskop ketakutan, sebagian memang asli menakutkan, sebagian lagi membosankan karena memakai cara yang sama. Tapi tetap saja horor dari negeri sakura, ginseng, atau gajah putih selalu ditunggu kehadirannya, karena sumber kengerian horor mereka tidak pernah meninggalkan ciri khasnya sedikitpun sampai sekarang, mereka masih memakai formula lama. Kental akan sisi psikologis yang mencekam dan suasana atmospheric horor yang mencekik, dan hebatnya formula tersebut sepertinya tidak pernah kadaluarsa. Noroi memiliki kesemuanya itu, sebuah paket horor yang lengkap, sekarang jika ada yang bertanya kepada saya soal rekomendasi horor terseram, saya tidak akan ragu untuk menyebut film ini. Jepang sepertinya ingin berteriak kepada Amerika, jika mereka punya “Blair Witch Project” yang melegenda itu, kami punya film yang jauh lebih seram. Jadi mengingatkan saya ketika Perancis juga membuat “Frontiers”, untuk mengejek “Saw”.

Noroi seperti mengawinkan timur dan barat (namun tidak menghilangkan citarasa lezat tradisi horor timur), gaya horor Asia yang di-blair-witch-project-kan dengan mengadaptasi genre “found footage” yang tidak populer, atau sering disebut juga dengan mockumentary. Koji Shiraishi sepertinya tahu betul memanfaatkan kepercayaan orang terhadap dunia mistis, contohnya di Indonesia, acara-acara yang mengangkat tema supernatural sempat menjadi langganan beberapa televisi swasta karena terbukti banyak yang menonton. Berbekal ketertarikan tersebut, Koji mencoba membuat film dokumenter palsu yang berangkat dari kesuksesan acara-acara supernatural di televisi tersebut, seperti acara “dunia lain” dengan tambahan dramatisasi disana-sini. Kita akan diperkenalkan dengan Masafumi Kobayashi, seorang jurnalis dan juga praktisi di bidang supernatural, singkatnya dia ahli segala hal yang berbau “alam gaib”. Setelah menerbitkan beberapa buku tentang aktifitas gaib di seantero Jepang, Kobayashi berpikir untuk mulai merekam dan memfilmkan aktifitas supernaturalnya, termasuk dengan investigasi yang kali ini melibatkan seorang perempuan bernama Junko Ishii dan anak laki-lakinya.

Investigasi tersebut dimulai pada November 2002, ketika seorang tetangga melaporkan sering mendengar suara bayi-bayi menangis di rumah yang belakangan diketahui milik Junko Ishii, seorang wanita berumur 40-an yang memiliki seorang anak laki-laki berumur 6 tahun. Pertemuan Kobayashi dengan Junko Ishii untuk pertama kalinya tidak begitu berkesan karena dia justru diusir. Ketika Kobayashi datang untuk kedua kalinya dia tidak beruntung karena Junko sudah pindah dari rumah tersebut, tapi Kobayashi menemukan beberapa kejanggalan yang mengejutkan, dibelakang rumah terdapat banyak burung dara yang mati. Keanehan-keanehan yang tidak masuk diakal pun berurutan akan mendatangi Kobayashi, dimulai dengan kematian mendadak informan yang sebelumnya didatangi oleh Kobayashi. Kejadian-kejadian yang melibatkan hilangnya seorang anak “berbakat”, seorang aktris yang diganggu kekuatan gaib, seorang paranormal esentrik yang menutupi tubuh dan rumahnya dengan aluminium foil, dan bunuh diri massal, akhirnya menggiring Kobayashi kepada misteri yang jauh lebih mengerikan. Sebuah ritual satanik berusia ratusan tahun yang dikenal dengan nama Kagutaba.

Bernasib sama dengan Kobayashi yang kerap kali memperlihatkan wajah kebingungan, penonton akan diajak lebih kebingungan menonton film ini. Koji Shiraishi entah dengan susuk apa berhasil menarik saya untuk terus lengket dari awal film ini memperkenalkan kita dengan Kobayashi hingga terkuaknya misteri di akhir film. Menghabiskan durasi 115 menit, saya sepertinya lupa untuk mengedipkan mata setelah memulai memasuki dunia gaib yang diracik dengan creepy oleh Koji ini. Bosan? tidak ada kata bosan yang berhasil menghampiri saya ketika berusaha memecahkan berbagai misteri dan teka-teki bersama Kobayashi, sepertinya film ini terlebih dahulu melakukan prosesi ritual pengusiran “setan bosan” sehingga sanggup menyihir saya untuk terus betah duduk dimanjakan oleh wajah cantik Maria Takagi sekaligus direkatkan oleh rasa penasaran dan tentu saja secara alamiah berharap melihat penampakan yang mengganggu nalar.

Noroi makin terlihat nyata, ketika Koji sanggup menggabungkan berbagai video rekaman berita dan acara televisi untuk melebur menjadi satu dengan video rekaman Kobayashi, menghasilkan satu kesatuan cerita solid yang tetap berfokus pada pencarian jawaban berkaitan dengan Kagutaba. Selain tayangan yang direkam oleh Kobayashi, video-video lain yang digabungkan disini memang sangat mendukung cerita, seperti sebuah alibi yang makin memperkuat propaganda yang diciptakan Koji, tujuannya membuat kita percaya dan makin percaya hingga lupa jika ini hanya film. Keberhasilan film ini tidak terlepas dari para pemainnya yang berakting sangat natural, namun maksimal untuk membuat saya yakin dengan setiap karakternya. Kobayashi yang diperankan Jin Muraki layaknya pembimbing tur wisata alam gaib, saya percaya saja dengan dia untuk menuntun saya masuk dan keluar dengan selamat. Setiap akting pemainnya seperti lima titik pentagram yang membuat saya percaya dan akhirnya saya terkurung di dunia lain ciptaan Koji. Percaya atau tidak, awalnya Noroi membuat saya percaya ini adalah film tentang alien, menarik!

Setiap adegan film ini adalah pecahan teka-teki yang ditebar Koji, tapi tidak usah takut tersesat karena Koji akan menuntun kita dengan perlahan menuju setiap jawabannya dan bertahap dengan latar musik yang tepat (saya tidak keberatan dengan penambahan musik, walah mengurangi kesan keaslian dokumenter tetapi musik di film ini dengan takaran yang pas bisa menyeimbangi kesan mengerikan yang ingin ditampilkan) menyatukan teka-teki tersebut bersama dengan Kobayashi. Tentu saja Koji tidak begitu saja membiarkan saya berhasil mengumpulkan semua puzzle, dia menyimpan potongan terakhirnya dengan apik dan disinilah Koji mulai mempermainkan saya sehingga makin penasaran, tidak sabar, bersamaan dengan dibuat merinding setiap kali Koji memperlihatkan “penampakan”. Ini yang menjadi kelebihan film ini, penampakan yang saya harapkan justru muncul disaat yang tidak terduga, walau kemunculannya tidak sering tapi dijamin efektif membuat bulu kuduk merinding berselimut rasa mencekam yang mengasyikkan. Endingnya? Apakah saya perlu menggambarkannya disini?

11 thoughts on “My Review is Sucks: Noroi (The Curse)

  1. asli, endingnya bkin gw ngeri. salah satu film Asia terseram menurut gw, nih.
    two thumbs up, deh.😀

  2. sepertinya menarik sih. setelah berhasil dibuat takut oleh Lake Mungo, saya malah jadi kecanduan menonton film horror bergaya mockumentary.
    masuk daftar tunggu buat ditonton nih😀

  3. ‘Kental akan sisi psikologis yang mencekam dan suasana atmospheric horor yang mencekik, dan hebatnya formula tersebut sepertinya tidak pernah kadaluarsa. Noroi memiliki kesemuanya itu, sebuah paket horor yang lengkap’. wah. i couldn’t agree more! cheers untuk 4.5 skulls out of 5 nya🙂
    ps: waktu googling noroi, review ini langsung muncul di page pertama lho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s