My Review is Sucks: Paprika

This is a foolish place to be… to inquire about the master of this dream. The conceit of the daytime residents is what the nighttime residents want. To come in carelessly is like a moth to a flame. ~ Dolls

Mengutip perkataan Dr. Tokito (salah satu karakter di film ini) yang bilang “bukankah sangat menyenangkan bisa merasakan apa yang dimimpikan orang lain, seolah mimpi tersebut mimpi kita sendiri, saling berbagi mimpi”. Kutipan tersebut memang mewakili sebagian besar keinginan orang-orang, tak terkecuali biasanya mereka yang sedang jatuh cinta. Mungkin bagi siapa saja yang pernah merasakan momen kasmaran, entah itu sadar ataupun tidak sadar (atau hanya gombal belaka), pernah mengatakan “selamat tidur, ditunggu di mimpi” kepada pasangannya. Tapi tentu saja hal demikian hanya akan terjadi di alam fiksi, berbagi mimpi hanya akan terbatas apa yang kita bagi lewat kata-kata dari mulut, kita akan tahu mimpi seseorang apabila jika yang bersangkutan “curhat” tentang mimpinya. Selebihnya mimpi masih akan menjadi ruang privasi yang buram, buah tidur yang terkadang kita sendiri lupa setelah beberapa saat mata ini terbuka, mimpi apa kita semalam? atau memang tidak mimpi sama sekali.

Berbicara soal jatuh cinta, “Paprika” juga menyimpan rasa cinta tersebut dengan manis, terbalut lewat tema fiksi ilmiahnya yang mempesona mata dan memanjakan khayalan. Masih sama seperti “Tokyo Godfather”, film animasi yang diadaptasi dari novel karya Yasutaka Tsutsui ini juga akan menyajikan gambar-gambar penuh warna, animasi dengan kualitas tinggi, dan juga keunikan tersendiri dalam memancing penontonnya untuk pasrah masuk ke dalam cerita dan tentu saja secara instan mencintai filmnya. Kali ini Satoshi akan mengajak kita ke dunia mimpi lewat alat bernama “DC Mini”, sebuah perangkat canggih yang memungkinkan kita untuk masuk ke dalam mimpi siapa saja. Fungsi dari alat ini sebenarnya masih terbatas untuk pengobatan, sebuah psychotherapy baru bernama terapi mimpi. Penemuan yang seharusnya bisa sangat berguna untuk manusia ini berubah menjadi bencana ketika beberapa alat yang sebenarnya belum sempurna ini dicuri. Dokter Atsuko Chiba—dengan alter egonya: Paprika—lalu dokter Tokito, dokter Shima, dan seorang detektif bernama Konakawa tentu saja tidak tinggal diam dan berupaya maksimal untuk menemukan dalang pencurian ini, karena dunia mimpi dan nyata akan terancam jika DC Mini dimanfaatkan untuk kejahatan…mimpi buruk baru saja dimulai.

Wow! saya sebenarnya tidak suka dengan sayuran bernama paprika (apa hubungannya?) tapi pengecualian untuk judul animasi fiksi ilmiah yang kembali disutradarai oleh Satoshi Kon ini. Disini keajaiban seperti sedang diobral, begitu ajaibnya visual yang ditawarkan, membawa daya khayal ini melarikan diri lewat ventilasi imajinasi. Berapa banyak orang yang pernah punya bayangan liar untuk mengulang mimpi indahnya semalam, termasuk juga saya, film ini memberi saya kesempatan untuk melihat seperti apa bayangan liar tersebut jika menjadi kenyataan. Lewat penemuan dokter Tokito, mimpi sekarang bisa dilihat melalui layar komputer dan diulang layaknya sebuah film di dvd. Menarik sekali jika saya bisa setiap saat menonton ulang mimpi-mimpi atau sesekali mengkopinya ke dalam bentuk dvd untuk koleksi pribadi, itu hanya imajinasi kecil yang sekilas muncul pada saat menonton film ini. “Paprika” memang seperti obat dengan dosis imajinasi yang pas untuk pada akhirnya dengan leluasa membius pikiran saya.

Logika tak lagi perlu untuk dipatuhi, imajinasi tak lagi dibatasi, dan saya dibiarkan bebas untuk bermain sepuasnya di dunia mimpi, termasuk menyaksikkan apa yang tidak pernah saya lihat, sebuah parade mimpi. Peralatan rumah tangga, mainan, boneka, kodok-kodok peniup terompet, lampu lalu lintas, sampai gerbang kuil semua hidup, seperti menyambut kedatangan kita untuk pertama kalinya di dunia mimpi. Selanjutnya, adegan demi adegan penuh visual aneh, imajinatif, gila, akan menemani 90 menit petualangan saya di dunia mimpi, dengan seorang gadis cantik berambut pendek berwarna merah bernama Paprika yang berperan sebagai pemandu agar nantinya saya tidak tersesat disini. Selain visualnya telah berperan dengan baik membuat saya betah dan menikmati setiap perjalanan penuh kegilaan-imajinasi, jalan cerita yang memuat narasi penuh teori fiksi ilmiah rumit juga punya peran sebagai sabuk pengikat saya dengan film ini.

Teori-teori yang saling bersautan menjelaskan apa itu dunia mimpi, DC Mini, siapa itu Paprika, terapi mimpi, benar-benar membuat saya berpikir, mencerna baik-baik setiap kata yang diucapkan dokter Chiba dan kawan-kawan. Tapi jujur saja, fokus kepada teori dan secara bersamaan mencoba memecahkan teka-teki di film ini memang pekerjaan rumah yang tidak gampang. Alhasil saya tidak 100% bisa menangkap semua teorinya dan agak sedikit tersesat dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi disitulah menariknya film ini, kerumitannya adalah kelebihan yang tersembunyi, umpan menggiurkan yang akan memancing saya untuk kembali menonton film ini untuk kedua kalinya, ketiga, keempat, dan seterusnya. Hanya untuk menjawab setiap pertanyaan yang masih menggantung dan bersamaan juga ingin mengulang perjalanan menarik di dunia mimpi atau memang rindu dengan si cantik Paprika (hehehe…).

Visualnya yang menghipnotis, plotnya yang menyenangkan, dengan tambahan-tambahan teori yang menarik adalah senjata utama yang menjadikan “Paprika” dengan mudah bisa disukai dan dicintai. Karakter-karakternya juga dengan unik mengisi jalan cerita menjadi lebih menyenangkan, tak terkecuali Paprika sendiri yang tidak lain adalah bentuk lain dokter Chiba di dunia mimpi. Cantik, terkadang lucu, serius, sekaligus misterius dan juga bisa menjadi gadis paling tangguh sebagai seorang heroine. Walaupun film ini terlihat “gelap” dan tampil serius, Satoshi dengan cemerlang bisa menempatkan humor-humor ditengah adegan-adegan yang sebenarnya menegangkan. Komedi, action, dan kadang juga horor memang saling bertumpuk disini menjadikan film ini hiburan yang lengkap dan tontonan yang tidak sedetikpun memunculkan kata bosan. Sebagai teman menonton, musiknya juga berperan besar menambah kenikmatan saya menyelesaikan petualangan bersama Paprika. Sekarang waktunya saya memilih rekaman mimpi untuk ditonton.

2 thoughts on “My Review is Sucks: Paprika

  1. saya nonton ini gak selesai2 hahahaha….waktu nonton inception agak teringat paprika si..tapi karena nontonnya gak selesai2 jadi ya cuman keingetan doang…gak bisa ngebandingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s