My Review is Sucks: Splinter

You are suffering from a severe case of CDS: Can’t Do Sh*t! ~ Dennis Farell

“Splinter”, mengajak kita untuk berkenalan dengan sepasang “suami-istri” yang belum menikah, Seth Belzer (Paulo Costanzo) dan Polly Watt (Jill Wagner). Jika saja mereka tidak merusak tenda, mungkin kejadian malang tidak harus menimpa pasangan yang sedang merayakan hari jadi mereka ini. Sayangnya tenda mereka rusak dan rencana untuk bercinta dibawah siraman bintang-bintang pun sirna begitu saja, jadi tujuan mereka kali ini adalah menemukan motel murahan. Di tengah perjalanan mobil mereka dibajak oleh Dennis Farell (Shea Whigham) dan Lacey Belisle (Rachel Kerbs), dua orang yang sedang melarikan diri dari hukum. Tanpa perlawanan Seth dan Polly pun terpaksa menuruti apa yang diperintahkan dua orang asing ini, karena diancam oleh senjata. Mereka berempat pun meneruskan perjalanan sampai akhirnya tiba di sebuah pom bensin, tapi tampaknya tidak ada seorang pun yang menjaga tempat tersebut termasuk di dalam mini marketnya.

Mereka pun dikejutkan oleh sesosok tubuh yang tidak berbentuk normal, mandi darah, dan ditutupi semacam duri (seperti duri landak). “Monster” berduri ini pun menyerang Lacey hingga tewas dan memaksa yang lain untuk berlindung ke dalam mini market. Anehnya tubuh Lacey yang tampak tak bernyawa perlahan-lahan bergerak, Dennis yang mengira pacarnya tersebut masih hidup berupaya untuk membawanya masuk walaupun dia tahu kapanpun bisa diserang oleh monster berduri yang kemungkinan bangkit dari kematian. Lacey ternyata memang sudah mati dan justru berubah menjadi seperti monster yang menyerangnya, seperti zombie yang terinfeksi virus (bedanya disini oleh duri), dia mulai menyerang Seth dan yang lainnya. Tubuh berduri tersebut terus mengintai di luar dan menunggu siapa saja melakukan kebodohan, entah monster ini yang masuk ke dalam untuk mencabut nyawa atau mereka yang keluar mengantar nyawa mereka.

Walau film ini diawali oleh hidangan pembuka yang klise dan selanjutnya horor dengan jalan cerita yang mudah ditebak tapi secara mengejutkan “Splinter” sanggup menyajikan perjalanan yang cukup menegangkan di beberapa bagiannya. Apa yang bisa ditawarkan oleh film ini adalah sebuah cerita horor yang sederhana, sebuah film monster dimana sang pembunuh muncul dan para korban dengan segala cara mencoba selamat. Sudah berapa banyak film yang menjejalkan kita dengan plot serupa, tapi Toby Wilkins yang di tahun 2009 membesut “The Grudge 3” ini berani memberikan sentuhan yang berbeda. Memaksimalkan bujet yang ada (terlihat sekali bahwa film ini memiliki bujet kecil) film ini berakhir “terjebak” dalam sebuah mini market. Walau pada kenyataannya mengambil keseluruhan gambar di satu tempat yang sama berulang-ulang dan memaksa cerita untuk tidak keluar dari tempat tersebut, film ini tidak ikut terjebak untuk menjadi datar dalam upayanya menakuti penontonnya. Sebaliknya sama halnya dengan Dennis dan yang lain, film ini berhasil mengurung saya dan penonton untuk terjebak selama 80 menit dan Toby mengerjakan tugasnya dengan baik dalam membangun ketegangan.

Film ini sepertinya belajar banyak dari horor yang memaksa dirinya untuk terlihat baru atau orisinil, tapi tetap saja di akhir label besar bertuliskan klise masih tetap menempel. Biasanya diikuti dengan kegagalan karena jalan ceritanya yang justru berantakan. Toby justru terlihat membiarkan filmnya berjalan klise dengan jalan cerita yang mudah ditebak, agar dia bisa fokus untuk menyambung titik dari awal ke akhir menjadi hiburan yang tak tanggung-tanggung, tapi melepas kemampuannya untuk menakuti di ruang yang serba minimalis dengan horor yang efektif. Apalagi ditambah dengan penampakan monster yang didesain menakutkan, seperti campuran antara manusia yang terkena virus, berubah menjadi zombie lalu kesurupan (seperti di film-film dengan embel-embel exorcism). Siapa saja yang terinfeksi duri semacam parasit seperti jamur atau kutu ini akan bergerak dengan sendirinya, tidak normal, sampai mematahkan tulang-tulang di tubuh mereka.  Sayangnya kita akan dikecewakan karena penampakan monster ini tidak terlalu jelas, karena lagi-lagi untuk menutupi bujet filmnya yang kecil. Jadi ketika tiba saatnya sang monster muncul, pengambilan gambar agak sedikit kabur dengan kamera yang dibuat bergoyang-goyang.

Namun kekurangan tersebut tidak mengurangi sedikitpun rasa tegang yang disajikan dan justru dengan penampakan monster yang tidak jelas akan semakin membuat kita penasaran bentuk sebenarnya dari monster tersebut selain dibuat menunggu dengan jalan cerita yang bergulir semakin menarik menuju akhir. Kekurangan pun makin tertutupi pada saat para aktor dan aktrisnya secara mengejutkan bermain dengan sangat baik, bisa dibilang cemerlang dalam memanfaatkan porsi yang diberikan. Karakter di film ini pun dibuat berkembang, selagi filmnya tidak menawarkan twist yang diharapkan, justru karakter seperti Seth, Polly, dan Dennis-lah yang masing-masing diberi twist. Bermain dengan sangat meyakinkan, mereka berhasil membantu kita untuk ikut merasa takut, tegang, secara bersamaan ikut bersimpati dengan mereka. Tidak terkecuali dengan Dennis yang pada awalnya dijadikan karakter “kambing hitam”, karakter yang pantas dibenci dan disalahkan. Pada akhirnya “Splinter” memang tidaklah istimewa, tapi Toby sudah berhasil menyulap mini market kecil menjadi panggung horor minimalis, dihiasi darah, lengkap dengan adegan sadis secukupnya, lalu duri-duri yang menusuk penonton untuk “memaksa” mereka berteriak puas ketakutan sekaligus juga terhibur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s