My Review is Sucks: Aku Atau Dia

Novi, kamu datang ke tempat yang tepat! ~ Mbak Elza

Mbak Elza dan kawan-kawan dari Heart-Break.Com (HBDC) kedatangan kasus baru! jika pada film pertama agen-agen cinta ini mendapat misi untuk menyelamatkan Agus yang patah hati dan menyatukan hubungannya dengan Nayla. Kali ini di film kedua, “Aku Atau Dia”, mereka kedatangan klien baru dengan kasus yang tidak kalah menantang. Sekarang siapa klien HBDC yang sedang patah hati dan membutuhkan bantuan agen-agen yang bergerak atas nama cinta namun beraksi ala agen-agen rahasia di film mata-mata ini? dia adalah Novi (Julie Estelle) yang ditinggal oleh kekasihnya Dafi (Rizky Hanggono). Cinta mereka yang terjalin sejak kuliah dan berjalan selama 4 tahun pun kandas di tengah jalan karena Dafi “dibutakan” oleh pekerjaannya sebagai pengacara lalu tergiur oleh promosi yang ditawarkan bosnya, pengacara yang lebih senior, Amara (Aline Adita). Dafi pun mengorbankan hubungannya dengan Novi, padahal selama ini kekasihnya tersebutlah yang mendukung karirnya.

Di tengah status patah hati-nya, Novi beruntung masih memiliki Teh Pipit (TJ), Asep (Ringgo Agus Rahman), dan Wawan (Omesh Ananda), saudara-saudaranya yang selalu siap menghibur dan membantu Novi tersenyum lalu bertahap melupakan Dafi. Suatu hari, tanpa disengaja Novi mendengarkan siaran radio yang sedang mewawancarai Mbak Elza (Sophie Navita) dari Heart-Break.Com, tanpa basa-basi Novi pun menghubungi badan inteligen khusus patah hati ini. Mbak Elza pun setuju untuk membantu Novi dan segera mengutus timnya dengan Rama (Fedi Nuril) sebagai project leader-nya dalam misi untuk merebut Dafi kembali. Apakah HBDC berhasil menjalankan misinya atau justru failed? Formula “romantis” yang akan ditawarkan disini memang tidak jauh berbeda dengan film pertamanya yang rilis pada Desember tahun lalu tersebut. “Aku Atau Dia” juga masih konsisten untuk menghadirkan sebuah hiburan yang niatnya memang untuk menghibur—bukan film yang niatnya sudah busuk dari awal, “menghibur” produser dan sebaliknya justru membodohi penontonnya, yah kalian tahu film-film apa yang saya maksud disini—dan penonton pun disuapi cerita ringan yang mudah dicerna tapi tidak terlihat murahan.

Sebuah sekuel tentu harus punya sesuatu yang berbeda, “Aku Atau Dia” tidak melupakan hal penting tersebut dan sang sutradara, Affandi Abdul Rachman, pun mengerti dengan membalut percintaan di film ini agak lebih dewasa ketimbang hubungan Agus dan Nayla yang bisa dibilang masih dalam rangkaian fase percintaan remaja. Perbedaaan lainnya juga menyentuh tubuh badan injelijen patah hati HBDC itu sendiri. Jika pada kasus Agus kita hanya diberi akses terbatas ke balik setiap operasi-operasi mereka, kini cerita tidak hanya fokus kepada jalannya misi untuk mempersatukan Novi dan Dafi tetapi serunya juga memberi porsi yang cukup kepada para agen-agen HBDC untuk kembali muncul di layar. Selain menyorot tindak-tanduk agen Rama yang memang termasuk tokoh utama, kita juga akan digiring masuk ke dalam seluk-beluk aturan main HBDC, bagaimana tiap agennya bekerja, sampai apa yang terjadi ketika sebuah kasus dalam status “terancam”.

Di film kedua ini, Affandi Abdul Rachman tidak perlu lagi memperkenalkan bertele-tele siapa itu HBDC—penonton yang belum menonton film pertama juga tidak akan dibuat kebingungan karena Affandi masih memberikan “kata pengantar” singkat tentang HBDC kok—jadi nantinya Affandi bisa lebih mengeksplor porsi HBDC untuk lebih menegaskan lebih jauh peran mereka dalam urusan memperbaiki hati yang patah. Tentunya ketika Affandi asyik bermain dengan para agennya yang juga punya cerita dan masalah intern sendiri di film ini, sutradara “Pencarian Terakhir” yang rilis pada tahun 2008 tersebut tidak melupakan cerita utama. Bergulir dari menit ke menitnya, kisah Novi dan Dafi pun dari awal sudah menjanjikan kisah yang menarik, walaupun sebagai penonton saya sudah dengan mudah menebak cerita akan dibawa kemana, tapi itu tidak penting karena Affandi mampu mengemas proses menuju ke akhir cerita dengan jujur, itulah yang penting! yah apalagi kisah cinta dalam film ini makin terasa dekat, karena di kehidupan nyata kasus seperti Novi dan Dafi bukanlah dongeng sebelum tidur alias bisa saja terjadi, sama seperti kisah sebelumnya yang dialami oleh Agus dan Nayla.

Affandi masih akan menyelipkan momen-momen drama yang menyentuh tapi kadarnya tidak berlebihan, porsi yang cukup untuk upayanya mengajak penonton untuk bersimpati dan menambah level “care” kita pada hubungan Novi dan Dafi. Sebagai tumbal untuk memancing tawa penonton, peran tersebut dipercayakan kepada duo Asep dan Wawan yang dilakonkan dengan “bodoh” oleh Ringgo Agus Rahman dan Omesh Ananda. Di tangan Affandi, porsi komedi disini juga tidak terasa berlebihan, tidak perlu menjurus terlalu mesum dan komedi kasar yang norak, seperti yang sebelumnya ditawarkan film komedi lain. Dengan paket komedi yang sudah ditata dengan sedemikian rupa, saya juga dengan sendiri akan spontan tertawa tanpa harus melihat Asep dan Wawan terlihat tolol. Hanya dengan melihat mimik wajah Ringgo dan spontanitas bacot Omesh, umpan manis komedi difilm ini pun tepat sasaran untuk memancing tawa penonton, membersihkan ruang-ruang dalam pikiran saya dari kepenatan dan stress untuk akhirnya bebas terhibur. “Aku Atau Dia” dengan ensemble cast-nya yang bermain dengan baik memaksimalkan porsinya masing-masing ditambah apiknya Affandi dalam mengemas cerita telah berhasil menjalankan misinya untuk menghibur, sinema tanah air sangat butuh film-film seperti ini dan semoga HBDC masih punya banyak kasus untuk difilmkan. Good job!

19 thoughts on “My Review is Sucks: Aku Atau Dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s