INAFFF 2010: Mutant Girls Squad

Mutant only!

Setelah menonton “Surprise Movie” di INAFFF 2010—yang ternyata memang jadi kado spesial yang mengejutkan pada malam itu—saya terpaksa menunggu hampir 2 jam untuk film berikutnya, film yang dari awal memang sudah masuk daftar wajib untuk ditonton dan tidak disangka justru malah bisa menonton film yang punya genre spesifik (dan juga penonton yang juga spesifik) ini di layar lebar. Ekspektasi saya yang hanya berharap bisa (setidaknya) menonton di dvd, dibuat menari-menari telanjang ketika tahu film ini akan di putar di salah satu festival paling gokil di Indonesia. Jadi 2 jam tidaklah seberapa jika dibanding dengan apa yang akan saya tonton nanti, sebuah persembahan tiga sutradara yang bisa dibilang sinting. Tak Sakaguchi (Yoroi: Samurai Zombie) Noboru Iguchi (Robogeisha, Machine Girl), Yoshihiro Nishimura (Tokyo Gore Police, Vampire Girl vs. Frankenstein Girl) entah sadar atau sedang mabuk, memutuskan kenapa mereka tidak membuat film bersama-sama, ide gila sekaligus brilian tersebut melahirkan film paling lebay sejagat. Bersiaplah untuk “Mutant Girls Squad”, bersiap untuk apa? tentu aja siap-siap memberikan jari tengah pada logika dan berputar-putar kegirangan dalam tornado kegilaan…

Jika Vampire Girl vs. Frankenstein Girl mengingatkan saya bagaimana seharusnya film “Twilight” dibuat dari awal, maka kali ini “Mutant Girls Squad” akan terlihat seperti versi norak dari film X-Men, atau lebih tepatnya X-Women. Berdurasi 85 menit saja, kita akan diperkenalkan dengan Rin (Yumi Sugimoto) di awal cerita. Seorang murid sekolah yang mendapat siksaan batin dan juga fisik karena jadi bahan kekerasan dalam sekolah alias di-bully habis-habisan oleh teman sekelasnya sendiri, sekelompok anak perempuan tidak punya kerjaan yang kebetulan punya kuasa karena faktor orang tua dan seenaknya mengganggu murid lain yang lemah. Selagi Rin diperlakukan tidak menyenangkan serta dipermalukan di sekolah, ada sesuatu yang aneh terjadi dengan tangan kanannya. Sampai di rumah, ternyata kedua orang tuanya sudah menyiapkan pesta kejutan untuk anak satu-satunya yang sedang berulang tahun pada hari itu. Namun kejutan yang sebenarnya baru akan tiba ketika sang Ayah membuka jati dirinya yang selama ini disembunyikan, sambil membuka baju dan memperlihatkan monster merah bergigi yang tumbuh di puting susu dan kelaminnya (WTF), dia mengatakan dia adalah seorang mutan.

Sayangnya kejutan seumur hidup lewat pesta ulang tahun dan mendapati dirinya adalah seorang setengah mutan dan setengah manusia harus segera berakhir ketika pasukan bersenjata tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan membunuh sang Ibu dengan biadab. Hey tunggu dulu apakah pasukan anti-mutan ini punya hidung yang mengeluarkan peluru? ok ternyata saya tidak salah liat, topeng petruk mereka sanggup memuntahkan puluru seperti senapan mesin namun lewat hidung (awesome!). Mereka juga dengan keji memenggal  kepala ayah Rin, sekarang yang berulang tahun harus rela kuenya dihiasi kepala sang ayah, yang walau terpenggal masih bisa bicara dan memerintahkan tubuhnya melawan pasukan bertopeng tersebut. Rin pun berhasil melarikan diri karena pengorbanan ayahnya tapi masalah belum berakhir karena sekarang seisi kota yang menganggapnya monster bersiap melawannya juga. Rin dengan kekuatan mutan-nya dan tangan kanannya yang sudah berubah membantai siapa saja tanpa ampun, seisi kota pun penuh dengan mayat-mayat korban kemarahan Rin. Akhirnya Rin bertemu dengan Kisaragi (Tak Sakaguchi), yang memimpin sebuah kelompok perlawanan terdiri dari mutan-mutan. Kisaragi pun melatih Rin agar siap melakukan serangan baik terhadap manusia dan menguasai Jepang.

Tidak salah ketika saya menobatkan “Mutant Girls Squad” sebagai film terbaik INAFFF tahun ini (berbagi tempat dengan Surprise Movie dan Monsters), karena dari keseluruhan film yang beruntung bisa saya lihat di festival ini (total 10 film), hanya film inilah yang sanggup menjejalkan saya dengan hiburan paling gila dan yang paling bertanggung jawab membuat saya tertawa sampai kesakitan. Ditambah ekspektasi saya pun seakan ditampar bolak-balik karena film ini toh berhasil melompati harapan awal saya. Apa yang muncul di bayangan betapa gilanya film ini nantinya, ternyata tidak disangka-sangka justru jauh lebih sakit jiwa dari apa yang saya bayangkan. Ketiga sutradara yang sebelumnya sudah terkenal hobi membuat film-film tidak berlogika, tidak masuk akal, dengan tingkat gore yang tumpah ruah berlebihan (tapi jangan dibayangkan akan sadis sebaliknya film-film tersebut hanya berniat untuk ditertawakan sebagai hiburan). Nishimura, Iguchi, dan Tak Sakaguchi kembali memuntahkan ide-ide “busuknya” yang brilian dan lebih brilian lagi ketika ide tersebut dijadikan satu lalu disumbatkan kedalam film ini.

Saya tidak akan menuntut balik Nishimura dan kawan-kawan ke pengadilan karena sudah sukses membuat saya hampir gila. Bagaimana tidak disangka sakit jiwa ketika lebih dari 1 jam saya tidak berhenti tertawa, bukan lagi tertawa kecil tapi mulut ini sudah terbuka lebar (mungkin sudah bisa dijejalkan buah favorit saya, semangka, serius). Bukan tanpa alasan ketika bentuk sederhana dari sebuah apresiasi itu terasa sangat berlebihan, jika tidak karena “Mutant Girls Squad” memang menyiapkan berbagai adegan-adegan yang seperti bom waktu yang tinggal menunggu detiknya berakhir lalu meledak, melontarkan saya jauh ke sebuah lapangan khayalan dimana Nishimura sedang asyik menempelkan gergaji mesin ke tempat yang tidak semestinya. Imajinasi Nishimura dan kawan-kawan bukan lagi dikategorikan sebagai wujud liar dari hasil kreativitas otak mereka, sebaliknya sudah terjun bebas ke dalam imajinasi liar yang super liar.

Walaupun saya sudah biasa melihat bagaimana Nishimura dan kawan-kawan mengemas filmnya dengan segala macam kekonyolan, “Mutant Girls Squad” ternyata masih saja mampu membuat saya terkejut, seolah saya baru pertama kali menonton film-film seperti ini. Film ini adalah sebuah produk sinting, dimana orang-orang yang membuatnya sudah tidak peduli filmnya untuk terlihat berkelas, tapi bermodalkan niat untuk membuat film yang murni untuk menghibur penonton dengan cara mereka sendiri. Pada akhirnya pun, Nishimura dan kawan-kawan seperti membentuk kelas tersendiri, berbeda, dan terlihat sangat ekslusif. Seperti juga film-film sejenisnya, “Mutant Girls Squad” masih terdiri dari visual-visual efek yang sangat menggelikan, adegan pertarungan yang komikal dan konyol, ditambah alur cerita yang bisa terlihat dangkal dengan mata normal tapi akan berubah sangat brilian ketika saya memakai kacamata 3D yang terbuat dari kertas koran lalu diwarnai dengan spidol pinjaman dari warung sebelah.

Formula freak tersebut pun dilipat-gandakan oleh bersatunya otak-otak sinting Iguchi, Nishimura, dan Sakaguchi, menghadirkan satu persatu adegan ultra menjijikan, luar biasa menggelikan, dan super konyol. Melihat mutan yang bisa mengeluarkan gergaji mesin dari bokong atau mutan lainnya menghunuskan pedang dari payudaranya saja sudah jadi alat hipnotis yang jitu, membuat saya lupa dengan “kedangkalan” cerita. Apalagi ditambah dengan tumpukan hiburan SUPER FUN-TASTIC berisi bergalon-galon darah yang tidak malu-malu berpesta keluar dari variasi potongan-potongan tubuh prostetik yang kelihatan sekali bohongan. Tapi sekali lagi semua kekonyolan, visual efek Nishimura yang cheesy, dan trik-trik dramatisasi yang bodoh, justru tidak membuat saya membuang muka dan keluar dari bioskop, sebaliknya menarik saya semakin jauh untuk menikmati permainan sinting film ini. Dari awal “Mutant Girls Squad” dengan tanpa basi-basi sudah berhasil memaku saya di bangku penonton, selanjutnya saya seperti orang yang kekenyangan tapi masih terasa lapar, pengalaman menonton di bioskop yang begitu istimewa.

6 thoughts on “INAFFF 2010: Mutant Girls Squad

  1. jiah…tengkoraknya 4…gw aja lima…wkwkwk… tapi emang, Mutant Girl Squad ini film terbaik INAFFF tahun ini…. menyusul Dream Home terus Alien vs Ninja…😀

  2. mantap gan, jujur saya sendiri juga penggemar film gore n violent yg kayak gini….
    dimulai pertama kali menonton film samurai princess, saya udah jatuh cinta dengan genre sinting yang satu ini…. di tambah lagi judul2 selanjutnya kayak vampire girl vs frankennstein girl dan mutant girl squad…. teman2 saya ngerasa jijik dan takut ngeliat nih film, saya sendiri malah tertawa terbahak2….
    kirain cuma saya sendiri yang gemar akan jenis film ini, ternyata ada juga penggemarnya kyak agan…
    hehehehhe….

  3. Ane nonton film ini di Laptop, malah dikira nonton JAV,,,

    Entah kenapa, sinematografi film ini memang mirip seperti sinematografi JAV bergenre Fantasi,,, apalagi emang tampang-tampak cewek Jepang yg bagi sebagian orang JAV banget,,,

    Adegan-adegan humor berbau sexual juga ada di film ini, misalnya Payudara yg keluar pedang katana, bokong cewek yang keluar chainsaw,,, laki-laki yg mutasi di payudara dan penis nya,,, dan ada banci yg lagi mengereksikan bagian mutant-nya lalu gagal (impotent),,

    Apalagi paha dimana-mana, dan pemeran utama yang menggunakan baju sekolah kemana-mana😀

    Jepang memang juaranya kalo bikin genre fantasi,,, sangat-sangat fantasi,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s