INAFFF 2010: Reykjavik Whale Watching Massacre

The catch of the day…is you!

Jika kita belum pernah mendengar satu pun film horor yang berasal dari Islandia, berbeda dengan negara-negara lain di Eropa, itu wajar saja karena salah-satu alasannya mungkin predikat negara tersebut yang masuk dalam daftar negara ke-3 terbaik untuk ditempati menurut versi PBB. Bagaimana mungkin Islandia jadi sumber teror jika negara tersebut memiliki penduduk yang terlihat bahagia dengan kualitas hidup yang tinggi. Tapi semua itu akan berubah ketika “Reykjavik Whale Watching Massacre” tiba-tiba muncul begitu saja seperti seekor paus yang kehabisan udara. Júlíus Kemp akan mengubah peringkat prestisius Islandia sebagai negara “baik-baik” menjadi negara yang akan membuat film horor pertamanya, menumpahkan sedikit darah ke lautannya yang dingin. Negara yang terletak di utara samudera Atlantik dan terkenal dengan pausnya ini tidak hanya akan berbagi pengalaman tentang perburuan paus tetapi juga memburu manusia. Dilihat dari lanskapnya, Islandia merupakan sebuah pulau besar yang dikelilingi lautan dan jauh dari daratan utama Eropa, jadi Kemp sudah berada di jalur yang benar dengan memanfaatkan lautan luas Islandia sebagai arena permainannya dalam film ini.

Saya beruntung bisa ikut menjadi saksi film horor pertama Islandia dengan menontonnya di INAFFF 2010, apalagi salah-satu penulisnya, Torsten Hvas, sempat mampir menyapa penonton Jakarta, meluangkan waktunya untuk “berbasa-basi” tentang latar belakang film yang mengambil judul nama ibukota Islandia tersebut, nice to meet you Mr. Torsten. Jadi apakah “Reykjavik Whale Watching Massacre” sanggup “mendidihkan” Islandia yang dingin, sekaligus mengejutkan Eropa dan dunia? Filmnya sendiri bermula dengan cerita sekelompok turis dari berbagai negara, Jerman, Jepang, dan Perancis yang berniat untuk bersafari, bukan di Afrika atau di kebun binatang, tapi di lautan Islandia, menonton paus. Dengan menumpang kapal nelayan yang dikapteni oleh Leatherface, oh maaf maksud saya Captain Pétur (Gunnar Hansen), para turis ini mengawali perjalanan dengan normal-normal saja. Sampai akhirnya mesin kapal mendadak rusak dan sang kapten mengalami hari paling buruk karena ulah bodoh turis Perancis pemabuk, Jean Francois (Aymen Hamdouch). Situasi makin buruk ketika satu-satunya kru kapal melarikan diri.

Beruntung para turis malang ini tidak berlama-lama terombang-ambing di kapal tersebut, karena pertolongan tiba tepat waktu dari sebuah kapal lain yang datang menghampiri dan mengantarkan mereka ke tempat aman. Ke tempat aman? itu yang ada dipikiran para turis ini, tetapi mereka tidak diturunkan di pelabuhan terdekat, sebaliknya berlabuh di sebuah kapal nelayan besar yang dihuni oleh keluarga kecil bahagia yang terdiri dari si Ibu yang lebih mirip nenek sihir dan dua orang anak, salah-satunya idiot. Keluarga ini pun langsung menyambut hangat tamu mereka ini dengan membacok kepala salah seorang turis. Annette (Pihla Viitala) dan turis lainnya pun pontang-panting berlarian menyelamatkan diri, masih terkejut dengan perlakuan istimewa sang tuan rumah dan berusaha mencari tempat bersembunyi dari kematian. Permainan petak umpet antara pemburu dan mangsanya pun dimulai dengan mengajak penonton untuk ikut memilih siapa yang pantas mati terlebih dahulu.

Alasan menonton film ini adalah: 1. judulnya panjang dan unik, menggabungkan paus dengan Massacre, apakah akan ada keterlibatan paus yang ikut membunuh? 2. tentu saja Gunnar Hansen, memangnya siapa laki-laki berambut putih ini? masih ingat dengan sang pembunuh legendaris yang hobi membawa gergaji mesin dengan wajah yang ditutupi topeng jelek, Gunnar adalah si Leatherface (The Texas Chain Saw Massacre). Alasan terakhir karena ini film pertama Islandia yang berlumuran darah, benarkah? mari kita buktikan bersama. “Reykjavik Whale Watching Massacre” mungkin akan mengingatkan kita dengan horor-horor slasher tahun 80-an, yang sebagian besar beralur lambat dengan adegan tebas-menebas yang masih terlihat kaku. Bedanya Júlíus Kemp mengemas film ini dengan visual horor yang lebih modern. Bagi mereka yang fine dengan alur yang bergeliat lambat hasil olahan Torsten Hvas dan Sjón Sigurdsson, mungkin film ini akan terlihat lebih menyenangkan ketimbang mereka penggemar horor modern yang mungkin akan melihat sebagai horor yang membosankan dengan pembicaraan yang bertele-tele dan adegan bunuh-membunuh yang terlihat malu-malu.

Film yang punya judul singkat “Harpoon” ini kenyataannya memang terombang-ambing dengan scriptnya yang terlalu basa-basi, berharap bisa memperkenalkan masing-masing karakternya, simpatik kepada mereka, dan memilah-milah siapa yang cocok jadi korban pertama dan siapa yang selamat. Tapi porsi perkenalan tersebut terlalu lama dan kita jadi dipaksa untuk menunggu bosan sampai akhirnya film ini memperkenalkan kita dengan keluarga gila yang depresi karena industri perikanan yang terpuruk, lalu memilih untuk membunuh para turis dan aktivis yang kebetulan tidak beruntung. Namun sekali lagi film ini mengecewakan, tampang mereka yang lebih mirip tetangga keluarga Sawyer dari film “The Texas Chainsaw Massacre 2”, tidak seimbang dengan perlakuan mereka kepada korban-korbannya, bisa dibilang terlalu sopan. Kemp yang mengemas film ini dengan nuansa black comedy, menambah sang pemangsa jadi terlihat sedikit konyol dan adegan demi adegan sadisnya pun justru mengundang kita jadi ingin tertawa ketimbang bersorak ketakutan.

Paket Gore yang terbalut dengan black comedy ini memang tidak terlalu mengganggu saya menikmati setiap menu kesadisan yang disajikan Kemp. Walau Kemp mengesekusi setiap adegan brutalnya masih lebih “bersahabat” ketimbang slasher-slasher modern yang belakangan muncul, tapi semua kepala yang terpenggal, perut yang tersayat, darah yang mengalir, dan adegan-adegan sadis lainnya masih terbilang menghibur mata dan membawa saya sedikit bernostalgia dengan era horor slasher 80-an. Sayangnya hiburan tersebut tidak betah berlama-lama hinggap ketika film ini bergulir menuju menit-menit akhir durasinya, 90 bisa dibilang terbagi menjadi 30 menit perkenalan yang membosankan, 20 menit bacok-bacokan yang cukup menegangkan, 20 menit kucing-kucingan dan gore yang menyenangkan, terakhir 20 menit Kemp yang kebingungan ingin membawa film ini kemana dan penonton sekali lagi diajak resah menunggu film ini berakhir.

Parahnya lagi film ini terlihat kesulitan untuk memilih satu karakter utamanya, karena semua karakter yang penting dan tidak penting berusaha ingin tampil dan makin membuat plotnya menjadi keruh berlumpur. Hasilnya semuanya justru kehilangan simpatinya karena begitu mengganggu keasyikan saya untuk menikmati lebih banyak kesadisan dan saya hanya ingin mereka semua berakhir tertembus senjata-senjata yang digunakan untuk memancing paus karena sudah mengambil porsi adegan yang seharusnya bermandikan darah tetapi malah fokus kepada masing-masing karakter yang sedang melawan kebodohannya sendiri. “Reykjavik Whale Watching Massacre” seharusnya bisa fokus kepada gadis Jepang bernama Endo, yang kurang terekspos latar belakangnya padahal satu-satunya karakter yang menjanjikan, sayangnya Kemp lebih memilih menyembunyikan Endo diam-diam dibalik jalan cerita yang berbelit-belit dan gore-fest yang terlalu malu-malu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s