JIFFEST 2010: Waiting For Superman

One of the saddest days of my life was when my mother told me Superman did not exist. I was like what do you mean he’s not real. And she thought I was crying because it’s like Santa Clause is not real and I was crying because there was no one coming with enough power to save us ~ Geoffrey Canada

Setelah memproyeksikan isu global warming dengan apik, lengkap dengan jabaran fakta-fakta yang sangat tidak menyenangkan dalam “An Inconvenient Truth”, film dokumenter tahun 2006 yang disutradarai oleh Davis Guggenheim tersebut laksana “pecut” bagi siapa saja yang menontonnya untuk segera bertindak menyelamatkan planet bumi, siapapun anda, dari pemerintah sampai orang biasa seperti saya. Berbeda dengan dokumenter yang juga sukses memperoleh penghargaan Oscar untuk kategori film dokumenter terbaik ini, “Waiting For Superman” tidak lagi berbicara soal isu yang menceramahi dunia secara global, kali ini Guggenheim kembali menyambangi koridor-koridor sekolah di Amerika Serikat, seperti apa yang dilakukannya di tahun 2001 lewat film dokumenter “The First Year”, sekedar untuk mengingatkan negara adidaya tersebut bahwa sistem pendidikan mereka yang pernah punya predikat sebagai negara dengan tingkat kualitas pendidikan yang tinggi, sekarang sedang menggerogoti masa depan anak-anak.

Sistem tersebut telah gagal berdaptasi dengan dunia di sekitarnya, Amerika sepertinya masih terlena dengan predikat pendidikannya yang prestius di masa lalu, sampai akhirnya mengorbankan benih-benih kecil yang sedang tumbuh menggapai cita-citanya. Sistem yang dibuat beberapa dekade lalu tersebut kini makin terlihat sangat-sangat tua dan memang perlu ada seorang “superman” untuk memperbaiki itu semua, apalagi dengan kenyataan dalam urusan pendidikan Amerika tidak lagi nomor satu. Amerika seperti orang yang berpura-pura buta dan tuli, tidak lagi peduli karena menganggap sistem mereka baik-baik saja, tapi bagaimana bisa baik-baik saja ketika posisi prestisius mereka sekarang direbut oleh negara-negara lain. Dengan narasi yang begitu dalam, kuat dan terlihat kompleks, Guggenheim membuka satu-persatu letak sumber kegagalan sistem pendidikan Amerika, seperti birokrasi yang terlalu kaku dan berbelit-belit, belum lagi banyaknya lembaga dan institusi negara yang terlibat dalam sistem yang mengendalikan bagaimana cara mereka mengedukasi anak-anak mereka.

Berbagai standar yang mengatur sistem pendidikan pun justru menjadi bumerang ketika standar-standar kuno tersebut kini hanya menjadi penyebab terbatasnya ruang bagi sistem pendidikan untuk berubah. Guggenheim pun tidak lupa mempermasalahkan perserikatan guru yang seakan menutup gerbang sistem pendidikan tersebut untuk keluar mencari solusinya, karena mereka terjebak dalam aturan yang sudah membuat mereka nyaman selama ini, untuk apa bersusah payah keluar dari “comfort zone”. Satu contoh aturan itu adalah adanya sebuah kontrak kerja panjang yang membuat seorang guru berlabel “bad” punya tameng untuk membuat mereka tidak dipecat. Sistem tidak bisa memilah-milah kinerja antara guru yang baik dan tidak baik, mau mengajar dengan kualitas tinggi atau hanya membaca koran di kelas tanpa peduli dengan murid-muridnya, mereka toh tetap akan digaji. Bahkan seorang guru yang kedapatan melanggar kode etik pengajar, dengan tenang bisa duduk di ruang yang disebut oleh Guggenheim sebagai “rubber room”, disini para guru dengan santai sambil tidur atau bermain kartu menunggu dengan sabar kasus mereka diselesaikan, bisa berbulan-bulan, bisa sepanjang tahun, tetapi masih tetap akan digaji. Amerika sudah membuang-buang uang begitu banyak namun dengan hasil yang tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka keluarkan, mubajir.

“Waiting For Superman” tidak hanya menyajikan fakta-fakta dan statistik-statistik yang bisa dibilang sangat mengganggu, seperti catatan di salah-satu negara bagian di Illinois, dimana satu diantara 57 dokter kehilangan lisensi medisnya, lalu satu dari 97 pengacara juga kehilangan pekerjaannya, sedangkan hanya satu diantara 2500 guru yang kehilangan hak mengajarnya, ini semua lagi-lagi berkat aturan tak tersentuh dari perserikatan guru. Guggenheim juga tidak melupakan untuk mendekatkan kita dengan orang-orang yang “tercekik” secara langsung dengan sistem pendidikan yang semerawut tersebut, mereka adalah para orang tua dan tentu saja anak-anak mereka. Ketika kita sudah dibuat kenyang dengan berbagai fakta pahit yang “menghibur” rasa penasaran kita tentang sistem edukasi di Amerika, dokumenter ini juga memotret mereka yang tidak beruntung, mereka yang terpaksa berjalan jauh dengan kaki-kaki mereka yang tak pernah menyerah hanya untuk mendapat edukasi terbaik. Disinilah Guggenheim berhasil menyentil dengan keras emosi saya lewat wajah anak-anak lugu yang berjuang demi pendidikan berkualitas, “berjudi” untuk sekolah terbaik, berharap mereka sangat-sangat beruntung.

Anthony, seorang anak dari Washington yang duduk di kelas 5 diasuh oleh sang nenek, mendaftar di Seed School dan harus bersaing dengan 64 anak lainnya untuk 24 kursi yang tersedia. Sekolah negeri ini adalah pilihan yang tepat karena memiliki reputasi lulusan terbaik dimana 9 dari 10 siswanya berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi. Francisco, seorang bocah kelas satu berumur sekitar 6 tahun berasal dari Bronx, harus rela bersaing dengan 792 pendaftar hanya untuk 40 kursi yang disediakan oleh sekolah Harlem Success Academy. Bianca yang tahun ini akan memulai sekolah taman kanak-kanak, mendaftar di sekolah yang sama, untuk mendapat 35 kursi, dia harus bersaing dengan 767 anak lainnya yang juga ikut mendaftar. Daisy, seorang gadis cilik lugu kelas lima yang memiliki cita-cita menjadi seorang dokter karena ingin menolong orang yang memerlukannya, terpaksa harus bersaing dengan 135 pendaftar untuk 10 kursi di sekolah Kipp LA Prep. Terakhir ada Emily, kelas 8 dan tinggal di Silicon Valley, yang berharap bisa diterima di sekolah yang lebih baik untuk memperbaiki kekurangannya di bidang studi matematika.

Ketika Amerika berjuang untuk merangkak naik dari ranking 25 untuk matematika dan 21 untuk sains, dengan 30 negara maju lainnya. Anthony dan teman-temannya juga sedang berjuang mendapatkan sekolah yang mereka inginkan, untuk masa depan yang terbaik. Keadaan ekonomi orang tua yang bisa dibilang tidak seberuntung orang lain, membuat mereka hanya bermodalkan keberuntungan untuk bisa masuk sekolah tersebut. Masa depan mereka ditentukan oleh bola-bola berangka, jalan mereka menuju pendidikan yang terbaik ditentukan oleh meja lotre. Sebuah kenyataan yang mengejutkan saya, saat tahu bagaimana cara sekolah-sekolah ini menyeleksi anak-anak yang mendaftar, puluhan bahkan ratusan kursi berjejer penuh dengan orang tua yang berharap nama atau nomor yang mereka pegang di tangan terpanggil. Apakah Daisy termasuk dari 10 anak yang beruntung bisa masuk Kipp LA Prep? nasib mereka tidak berada di tangan Guggenheim, tapi ketika bola-bola berangka tersebut jatuh, Guggenheim berhasil mengingatkan saya betapa berharganya sebuah pendidikan dan betapa beruntungnya mereka yang masih bisa mencicipi bangku sekolah, ketika anak-anak lainnya justru masih harus menunggu keberuntungan mereka demi menapaki masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s