JIFFEST 2010: Scott Pilgrim vs. the World

This song is for the guy who keeps yelling from the balcony and it’s called “We Hate You, Please Die.” ~ Crash

(#Nowplaying The Clash at Demonhead – Black Sheep) Biasanya film-film yang diadaptasi dari novel laris, novel grafis, komik, atau game tidak bisa terhindar dari yang namanya dibanding-bandingkan dengan sumber adaptasi film yang bersangkutan. Misalnya pembaca setia komik Kick-Ass karya Mark Millar dan John Romita Jr, mungkin akan kecewa dengan filmnya karena “berkhianat” tidak terlalu setia dengan jalan cerita di komik atau terlalu banyak improvisasi yang dilakukan sutradara Matthew Vaughn, atau tidak sesadis apa yang digambarkan di komik. Beruntung saya adalah orang yang menganggap film itu suatu karya yang berbeda, walau saya juga akan mencoba membanding-bandingkan dengan komiknya (masih berbicara tentang Kick-Ass, sebagai contoh). Pada akhirnya penilaian saya terhadap Kick-Ass diusahakan untuk tidak dipengaruhi oleh komiknya sendiri, murni menilai film tersebut sebagai suatu karya yang berdiri sendiri. Namun semua basa-basi diatas tidak berlaku lagi ketika berurusan dengan Dragonball Evolution. Nah, berbicara soal Scott Pilgrim vs. the World (film yang akan saya review), beruntung saya tidak (belum) membaca 6 seri novel grafisnya, jadi pada saat menonton saya tidak perlu terganggu apakah adegan ini dan itu setia dengan setiap frame yang ada di novel grafis karya Bryan Lee O’Malley tersebut.

Film yang disutradarai oleh Edgar Wright (Shaun of the Dead, Hot Fuzz) ini bercerita tentang Scott Pilgrim (Michael Cera)—selanjutnya akan saya panggil Scotty—seorang pemain bas di band bernama “Sex Bob-omb”, terdiri dari Kim Pine (Alison Pill) pemain drum dan juga mantan pacar Scotty, lalu ada Stephen Stills (Mark Webber) pemain gitar sekaligus penyanyi di band tersebut. Scotty tinggal bersama sahabatnya, Wallace Wells (Kieran Culkin) dan mempunyai kakak perempuan yang bekerja di kedai kopi, Stacey Pilgrim (Anna Kendrick). Setelah ditinggal pergi oleh Envy Adams (Brie Larson) yang sekarang makin populer dengan bandnya The Clash at Demonhead, Scotty mulai pacaran lagi dengan cewek yang jauh lebih muda, Knives Chau (Ellen Wong). Tidak disangka-sangka Scotty bertemu dengan Ramona Flowers (Mary Elizabeth Winstead) di sebuah pesta, yang ternyata adalah cewek impian Scotty, dalam artian Scotty memang benar-benar memimpikan cewek yang suka berganti-ganti warna rambut ini. Scotty pun jatuh cinta dengan Ramona dan perlahan melupakan Knives. Namun untuk mendapatkan sang gadis impian, Scotty terlebih dahulu harus mengalahkan 7 mantan pacar Ramona, yang tergabung dalam liga “seven evil exes” dan punya dua misi: menghancurkan Scotty dan mengkontrol kehidupan asmara Ramona.

Sebuah pengalaman menarik bisa menonton Scott Pilgrim vs. the World di layar lebar, terima kasih pada Jakarta International Film Festival (Jiffest 2010) yang akhirnya dengan baik hati membawa film yang ditunggu-tunggu tersebut ke tanah air. Langsung mencuri perhatian dengan logo Universal versi 8 bit lengkap dengan musik pengiring yang diubah juga ke versi MIDI, film ini pun melanjutkan visual-visualnya yang “menggairahkan” mata selama 112 menit durasinya. Mengadaptasi 6 seri novel grafis menjadi satu film? wow oh wow, pasti pekerjaan yang sulit untuk Michael Bacall dan juga Edgar Wright yang ikut juga menuliskan skenario film ini. Mari kita tengok dari segi cerita, memang tidak menawarkan sesuatu yang baru, Scotty bertemu dengan gadis impian dan bam-bam! akhirnya dia jatuh cinta dan berupaya keras mendapatkan Ramona, tipikal film romansa remaja yang juga diisi dengan cemburu, perselingkuhan, persaingan antar mantan pacar, dan juga rintangan-rintangan sebelum akhirnya si cewek dan si cowok bersatu. Bedanya Scott Pilgrim vs. the World mengajak kita di dunia “antah berantah”, walau kita tahu cerita di film ini adalah masih berlokasi dibumi tepatnya Toronto, Kanada, tapi disini cinta tidak diperebutkan dengan biasa dengan karakter-karakter yang juga tidak biasa.

Faktanya, dunia Scott Pilgrim vs. the World bisa diibaratkan sebuah permainan dingdong, yang pemainnya terdiri dari Scotty, Ramona, dan kawan-kawan, Edgar Wright sepertinya mampu membuat pembaca novelnya atau penggemar game bersorak-sorai, lihat saja bagaimana dia berhasil menciptakan dunia yang liar kental dengan elemen-elemen video game. Mereka yang pernah mencicipi permainan video game pasti tidak asing dengan efek-efek yang akan diselipkan pada setiap pertarungan Scotty dengan mantan-mantan pacar Ramona—yup untuk memperebutkan cinta Ramona, Scotty harus bertarung dengan ke tujuh mantan pacarnya—dari kata-kata “versus” yang selalu hadir sebelum baku hantam dimulai, tempelan “Kroww”, “Kapoow” yang makin mendramatisir pertarungan, muncul kata-kata “level up”, sampai ada nyawa tambahan layaknya bonus di permainan video game. Tidak hanya dalam adegan pertarungan saja Edgar Wright memberikan efek “lebay”-nya tapi juga hampir di setiap adegan, entah itu latihan band sampai adegan romantis Ramona dan Scotty, semua itu diciptakan karena toh memang film dikemas dan fokus pada bagaimana menghipnotis penonton dengan visualnya yang eye-candy dengan segala pernak-pernik dramatisasi ala game dan komik.

Jujur saja rentetan visual imajinatif dan efek-efek mencolok mata tersebut memang telah sanggup membuat saya terpana beberapa kali, tapi seolah kebuntuan yang terjadi ketika saya bermain game, menonton film ini juga membuat saya mengalami kebuntuan dalam hal menikmatinya. Setelah beberapa pertarungan yang super-WAH dan super-WAH lain-nya, menunggu pertarungan lainnya justru membuat saya bosan karena apa yang akan ditampilkan film ini sama saja, kenyataannya memang seperti itu, walau terbukti luar biasa liar, tapi visual-visual liar tersebut monoton. Ketika tidak ada yang berkembang dengan ceritanya yang berputar-putar diantara “kekikukan” cinta yang dihadapi Scotty. Apa yang menjadi fokus Edgar Wright dari awal pun, yaitu visual-visual komikal dan ala game itu pun punya keterbatasan level kenikmatan, menarik di awal, tetapi ketika sampai di level-level terakhir justru meng-KO-kan saya dengan kata-kata menjemukkan yang tiba-tiba saja jatuh menimpa. Jika saya menyukai chemistry antara Cera dan Kat dalam film Nick and Norah’s Infinite Playlist, disini Scotty dan Mary Elizabeth Winstead tidak terkoneksi dengan baik antara keduanya. Untuk urusan akting, Kieran Culkin justru lebih mencuri perhatian dengan humor-humornya, ketimbang pemain lain, termasuk si Cera sendiri. Terakhir, Scott Pilgrim vs. the World memiliki lagu-lagu pengiring yang syukur-nya sangat pas mendampingi setiap aksi drama-action-romantik Scotty, termasuk lagu “Black Sheep” (aslinya dibawakan oleh Metric) yang menjadi favorit saya sampai sekarang menulis review ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s