My Review is Sucks: Buried

I need one million dollars by nine o’clock tonight or I’ll be left to die in this coffin! ~ Paul Conroy

“Buried” membuka menit pertamanya dengan kegelapan total, beberapa menit penonton hanya akan disuguhi suara seseorang yang terengah-engah sulit bernafas, penonton hanya bisa mendengar suara gaduh seseorang tampak berusaha memberontak keluar dari suatu tempat yang sempit, pertanyaan siapa dia dan apa yang terjadi seketika langsung hinggap dalam benak masing-masing penonton, termasuk saya yang ketika itu duduk di deretan kursi dua teratas. Sekilas saya mengingat bangun dari tidur dalam suasana yang sama—bukan mimpi, saya tahu itu karena saya dalam keadaan sadar walau belum 100 persen—beberapa saat terpikir bahwa ini mimpi, selanjutnya saya berpikir “apakah saya buta?”, momen yang menakutkan walau hanya berlangsung beberapa menit, sampai saya pada akhirnya sadar untuk bangun dari tempat tidur dan mendapati bahwa ini hanya listrik padam, leganya saya sambil mencari saklar yang berada di luar rumah.

Mungkin itulah yang dirasakan oleh Paul Conroy (Ryan Reynolds) sesaat dia sadar dari pingsannya, mendapati dirinya dalam ruang gelap gulita, susah bergerak dalam keadaan mulut terikat. Rodrigo Cortes, sutradara asal Spanyol ini sudah sukses mengantarkan mimpi buruk setiap orang pada menit pertama, mengantarkan ketakutan orang pada ruang gelap, mengantarkan ketakutan orang terikat tanpa tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi tidak dengan Paul Conroy, ini bukanlah mimpi buruk yang setiap saat bisa hilang ketika dia terbangun. Chris Sparling (penulis film ini) memilih sebuah takdir yang sangat pahit bagi Paul Conroy, yang hanya seorang pengemudi truk. Paul Conroy akhirnya bisa bebas membuka mata ketika dia berhasil menyalakan zippo, yang secara kebetulan tidak tahu bagaimana caranya bisa ada ditangannya yang terikat.

Paul Conroy berada di sebuah peti mati! dengan cahaya yang terbatas dia bisa melihat itu, dia terperangkap entah seberapa meter di dalam tanah, di dalam peti kayu. Selama hampir 20 menit, kita pun diajak untuk merasakan ketakutan, kegelisahan, dan kebingungan Paul yang kala itu masih terbata-bata mengingat apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Tidak ada narasi, tidak ada dialog hanya ada Paul yang meneriakkan ketakutannya sambil berupaya keluar dari peti tersebut, tapi segala upayanya hanya sia-sia belaka dan upaya saya untuk menebak-nebak apa yang terjadi dengan Paul juga sama sia-sianya. Okay saya pun memutuskan tidak ambil pusing untuk terus bermain tebak-tebakan dan fokus untuk menikmati sebuah “kemalangan”, Paul pun akhirnya bisa sedikit bernafas lega pada saat sebuah telepon genggam, lebih tepatnya blackberry, bergetar tanda ada panggilan masuk. Paul pun dengan susah payah dalam kondisi sesempit itu dan oksigen yang terbatas untuk mencoba meraih alat komunikasi yang mungkin bisa menolongnya.

Untuk pertama kalinya kita akan mendengar suara orang lain, selain suara gelisah Paul, untuk pertama kalinya juga satu-persatu pecahan puzzle terkumpul, pertanyaan kenapa Paul bisa ada di peti mati tersebut akhir sedikit terkuak. Panggilan tersebut berasal dari orang yang menculiknya, meminta tebusan 5 juta dolar atau dia akan dibiarkan mati, Paul juga akhirnya ingat jika rombongannya sebelumnya diserang oleh orang tidak di kenal. Dengan menggunakan telepon genggam, Paul pun berusaha menghubungi semua orang, termasuk istrinya, perusahaannya, dan tidak ketinggalan FBI, apakah Paul akhirnya bisa diselamatkan? apakah kita juga akan “diselamatkan” untuk tidak bosan melihat film yang hanya menyorot satu orang di satu lokasi sempit atau justru sebaliknya “Buried” berhasil mengubur rasa bosan itu?

“The Amityville Horror” di tahun 2005, adalah kali terakhir saya melihat Ryan Reynolds berakting begitu ketakutan, kala itu karena melihat rumahnya berhantu. Semenjak film horor ini saya jarang lagi melihat dia “merinding”, karena Reynolds pun lebih asyik bermain dalam drama/komedi romantis. Sebelum melihat dia berakting heroik dalam balutan kostum superhero di film “Green Lantern”, film karya Rodrigo Cortes “Buried” ini bisa dibilang ajang pembuktian terbaik bagi Reynolds dimana kita bisa melihat akting yang begitu maksimal dari seorang Reynolds, yang juga kelak akan memerankan tokoh jagoan Deadpool ini. Berbeda dengan “Devil” yang juga memanfaatkan lokasi sempit sebuah lift, di sini lakon yang dihadirkan bukan lagi lima orang yang terjebak melainkan satu orang yang terkurung dalam peti mati. Jika dalam film yang ditulis oleh M. Night Shyamalan, kita masih diajak untuk bernafas bebas keluar dari kurungan lift karena film ini juga menceritakan keadaan di luar lift tersebut, “Buried” tidak melakukan itu, film ini memblokir akses penonton untuk mengetahui apa yang terjadi dibalik peti kotak kayu tersebut. Yah kita akan dikurung bersama Paul Conroy yang diperankan oleh Reynolds, selama 90-an menit tanpa sedikitpun diberi celah untuk mengintip keluar.

Rodrigo Cortes melakukan tugasnya dengan BRILIAN, memanfaatkan satu orang pemain saja dengan lokasi yang itu-itu aja plus hanya sebuah peti mati sempit dan gelap dengan minimnya cahaya. Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya bagaimana Cortes melakukan itu, mengesekusi cerita yang hanya menyorot seorang yang terjebak dalam peti mati, apa yang akan membuat film ini menarik? pertanyaan tersebut pun akhirnya seperti “diludahi” balik oleh Cortes. Ternyata apa yang ditawarkan film yang premier di festival film Sundance ini adalah sebuah serangkaian cerita yang tidak hanya menarik, tetapi bisa membuat penonton terpaku di bangkunya masing-masing, “menghibur” saya dengan suapan-suapan ketegangan yang maksimal. Minimnya cahaya, sempitnya ruang gerak, sesaknya nafas, diperlakukan sangat istimewa sebagai “teman setia” yang kerjanya menggenjot mood kita untuk tetap sejalan dengan setiap hembusan nafas Paul yang makin terburu-buru memasukkan udara ke paru-paru. Cortes dengan cemerlang sanggup mengisi setiap menit film ini dengan ketegangan demi ketegangan yang dijamin membuat kita juga ikut bersumpah-serapah, berteriak kasar seperti apa yang dilakukan Paul.

“F**k you Cortes!” bagaimana dia bisa membuat film ini begitu emosional, tidak hanya pintar mengarahkan Ryan Reynolds untuk memaksimalkan performanya, tetapi juga dia sanggup membuat setiap emosi Reynolds untuk berinteraksi dengan penontonnya. Paul sukses melempar setiap ketakutan, kebingungan, rasa hopeless-nya, kegelisahan, dan juga termasuk kata-kata kotornya untuk tersampaikan dengan tepat hinggap di bangku para penontonnya. Ketika Paul kesal dengan pihak perusahaan, FBI, dan pihak terkait lainnya, Cortes juga dengan cerdik mampu menyelipkan sebuah pesan anti-perangnya, memberi sebuah gambaran “bodoh”-nya pemerintah Amerika ketika berurusan dengan masalah penyanderaan warganya, semua seakan berbelit-belit dan penuh birokrasi ketika semua menyangkut warga sipil dan bukan seorang jenderal. Ketika saya juga ikut memaki-maki perlakuan mereka kepada nasib hidup Paul, Cortes entah dimana sepertinya tersenyum karena sudah berhasil membuat penonton termasuk saya, untuk ikut melebur ke dalam film, untuk ikut terperangkap dalam peti, untuk ikut terkubur dalam ketegangan.

“Buried” pun tidak hanya pintar memanipulasi emosi, mengingatkan akan sebuah mimpi buruk, tetapi juga sanggup membuat kita senantiasa berada di posisi tersudut, mencekam dengan setiap ketegangan yang dimasukkan Cortes sekop demi sekop sampai akhirnya saya terkubur dengan ketegangannya. Bahkan film ini sanggup mengingatkan betapa satu bar status baterai telepon genggam itu benar-benar penting, siapapun pasti pernah berada pada posisi genting, dimana ketika handphone diperlukan justru tidak bersahabat karena “low-batt” dan kita tidak membawa charger, hidup seperti berakhir begitu saja. Film ini mengajak kita ke momen tersebut namun melipat-gandakan situasinya menjadi berpuluh kali lipat, seakan hidup Paul tidak hanya tergantung pada takdir yang sedang berlomba dengan waktu, tetapi juga bergantung pada baterai telepon genggam.

Pengambilan gambar yang menyorot layar status baterai pun sesekali diperlihatkan untuk menambah ketegangan. Berbicara soal bagaimana film ini bermain kamera, hal ini juga yang jadi kelebihan film ini. Entah apa yang dilakukan Eduard Grau dengan kamera tersebut, yang jelas dia berhasil menangkap momen-momen Paul versus peti mati dengan luar biasa apik. Setiap pergerakan kamera, memutar 360 derajat, meng-close up, dan juga menyorot lambat dari atas telah berhasil menghias visual film ini untuk selaras dengan ketegangan yang ingin dimunculkan. Ketika semua berjalan dengan brilian, sekarang tinggal bagaimana Reynolds mampu mengajak penonton untuk bermain “kubur-kuburan” dengannya, dan dia ternyata sanggup melakukannya juga dengan brilian. Cortes dan satu pemain bernama Ryan Reynolds sudah berhasil menutup rapat-rapat rasa bosan, walau dengan jalan cerita yang lambat. Namun jalan cerita tersebut memang dibuat tidak hanya untuk mengulur waktu tetapi sudah pas dalam usahanya membuat penonton menunggu, karena terkadang menunggu itu lebih buruk dari kematian itu sendiri. “Buried” sudah menyuguhkan 95 menit terbaiknya dengan menawarkan rentetan ketegangan dan juga kejutan demi kejutannya, giliran saya memberikan film ini tempat terbaik di daftar film terbaik 2010 dan memaku film ini dengan label ENDING terbaik tahun ini.

7 thoughts on “My Review is Sucks: Buried

  1. nonton di kamar aja sesaknya dapat banget apalagi di bioskop yang gelap gitu. Endingnya emang bagus….Good Ending..

    btw…pengen nontong ulang tapi di peti…pasti lebih keren jadinya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s