My Review is Sucks: Tron Legacy

Change the scheme! Alter the mood! Electrify the boys and girls if you’d be so kind. ~ Castor

Butuh waktu sekitar 6 tahun untuk original “Tron” (1982) merangkak dari sebuah konsep menjadi film yang utuh dan pada akhirnya dirilis pada 9 Juli 1982. Steven Lisberger, seorang animator yang akhirnya menyutradarai filmnya sendiri sudah memiliki ide dunia Tron sejak 1976, disusul dengan mendirikan sebuah studio animasi dimana awalnya Tron akan dikembangkan sepenuhnya dalam bentuk animasi, lalu keputusan akhirnya adalah menambahkan elemen live-action didalamnya. Beberapa studio besar menolak konsep campuran tersebut sampai akhirnya Disney-lah yang tertarik dengan proyek “Tron” ini. Hampir tiga dekade dari film pertama, sekuelnya “Tron: Legacy” pun akhirnya dirilis di penghujung tahun 2010. Disney sebenarnya sudah merencanakan membuat sekuel pada tahun 1990, rumor pun mulai bermunculan sejak saat itu, termasuk sekuel atau remake Tron yang akan ditangani oleh Pixar. Hingga selang bertahun-tahun kemudian, tepatnya di 2008, di ajang Comic-Con San Diego, sebuah teaser trailer berlabel TR2N tiba-tiba tayang. Akhirnya kita tahu sekuel “Tron” benar-benar sedang dikerjakan dibawah arahan sutradara Joseph Kosinski, sejauh mana dunia “Tron” berubah setelah ditinggal selama 28 tahun? bagi mereka yang pernah menonton film pertama ini adalah sebuah nostalgia.

“Tron Legacy” tentu saja akan jauh berbeda dari predesesornya, dilihat dari jeda tahun dengan rentang hampir tiga dekade, perkembangan teknologi berkaitan dengan dunia film pun sudah jauh melampaui apa yang sudah dicapai Tron kala itu. Belum lagi perbedaaan bujet, dari $13 juta untuk membangun “kesederhanaan” dunia Tron di 1982, hingga kali ini Disney rela menggelontorkan $200 juta untuk membangun obsesinya dari nol. Cerita yang ditulis oleh duo penulis seri televisi “LOST”, Edward Kitsis dan Adam Horowitz pun bergulir, menceritakan Sam Flynn (Garrett Hedlund) yang kehilangan sang ayah, Kevin Flynn (Jeff Bridges), sejak kecil. Ayahnya menghilang begitu saja 20 tahun yang lalu, meninggalkan Sam sebuah perusahaan, bukan perusahaan biasa, tetapi bisa dibilang “kerajaan” di bidang teknologi perangkat lunak, bernama Encom. Sejak saat itu, Sam tumbuh menjadi pemuda yang agak memberontak, hidup tak karuan, dan walau punya hampir sebagian besar saham Encom, dia tampaknya tidak peduli untuk duduk manis di kursi kantor melakukan meeting ini-itu. Sebaliknya, Sam lebih memilih untuk “iseng” setiap tahunnya, seperti apa yang dilakukannya tahun ini ketika Encom akan segera meluncurkan produk barunya. Dengan keahlian komputernya, Sam meng-hack Encom lalu meluncurkan produk tersebut secara gratis.

Setelah bersenang-senang dengan perusahaan ayahnya, Sam didatangi oleh Alan Bradley (Bruce Boxleitner), sahabat lama ayahnya, yang percaya bahwa sang ayah menghubungi dia lewat pager. Setelah 20 tahun, akhirnya Sam mendapat petunjuk aneh keberadaan sang ayah dari tempat permainan milik ayahnya bernama Flynn’s Arcade. Bersama motor Ducati-nya, Sam pun melesat ke tempat tersebut, disana dia menemukan ruang rahasia di balik permainan bernama Tron. Sam pun berinteraksi dengan sebuah komputer, mengetik beberapa perintah sampai akhirnya dia pindah ke dunia lain. Selamat datang ke The Grid, Sam! Joe Kosinski pun mengucapkan salam kepada penonton, selamat datang ke dunia “Tron: Legacy”. Dunia dimana arsitektur gedung sangat futuristik didominasi hiasan garis-garis yang menyala terang, dunia ini dipenuhi oleh program-program yang hilir-mudik kesana-kemari memakai kostum yang juga didominasi oleh garis-garis menyala. Layaknya manusia di dunia nyata, di dunia digital ini semua program juga memiliki pekerjaannya masing-masing, jika mereka tidak bekerja sebagaimana mestinya, sebuah mesin bernama Recognizer akan membawa mereka dan memilah mana yang diperbaiki dan mana yang akan dibuang ke dalam sebuah permainan.

Kosinski memperkenalkan dunianya begitu manis dan menghipnotis, semenjak berdiri menginjakkan kaki di The Grid, semua akrobatik visual efek langsung menyambut kita dengan pelukan hangat, menawarkan segala keindahan dunia TRON yang memang sudah terprogram untuk menjadi “AWESOME”. Kosinski sepertinya ingin membuktikan jika dia memang orang yang tepat untuk dipilih Disney duduk di bangku sutradara dan dia melakukan itu tanpa basa-basi di menit pertama kita berada di tengah kerumunan warga Tron yang bersorak-sorai, seperti menyemangati kita para penonton untuk juga bersorak menyambut setiap ke-seksi-an tarian visual efek yang berlomba untuk memuaskan mata para penontonnya. Kosinski ternyata memang menepati janjinya ketika berkata dia akan membuat “something” yang “cool”, kenyataannya film ini memang lebih dari kata-kata keren. Sutradara yang mempunyai “peliharaan” bernama Commodore di tahun 1982 yang dibuatnya dengan program Basic ini (lihat betapa cocoknya Kosinski dengan film ini, dia juga seorang computer nerd) dengan fasih menjabarkan setiap huruf “L-U-A-R B-I-A-S-A” menjadi konsep dunia digital yang fantastis, Kosinski sepertinya paham betul cara untuk membuat penonton mematung tak bergerak ketika “disc war” dimulai dan cakram-cakram yang berterbangan layaknya frisbee tersebut mulai memantul liar mencari mangsa dan menghancurkannya. Tunggu dulu ini baru hidangan pembuka…kan?

Kata-kata luar biasa yang hinggap di mata saya pun segera memudar ketika ternyata Sam mendapati ayahnya terkurung di dunia ciptaannya sendiri selama 20 tahun ini karena ulah Clu, program yang juga ciptaannya yang membelot. Sam dibantu oleh guardian cantik bernama Quorra (Olivia Wilde) akhirnya memutuskan untuk membawa ayahnya kembali ke dunia nyata melewati portal yang hanya bisa dibuka dari dunia luar, tapi tentu saja mereka harus siap menghadapi Clu dan pasukannya. Kita memasuki apa yang dinamakan sesi pertemuan ayah-anak, setelah dihibur-puas dan lezat selama hampir 20 menit dengan appetizer yang diramu dari resep “awesome” arsitektur, kostum, dan permainan maut di dunia Tron, seperti gladiator pada masa romawi namun versi digital, dan futuristik, ada perang frisbee dan adu balap motor super canggih bernama “light cycle”, semua dikemas dengan visual efek gurih yang membuat saya seakan ingin menjilati layar bioskop. Tapi jilatan tersebut mulai hambar saat cerita mulai mengisi porsinya, Edward Kitsis dan Adam Horowitz sepertinya kurang menghadirkan “jiwa” kedalam ceritanya. Entahlah, saya merasakan kekosongan ketika Sam dan ayahnya membicarakan kebebasan mereka, dan saya tidak merasakan kejahatan yang terdigitalisasi dalam diri Clu. Sama seperti para program yang hanya menuruti perintah namun bergerak hampa, jalan cerita di film ini juga bergulir mengalir mengikuti “trek” yang sudah dibuat oleh skrip Edward Kitsis dan Adam Horowitz, menghibur namun tak bernyawa. Ada beberapa momen yang bisa dibilang sanggup berinteraksi dengan penonton namun sisanya nihil, Apa yang tersisa hanya ide untuk menunggu visual-visual efek keren itu untuk kembali.

Sekali lagi ketika jalan cerita dan karakteristik setiap karakternya tidak terbangun dan tergali dengan semestinya, kelemahan ini ditutupi dengan variasi adegan lengkap dengan pernak-pernik visual efek yang lebih menghipnotis daripada apa yang disajikan Kosinski di awal film. Rentetan visual efek tersebut seakan ingin memborbardir mata dan membius pikiran untuk melupakan sejenak plot yang tidak se-complicated rencana kabur yang dibicarakan Sam, Quorra, dan Kevin Flynn atau tidak sehebat rencana besar Clu. Tapi itu adalah kebaikan dari “Tron Legacy” walau tampak “berat” dengan segala dialog-dialog fiksi ilmiah dan filosofis, jalan ceritanya bisa dibilang ringan dan bersahabat untuk diikuti jika kita tidak berusaha keluar dari “trek” yang sudah disiapkan oleh Edward Kitsis dan Adam Horowitz, jadi nikmati saja cerita yang coba disajikan karena toh film ini memang berat condong untuk fokus bagaimana caranya men-digitalisasi mata untuk terhibur oleh visual-visual efek yang menggiurkan itu.

Lucu melihat bagaimana film ini mencoba menciptakan Jeff Bridges versi muda, dengan bantuan CGI tentu saja, seperti melihat Tom Hanks di “The Polar Express” tapi lebih mulus dari itu. Walau tidak memperlihatkan percikan emosi yang natural, karena dia juga program dan memang CGI-nya masih terlihat kaku, tapi karakter Clu tersebut lumayan mencuri perhatian, termasuk Jeff Bridges asli, aktor berusia 61 tahun yang memenangkan Oscar untuk kategori aktor terbaik tahun lalu ini tetap terlihat begitu karismatik dengan akting yang sebenarnya standart saja. Justru Garrett Hedlund yang tampaknya kehilangan karisma sebagai seorang hero, beruntung dia banyak diberi porsi adegan action (tentu saja karena dia pemeran utama), heroik, dan ditemani pendamping cantik Olivia Wilde sebagai Quorra, alhasil kelemahan dia juga ikut tertutupi dengan aksi-aksi menantang maut penuh dengan hingar bingar ramainya efek canggih. Michael Sheen sebagai Castor juga lumayan memberikan warna pada performa keseluruhan akting pemain-pemain di dunia Tron. Namun bintang sebenarnya adalah DAFT PUNK, walaupun hanya kebagian porsi sebagai cameo, duo musisi elektronik asal Perancis ini mampu sekilas mencuri perhatian. Apalagi dengan musik  yang seluruhnya dikerjakan oleh mereka (berkolaborasi dengan Joseph Trapanese untuk musik orkestranya), sukses menghentak, berkolaborasi dengan setiap aksi visual efek, menghasilkan sebuah obat bius elektronik yang membius penonton setiap saat nomor demi nomor Daft Punk muncul menemani setiap adegan. “Tron Legacy” adalah sebuah perjalanan luar biasa kedalam dunia digital penuh dengan petualangan menghibur dan memanjakan mata lewat inovasi visual efek yang hebat. Selamat menikmati dunia Tron dan jangan lupa kembali ke dunia nyata…!

8 thoughts on “My Review is Sucks: Tron Legacy

  1. plot cerita tron datar bangett.. memang hanya bisa mengandalkan spesial efek yang luar biasa.. tapi efek saja tampaknya tidak cukup untuk membangunkan saya, karena setengah perjalanan menuju pintu keluar the grid saya sudah dibikin nyaris tertidur.. hehe..

  2. d jogja pemutaran tron 3D, g full sepanjang durasi film formatnya 3D, kebanyakan malah 2D, apa mang ky gitu?
    ato pengaruh bioskopny?

  3. jauh sblm tron diputar, aq dah berharap lebih, menanti-nanti playingnya…..
    berharap mendapat pengalaman nonton versi 3Dnya yg luar biasa….
    tapi begitu mendapati kenyataan pahit (klo diakumulasi mungkin g ada 1/2 dr durasi film yg formatny 3D)….
    aq kecewa dan marah……
    jauh lebih luar biasa pengalaman yg q dapat saat nonton animasi pendek 3D saat d WBL (Wisata Bahari Lamongan)…..

    ditambah lagi dengan ceritanya yang dangkal…..okelah visual efeknya mang bagus bgt, tapi da beberapa ganjalan, seperti kenapa da gumpalan awan di grid? padahal *sepemahanq* grid adalah dunia digital, yg abstrak ……
    kenapa ada air, dan makanan?
    q ngrasain keganjalan yg sama saat nonton film the journey to the center of the earth…..

    1. untuk 3D, film ini memang dibuat hanya 3D ketika berada di dunia TRON, lalu di dunia nyata itu 2D, sama seperti The Matrix yang dibedakan dengan warna hijau jika berada di dunia Matrix

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s