My Review is Sucks: Yogi Bear

Please do not feed the bears!

Seekor beruang memakai topi dan berdasi lalu hobi mencuri makanan piknik dari para wisatawan yang datang ke taman nasional Jellystone, yup saya sedang membicarakan si beruang yang tidak hanya bisa bicara tetapi juga mengklaim dirinya jenius, Yogi Bear! Setelah lama ‘hibernasi’ di guanya, Yogi (kali ini disuarakan oleh Dan Aykroyd) dan Boo Boo (Justin Timberlake)—bisa dibilang sidekick-nya Yogi yang berdasi kupu-kupu, akhirnya kembali ke layar lebar. Terakhir kalinya kartun yang diproduksi oleh Hanna-Barbera dan ditayangkan di televisi mulai Januari 1961 ini merilis film layar lebar adalah pada 1964, berjudul “Hey There, It’s Yogi Bear!”. Rentang waktu yang panjang untuk pada akhirnya Yogi dan Boo Boo kembali dilirik, namun di tengah invasi animasi CGI yang menguasai Hollywood, tampaknya bentuk kartun bukan pilihan Hanna-Barbera. Bersama dengan studio visual effect ‘Rhythm and Hues’, maka lahirlah film Yogi dalam bentuk live action yang dipadu-padankan dengan animasi CGI untuk menampilkan Yogi dan Boo Boo, yah mirip apa yang dilakukan dengan film-film Scooby Doo dan Chipmunks yang sudah lebih dulu hadir, atau ‘The Smurfs’ yang tayang Agustus tahun ini. ‘Yogi Bear’ ternyata juga tidak mau ketinggalan mengikuti tren film-film Hollywood yang belakangan ini rilis, yah apalagi jika bukan teknologi 3D.

Jika pernah menonton serial kartunnya, setidaknya pernah menonton satu episod-nya, tidak ada yang berubah dari Yogi, kecuali kali ini tidak dalam bentuk kartun 2D, di film terbaru ini, Yogi masih akan berkeliaran di taman nasional Jellystone, mengganggu para wisatawan yang hendak piknik bersama keluarga mereka. Bukan menganggu dalam artian menakut-nakuti dengan cakar dan gigi taring beruang, tetapi mencuri makanan piknik yang dibawa oleh manusia. Gaya suara Yogi juga disuarakan sangat mirip dengan serial kartunnya, itu berkat Dan Aykroyd, selain kelakuan yang membuat berang sang penjaga hutan, Ranger Smith (Tom Cavanaugh), Yogi juga masih diperlihatkan pandai membuat alat-alat yang gunanya semua untuk mencuri makanan piknik, seperti apa yang dilakukannya berulang-ulang di kartunnya. Selain itu setiap Yogi gagal dengan cara yang satu, dia tidak kenal putus asa dan memakai cara lain dengan alat yang berbeda untuk bisa mendapatkan makanan yang dia inginnya, walau pada akhirnya peringatan Boo Boo akan kegagalan selalu saja menjadi kenyataan. Ranger Smith sudah berkali-kali menegur dan mengingatkan Yogi untuk tidak lagi ‘nakal’ dan berhenti mencuri, jadilah beruang normal yang memakai keempat kakinya dan mencari makan dihutan.

Yogi tetaplah Yogi, walau sudah berulang kali diperingati oleh Ranger Smith, dia tetap saja bandel dan mencuri makanan, dan entah kelakuan jahil apalagi. Tapi segalanya akan berubah ketika pak walikota datang ke Jellystone dengan ultimatum jika taman tersebut akan segera ditutup, dengan alasan berhutang banyak. Namun tujuan pak walikota yang sebenarnya adalah ingin menguasai taman yang akan berusia 100 tahun ini untuk dirinya sendiri, menjadikannya sebagai sumber penghasil uang untuk menutupi hutang kota yang dipimpinnya. Yah tipikal orang jahat yang bersembunyi dibalik jas kekuasaan, tentu saja jika Jellystone memerlukan seorang pahlawan, taman ini memerlukan penjahat terlebih dahulu, maka dipilihlah pak walikota yang rakus ini. Ranger Smith sayangnya diberi waktu seminggu untuk membayar hutang sekitar $40 ribu, sesuatu yang sangat sulit dia lakukan dengan keadaan taman yang sepi pengunjung ditambah dengan ulah ‘sahabat’ lamanya Yogi. Ranger Smith pun akhirnya mendapat rencana yang sepertinya akan berhasil, dibantu oleh seorang sutradara perempuan, Rachel (Anna Faris), yang datang ke taman ini untuk membuat film dokumenter tentang Yogi. Memanfaatkan usia 100 tahun taman Jellystone, Ranger Smith dan Rachel akan mengadakan acara yang dimeriahkan dengan kembang api untuk menarik pengunjung untuk datang, apakah rencana tersebut berhasil dan apa yang akan dilakukan Yogi untuk menyelamatkan rumahnya?

Jujur nih! waktu pertama kali melihat poster film “Yogi Bear” ini yang ada dibenak saya adalah “kok seram sekali”. Yogi dan Boo Boo tidak lagi tampak lucu dengan tambahan gigi tajam bertaring, bukannya menarik perhatian anak kecil, tampang mereka justru bisa dibilang menyeramkan. Ditambah mata mereka yang bulat seperti mengisyaratkan Yogi dan Boo Boo akan menerkam anak-anak manapun yang mendekatinya, saya saja ngeri, apalagi anak-anak pasti sudah mimpi buruk lebih dahulu sebelum melihat filmnya. Jika film ini tampak terlalu mengerikan untuk anak-anak, bagaimana dengan sudut pandang orang dewasa yang menontonnya, saya bisa bilang tidak ada yang menarik, kecuali satu hal, yaitu menunggu alat, kejahilan, dan kekacauan apalagi yang akan diciptakan oleh si beruang Yogi ini. Selebihnya, humor-humor yang dimasukkan ke dalam satu keranjang piknik ini terasa sangat hambar, tidak lucu, terlalu kuno, dan sangat berlebihan. Gulungan jalan cerita pun sangat predictable, okay tidak apa-apa saya mungkin akan tahu film ini akan dibawa kemana, tetapi itu jika “Yogi Bear” mampu melepaskan umpan-umpan cerita yang menggiurkan, kenyataannya film ini tidak hanya membosankan dengan cerita yang dipanjang-panjangkan hanya untuk memenuhi durasi tetapi juga membingungkan, sebenarnya siapa target pasar film ini dari awal, anak kecil atau orang dewasa, karena kedua target tersebut sudah gagal dicapai oleh film ini, seperti Yogi yang gagal mendapat target makanan kesukaannya dari orang-orang yang piknik.

Saya berani bilang “Yogi Bear” seharusnya langsung masuk keranjang berlabel “straight to DVD” tetapi apa boleh buat film ini akan lebih menguntungkan jika ditayangkan di bioskop apalagi dengan tambahan beberapa dolar dari tiket 3D yang lebih mahal. Dari bujet $80 juta, “Yogi Bear” sudah mengantongi lebih dari $90 juta, yah untung sedikit daripada tidak sama sekali. Namun yang jelas tidak menguntungkan bagi penonton, karena keluar bioskop saya justru kekurangan banyak huruf-huruf yang membentuk kata M-E-N-G-H-I-B-U-R, sisanya hanya huruf B, yang bisa diartikan B-osan. Jajaran pemain yang menyuarakan Yogi dan Boo Boo memang sudah melakukan tugasnya dengan baik, memberi jiwa pada kedua boneka dufan ini untuk setidaknya memiliki suara yang sama dengan serial kartunnya. Sayangnya peran Dan Aykroyd dan Justin Timberlake dalam menghidupkan tokoh kartun dalam bentuk CGI ini harus mubajir, sekali lagi karena dua beruang ini tidak hanya dipasangkan dengan cerita yang membosankan dan tidak lucu, tetapi juga karena mereka dipasangkan dengan pemain manusia yang berakting buruk. Tom Cavanaugh sebagai Ranger Smith adalah tokoh paling tidak mempunyai pendirian, bahkan ketika dia seharusnya menyelamatkan hutan, sedikit-sedikit putus asa dan tiba-tiba bangkit kembali, itu pun karena bujukan Yogi. Anna Faris, well ditempatkan sebagai pemanis diantara kedua beruang menyeramkan mungkin berhasil, tapi ketika saya harus menyaksikkan dia berlakon, tampaknya lebih seram ketimbang wajah Yogi. Apa boleh buat “Yogi Bear” sepertinya memang tidak cocok dibuat animasi CGI atau film ini sudah salah kaprah dalam mendesain bentuk Yogi yang seharusnya bisa lebih menggemaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s