My Review is Sucks: Kalung Jailangkung

“Jelangkung jelangse, disini ada pesta kecil kecilan, datang tak dijemput pulang tak diantar”

Alkisah Nayato atau di film ini dia memakai nama alternatif-nya “Koya Pagayo”, bosan dengan film horor yang itu-itu aja, maksudnya film-film dia sendiri yang niatnya untuk menjadi film seram tetapi hasil akhirnya justru malah komedi. Jadi setelah semedi selama tujuh hari tujuh malam, bermandi air kembang, dan main monopoli 15 menit, Nayato pun memutuskan dia akan membuat film horor komedi saja, karena dia merasa percaya diri dengan bakat dan pengalamannya untuk membuat penonton tertawa. Maka sejak “Pocong Jumat Kliwon”, Naya (panggilan sayang saya untuk Nayato *mimisan belatung) makin ketagihan dengan horor komedi, lihat saja dia akhirnya membuat sekuel PJK untuk menutup tahun 2010, yaitu “Pocong Rumah Angker”. Saya memang tidak menonton film tersebut dan sekarang menyesal (nangis darah perawan), tapi dari trailer sudah dipastikan film ini memang terbalut komedi, apalagi dengan kehadiran anak kesayangan baru Naya yakni Zaky Zimah, yang sengaja di tempatkan di garis depan untuk berbuat konyol. Saya berharap Arumi bisa kembali bermain di film-film Naya.

Nah membuka tahun baru, 2011, Naya ternyata masih dengan percaya diri untuk lanjut melengkapi trilogi horor komedinya, maka di bulan Februari, tepatnya tanggal 2 sebelum libur Tahun Baru China, rilislah “Kalung Jailangkung”. Saya luar biasa kaget ketika tahu Naya tidak lagi memakai judul Pocong lagi, atau dipadukan dengan nama tempat, Naya mungkin sedang bosan dan butuh penyegaran di judul filmnya. Lebih kagetnya lagi Naya memilih judul yang menurut saya tidak komersil dan kurang populer, Jailangkung, ikon boneka horor lokal yang sudah lama tidak dipakai dibanyak film horor lokal, yang lebih senang dengan judul-judul berbau Kuntilanak, Pocong, atau Setan blablabla, pokoknya didepannya ada kata-kata setan. Ditambah konyol lagi dengan tambahan ‘kalung’ pada judul, mungkin Naya awalnya ingin memakai ‘tusuk’, tapi setelah mendapatkan bisikan gaib dia baru sadar jika kata ‘tusuk’ sudah pernah dipakai bertahun-tahun lalu dalam film ‘Tusuk Jelangkung’. Lalu kenapa tidak nama tempat lagi, Nay? yah mungkin semua nama tempat angker sudah pernah dibuat judul film, tidak mungkin dong dia mengulang judul (mau ditaruh dimana harga dirinya) atau memakai nama kantor sohibnya KKD, judulnya jadi ‘Jailangkung Kantor Angker KKD’.

“Kalung Jailangkung” bisa dibilang tak ada bedanya dengan film-film masterpiece Naya sebelumnya, dari urusan cerita yah, tapi dilihat dari bagaimana dia mengesekusi filmnya, saya bisa menyebut ini adalah film Naya yang ‘lebih baik’. Saya sedang tidak membuat review berbayar atau tidak juga sebelumnya diberikan sesajen oleh Naya. Film yang lagi-lagi tidak ada hubungannya dengan judul ini—yah kalung tersebut memang ternyata bukan kepunyaan jailangkung kok—kembali mengajak segerombolan anak muda yang dipaksa untuk datang ke sebuah hutan antah berantah, dipimpin oleh Zaky Zimah. Saya mengingatkan untuk jangan membaca sinopsis yang ada di website sebelah, karena apa yang ada di sinopsis tersebut menyesatkan, berbeda sekali dengan filmnya sendiri. Zaky dan teman-temannya berniat untuk berlibur ke hutan Ciwidey tapi niat sebenarnya anak-anak kota ini adalah ingin bermain jelangkung.

Sesampainya di tempat tujuan, Zaky dan teman-teman sempat diperingatkan untuk tidak pergi ke kuburan angker tapi dasar anak kota mereka tidak peduli dan menganggap peringatan tersebut hanya mitos orang-orang kampung. Sudah bisa ditebak akhirnya mereka nekat pergi ke pemakaman yang dilarang didatangi dan mengadakan ritual pemanggilan arwah melalui medium boneka jelangkung “Jelangkung jelangse, disini ada pesta kecil kecilan, datang tak dijemput pulang tak diantar”. tapi belum apa-apa, Zaky dan kawan-kawannya sudah ngibrit lebih dahulu saat jelangkung yang mereka bawa bergerak-gerak sendiri. Mereka kabur ke penginapan dan bodohnya jelangkung ditinggal di pemakaman tersebut, salah-satu dari mereka, bernama Kiki sempat mengambil sebuah kalung yang entah darimana tiba-tiba tergeletak di dekat kuburan. Kalung inilah yang nantinya menjadi sumber teror, dari penampakan hantu wanita berambut panjang sampai beberapa orang yang kerasukan. Please ngaku ini kalung siapa?

Tidak perlu waktu lama untuk mengenali lokasi-lokasi yang dipakai Naya di “Kalung Jailangkung”, walau disorot dari sudut yang disamarkan dan diberi embel-embel hotel oldtown, saya tahu rumah yang dijadikan hotel tersebut adalah rumah yang sama dari film “Nakalnya Anak Muda” dan dipakai lagi di “Pocong Jumat Kliwon”. Rumah Zaky, Kampus, dan hutan yang menjadi lokasi syuting adalah lokasi yang sama yang dipakai Naya di film-filmnya sebelumnya. Sama seperti lokasi yang didaur-ulang dengan sudut pengambilan gambar yang direkayasa sedemikian rupa agar saya tidak mengenal lokasi yang sudah dipakai Naya beratus-ratus kali ini, film ini juga tampaknya tidak perlu susah-susah meramu ceritanya, comot dari film Naya sebelumnya lalu dipermak seadanya dan dengan tiupan magis Naya, jadilah film baru yang tidak benar-benar baru. Tapi biarkan cerita dari “Kalung Jailangkung” yang klise, mudah ditebak tersebut basi dan kemudian dipenuhi belatung, karena toh saya tidak peduli. Apa yang menjadi perhatian saya adalah bagaimana pada akhirnya Naya mengubah ciri khasnya yang sudah dia perlihatkan ribuan kali—entahlah hanya di film ini atau dia memang telah berubah—mengulang-ngulang adegan mandi tidak penting yang hanya dimanfaatkan untuk menghabiskan rol film dan mengisi slot durasi yang bingung mau dipakai apa lagi.

“Kalung Jailangkung” secara mengejutkan tidak ada adegan cewek buka baju, kena air sedikit, lalu kabur nabrak Naya karena ditakuti-takuti setan bermuka (bukan bubur basi, karena itu hanya milik KKD) adonan dodol. Saya ingin sekali memegang jidat Naya, apa nih orang lagi sakit apa sadar membuang semua adegan komersilnya yang sudah jadi daya jual, dan jadi bahan untuk stok gambar di trailer ini. Oke saya positif saja, jika Naya memang sudah berubah, alih-alih mengisi filmnya dengan adegan mandi dan mandi lagi, Naya kali ini mengisinya dengan adegan penampakan hantu yang diulang-ulang dengan kemasan sama, entah berapa kali. Tapi bukan hanya sekedar penampakan hantu biasa, namun dipadukan dengan komedi yang (saya tidak akan muluk-muluk dan sok berselera tinggi) bisa dibilang ‘menghibur’, buktinya untuk pertama kalinya saya bisa tersenyum dan tertawa ganteng, helooo ini film Naya dan gw bisa ketawa, itu adalah mukjizat yang hanya muncul 73 tahun sekali.

Betapa pun banyaknya kekurangan yang akhirnya film ini kumpulkan, toh saya bisa melihat niat positif film ini yang dari awal dibuat untuk yah sekedar menghibur penonton., bukan dengan menjual kemolekan tubuh lagi, tapi dengan komedi sangat ringan yang tidak perlu dikunyah terlalu lama sampai akhirnya kita bisa tertawa. Film ini memang dari awal bukan dibuat untuk total 100% menakuti, adegan-adegan ‘hit and run’ gaya khas Naya masih terlihat bersusah payah untuk mengagetkan penonton. Naya pun tidak akan malu jika pada akhirnya tidak ada yang takut dengan “Kalung Jailangkung”, karena dia punya alibi ini adalah film komedi horor, semua penampakan yang lalu lalang itu pun dipadu-padankan dengan jejeran kekonyolan yang didominasi oleh penampilan Zaky yang dipaksakan untuk melawan hantu wanita berambut panjang dengan amunisi berupa dialog-dialog lucu dan menggelikan, dan itu berhasil, karena saya bisa mendengar tawa-tawa penonton melintas dari adegan ke adegan konyol berikutnya.

Walau terdengar garing, tapi saya lebih memilih komedi yang ditampilkan film ini ketimbang komedi-komedi yang hanya menjual kekasarannya, disini Zaky dan teman-temannya benar-benar ditantang untuk bisa lucu dengan dialog dan sedikit gerakan-gerakan bodoh, misalnnya langsung joget ketika mendengar ringtone dangdut padahal mereka sedang ditengah kuburan. Tidak hanya para pemain yang berperan sebagai orang yang dipaksa untuk lucu, setan pun ‘diperkosa’ harga dirinya untuk terlihat bloon dan jadi tidak seram walau dempulan dan rambut kusutnya tampil menyeramkan. Setan dijorokin, tangan setan muncul dari lubang lampu, sampai setan dipaksa mencuri sebelah sendal dan diberi handphone dan jam tangan, momen-momen lucu tersebut biasanya hadir ketika Zaky dipasangkan dengan si setan. “Kalung Jailangkung” memang belum jadi hiburan yang betul-betul sempurna, kekurangannya masih ditemukan disana-sini dan juga cukup membosankan di beberapa bagiannya yang hanya mengulang-ngulang upaya nakutinnya, namun melihat kembali ke belakang, ini adalah film Naya yang jauh lebih baik, sebuah peningkatan walau masih belum melampaui film horor terbaiknya Lewat Tengah Malam. Semoga “Kalung Jailangkung” memang sebuah pertanda yang baik, tidak hanya akhirnya Naya membuat film yang bagus tetapi dia mau muncul di filmnya sendiri (hahaha), yah tidak hanya disebut-sebut nama ‘Nayato’ yang katanya tetangganya Zaky di film ini.

4 thoughts on “My Review is Sucks: Kalung Jailangkung

  1. lucu? garing? ah biarlah saya terus penasaran karena urusan kerja jadi nggak bisa nonton film perdana sutradara kebanggan kita *tapi bohong, red*

    anyway, bang radit juga manggil nayato dengan naya ya? haha, baru tau… semoga taun ini om naya bisa sadar ato seenggaknya mengalami pergeseran otak hingga menampik uang-uang dari produser aji mumpung dengan membuat film yg bisa masuk FFI dari produser kere dengan cerita jawara. mari kita tahlilan supaya terealisasi

  2. kayanya gua lebih terhibur baca review lu…therapy juga buat gua…coba review lu ini di bkn film…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s