My Review is Sucks: Shaolin

Peace and salvation only through the zen of Shaolin

Mendengar kata Shaolin, bayangan kita pasti langsung tertuju pada sebuah kuil yang isi-nya para biksu yang jago sekali kungfu, disiplin, dan penuh welas asih, termasuk juga mungkin teringat dengan anak kecil gemuk bernama Bo-Bo-Ho yang tidak pintar kungfu tetapi jago membuat kita tertawa dengan kelucuannya di film-filmnya, ‘Shaolin Popeye’ misalnya. ‘Shaolin’ besutan Benny Chan yang satu ini juga tidak lepas dari gambaran kita akan sebuah film bertema shaolin, disana akan ada pertarungan, pelajaran-pelajaran hidup dari ajaran Buddha, minus Bo-Bo-Ho tentunya. Benny Chan masih akan melengkapi film ini dengan ciri khas kental kuil Shaolin untuk menopang kisah yang akan dia ceritakan, sebuah film yang bisa dibilang versi terbaru dari ‘The Shaolin Temple’ (1982) yang dulu dibintangi oleh Jet Li, dan menjadi debut pertamanya berakting dan bertarung di sebuah film. Film yang juga dikenal dengan judul ‘The New Shaolin Temple’ ini memang tidak akan lagi memasang wajah Jet Li, sebagai gantinya ada Andy Lau, Nicholas Tse, dan juga aktor yang sering bermain di film-film Benny Chan sebelumnya, Jackie Chan (Rob-B-Hood, New Police Story, Who Am I?).

‘Shaolin’ akan menceritakan masa-masa awal ketika Republik di China baru terbentuk dan masih dikuasai para Jenderal. Salah-satu Jenderal tersebut bernama Hou Jie (Andy Lau) yang terkenal sangat kejam, tidak punya rasa kemanusiaan, dan tidak sungkan untuk melakukan segala cara agar keinginannya bisa tercapai. Termasuk menembak seorang Jenderal musuh, Huo Long, didepan biksu-biksu kuil Shaolin, tidak menghormati sebuah tempat suci hanya untuk menyempurnakan kemenangannya atas musuhnya dan mengusai wilayah bernama Dengfeng. Hou sepertinya sudah dibutakan kekuasaan dan lupa jika segala yang ada di dunia ini telah ditakdirkan untuk tidak ada yang abadi, termasuk juga kekuasaannya. Hou justru akhirnya dikhianati oleh tangan kanannya, orang kepercayaan, Cao Man (Nicholas Tse) yang awalnya diperintah untuk menyiapkan perangkap untuk saudaranya, Song Hu, sesama Jenderal yang dicurigai akan membunuh Hou. Di sebuah acara pertunangan antara anak perempuan Hou dan anak laki-laki Song, perangkap yang tadinya disiapkan untuk orang lain justru berbalik mengarah kepada Hou sendiri.

Hou sanggup menghindar dari para pembunuh bayaran yang memburu nyawanya tetapi harus mati-matian menyelamatkan keluarganya. Dia terpisah dengan istrinya yang pada akhirnya diselamatkan oleh para biksu kuil Shaolin, sedangkan Hou sendiri akhirnya bisa selamat bersama anak perempuannya dari kejaran orang yang mau membunuhnya. Hou pun bergegas ke tempat yang sebelumnya pernah dia permalukan, kuil Shaolin, karena anaknya benar-benar terluka parah. Hou pun bersatu kembali dengan istrinya, namun harus merelakan kehilangan orang yang dia cintai, para biksu pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi walau Hou memohon-mohon sampai hilang kendali dan terpaksa diamankan oleh para biksu. Istri Hou meninggalkan kuil Shaolin, sedangkan Hou yang masih sangat terpukul tinggal di tempat tersebut. Perlahan-lahan ditemani seorang koki (Jackie Chan), Hou bisa menemukan kedamaian di kuil yang dulu pernah ia ‘kotori’ dengan darah. Hou mulai mengikuti aktifitas sehari-hari kuil Shaolin, dimulai dari pekerjaan di dapur dengan membantu sang koki membuat bakpao dan membagi-bagikannya kepada para pengungsi yang tinggal di lingkungan kuil. Sedikit demi sedikit sambil mempelajari ajaran Buddha dan berlatih beladiri bersama para biksu, Hou mengkikis masa lalunya dan menjadi orang yang baru, berdamai dengan hatinya, dan bertobat atas dosa-dosanya. Di lain pihak, Cao Man kini menggantikan posisi Hou, lebih kejam berkali-lipat daripada Hou. Tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya Cao dan Hou bertemu kembali.

Bosan dengan perkelahian ala Hollywood yang begitu-begitu saja dan rindu dengan pertarungan yang dikemas dengan kungfu yang indah, tontonlah ‘Shaolin’. Selain karena nama besar Andy Lau dan Jackie Chan, apa yang mendorong saya untuk menonton film yang membangun kuil Shaolin sampai menghabiskan dana 10 juta yuan ini adalah karena saya rindu menonton keindahan atraksi kungfu ala Shaolin. Tapi jangan berharap film ini akan kaya akan aksi-aksi pertarungan disana-sini, karena sekali lagi drama akan menjadi pertunjukan utama dan sesekali diselingi dengan kungfu yang porsinya lebih ‘ekslusif’. ‘Shaolin’ adalah sebuah melodrama yang tentu saja misinya adalah menguras air mata penonton dan Benny Chan tahu betul bagaimana mengemas adegan-adegan ‘cengeng’ tersebut. Tidak hanya memunculkan Andy Lau menangis tersedu-sedu untuk alasan yang tidak jelas, namun mampu menjaga agar adegan-adegan tersebut pas dengan momennya, tidak asal dihidangkan lalu ditinggalkan hanya untuk menambah sedih. Benny Chan pun mampu memanfaatkan setiap momen emosional tersebut untuk menjalin koneksi dengan para penonton, memetik simpati mereka untuk pada akhirnya berada disisi sang Jenderal yang dulunya kejam. Andy Lau dengan segala pengalamannya yang panjang dalam dunia akting pun mampu menjalankan perannya untuk melakukan hal tersebut, menarik rasa simpatik penonton dengan kerja keras aktingnya yang bisa dibilang cukup maksimal.

‘Shaolin’ tentunya tidak akan asyik sendiri hanya menawarkan kisah perjuangan Hou untuk memperbaiki kehidupannya dengan berbagai variasi drama, Benny Chan pun tidak melulu mengandalkan para pemainnya hanya untuk berakting drama, mubajir juga jika sudah memasangkan Andy Lau, Jackie Chan, Nicholas Tse, dan para biksu kuil Shaolin tapi tidak menyajikan aksi-aksi pertarungan menegangkan. Bersama tim koreografinya, terdiri dari Corey Yuen dan kawan-kawan, Benny Chan berhasil menghasilkan beberapa variasi pertarungan yang sangat menghibur, memuaskan, dan juga sesuai dengan apa yang saya harapkan ketika memasuki studio untuk menonton film ini. Walau sekali lagi porsi yang diberikan Benny Chan lebih sedikit ketimbang dramanya, tetapi saya rasa itu sudah cukup sebagai pelekat antara penonton dengan film ini, ketika Benny Chan mulai terasa kedodoran dengan deretan drama yang terlalu panjang, adegan-adegan aksi pun menjalankan pekerjaan untuk menaikkan tensi yang mulai kendur tersebut. Selain Andy Lau yang dipaksa untuk “bertarung” secara akting dan juga fisik, dan dia sudah sanggup membuktikan kepiawaiannya dalam film ini, Nicholas Tse juga tampil tidak mau kalah bahkan performa aktingnya mencuri perhatian disini sayangnya memang karakternya kurang terekspos dan tergali lebih dalam lagi. Jackie Chan sayangnya disini hanya tampil sebagai pelengkap, dipasangkan dengan Andy Lau untuk menghibur dia dan membuat kita tertawa apalagi dengan aksi-aksi kungfunya yang khas. ‘Shaolin’ adalah sebuah paket hiburan lengkap, tidak hanya diisi menu utama melodrama dan action tetapi juga dihiasi oleh tatanan visual yang indah, efek yang mumpuni, akting yang apik, terakhir dibalut dengan pesan-pesan spiritual yang bisa dibilang membersihkan jiwa.

5 thoughts on “My Review is Sucks: Shaolin

  1. Salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Komplit. Action memuaskan, drama+cerita kuat, maknanya dalemmm. Luar biasa…
    Semua aktor mantabb, kecuali Nicolas Tse yang kurang karisma (gayanya mirip ketua gang kapak di Kungfu Hustle), tapi untungnya di ending bagus.
    Meskipun alur bagus, tapi di sedikit bagian terasa kurang padat…

    Nilai 9/10

    Beberapa review mengatakan film ini kurang action, menurut saya malah penuh dengan action, tapi masih dalam porsi yang pas. Kalo action berlebih malah kayak Trasformer II, sampe eneg+bosen gak selesai2 filmnya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s