My Review is Sucks: Cewek Saweran

Sekarang kita panggil penyanyi kita, Ayu Angelina ~ Om Dargombez

Apa yang terlintas di pikiran saya sewaktu melihat poster film ini dengan judul “Cewek Saweran”? tentu saja spontan dalam hati, pastilah lagi-lagi film “murahan” yang hanya ingin mengeksploitasi rok mini dan belahan dada, lihat saja posternya sudah seperti itu (langsung memalingkan muka ala sinetron kita). Pikiran terlalu negatif saya yang sudah menuduh macam-macam pada film ini lucunya berubah jadi yah sedikit positif pada saat menengok cuplikan (trailer) filmnya, spontan lagi dalam hati, saya pikir tampaknya film ini menjanjikan, tidak “semurah” yang saya bayangkan. Ternyata dugaan saya 100 persen ada benarnya, padahal selama ini kelemahan saya itu main tebak-tebakan, Eddie Cahyono justru mampu mengolah film “Cewek Saweran” untuk menjadi tidak buruk dan menjauhi konotasi negatif yang timbul akibat “strategi” poster yang bisa dibilang salah kaprah itu. Kenapa sih kalau memang filmnya normal-normal saja, posternya harus murahan, saya bukan ingin menyudutkan tapi kenyataannya memang demikian, yang ada malah opini publik sudah lebih dahulu men-cap film ini sebagai “ah lagi-lagi film drama esek-esek” atau apalah, nah yang datang juga (mungkin) niatnya bukan untuk nonton melainkan ingin membuktikan apakah gambar wanita dengan pakaian minim yang diposter itu ada di film, padahal jelas-jelas tidak ada tulisan “gambar termasuk dalam adegan asli” (lho).

“Cewek Saweran” menyapa kita dengan suara seseorang dengan pengeras suara, dilayar sudah terlihat siluet seorang penyanyi yang sudah siap pentas, suara tersebut pun kembali terdengar kali ini menyuruh orang-orang di belakang untuk bergoyang. Penyanyi yang digambarkan siluet tampak belakang itu adalah Ayu (Juwita Bahar) dan kita pun diajak mengikuti kisahnya yang dimulai pada saat dia masih berada di kampung, pentas dari panggung kecil ke panggung kecil lainnya untuk membantu ekonomi keluarga, ayahnya yang bekerja di tambang batu, sudah tua dan sakit-sakitan (penyakit khas film kita: batuk darah), memberitahu putrinya yang berbakat menyanyi itu untuk meninggalkan ayahnya dan pergi ke kota, bukan Jakarta tetapi Yogjakarta, karena ayahnya yakin sekali Ayu bisa sukses menjadi penyanyi terkenal disana ketimbang di kampung. Maka berangkatlah Ayu dengan berbekal suara merdu, namun dia tidak langsung bisa menyanyi, Di Yogja Ayu menumpang di rumah tantenya, sambil diapun mencari pekerjaan. Karena belum juga mendapat pekerjaan, Ayu sementara bekerja di salon tantenya, Ayu lalu bertemu dengan Dimas (Krisshatta Luis) yang menyarankan agar datang ke tempat grup orkes dangdut pimpinan Om Dargombez (Djaduk Ferianto).

Cerita yang ditulis oleh Ifa Isfansyah (Garuda di Dadaku, Rindu Purnama) mulai punya gregetnya disini, berkembang ketika dengan suara syahdunya, Ayu diterima untuk ikut manggung bersama dengan grup Om Dargombez. “Cewek Saweran” pun memasuki fase konflik yang klise memang, tetapi Eddie Cahyono mampu mengemasnya untuk mudah dinikmati dan tidak terkesan berlebihan, tidak ada satupun adegan yang pada akhirnya mewakili kalimat ini: “sudah jatuh tertimpa tangga dan nyebur ke selokan”, jalan cerita mengalir dengan sederhana, Ayu ternyata tidak secepat itu terkenal dan debut pertamanya pentas bersama dengan Om Dargombez justru tidak berjalan dengan mulus. Ayu demam panggung dan tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan suaranya, dia pun akhirnya dicoret dari grup Om Dargombez. Kejadian tersebut membuat Ayu “jatuh”, orang-orang tidak lagi mau mendengar Ayu menyanyi, bahkan Om Dargombez tidak mau menerimanya lagi. Untungnya ada Dimas yang berhasil mengembalikan kepercayaan Ayu, dibantu dengan teman Dimas, mereka berkeliling kota untuk ngamen. Sampai akhirnya penampilan Ayu dilihat oleh seorang produser (Landung Simatupang), dia bersama Om Dargombez pun mengajak Ayu untuk rekaman. Kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Ayu dan impian yang menjadi kenyataan, namun jalan panjang dan berkerikil tajam masih harus dilalui oleh Ayu, karena menjadi penyanyi dangdut dan tiba-tiba terkenal bukan tanpa cap jelek  sana-sini… termasuk dicurigai tidur dengan pak produser.

Saya senang ketika melihat “Cewek Saweran” memakai setting kota Yogjakarta sebagai tempat Ayu melangkahkan kakinya untuk menggapai impiannya, bukan melulu kota Jakarta yang digambarkan sebagai kota pengabul impian. Kenyataannya, berapa banyak orang yang bermodalkan impian dan segala macam keahlian yang pada akhirnya justru tidak mendapat apa-apa dan tidak bisa kembali ke kampung. Jakarta oh Jakarta, memang kota yang menyediakan segalanya, termasuk juga pengubur mimpi-mimpi itu. Film ini bagusnya tidak membawa cerita ke Jakarta dan fokus di Yogjakarta, ada upaya dari film ini untuk membangun image, hey di kota selain Jakarta, kita juga bisa sukses, mungkin seperti, apapun tujuannya, saya melihatnya demikian, melalui sepak terjang Ayu dalam menggapai impian menjadi penyanyi dangdut terkenal. Terlepas dari judulnya yang bisa dibilang “kampungan” dan ugh saya benci posternya, “Cewek Saweran” adalah film yang terbukti jauh dari kesan murah tampilan luarnya, cerita seputar penyanyi dangdut yang dikemas oleh Eddie Cahyono dengan kesederhanaan gaya bercerita dan yang terpenting “merakyat”, bisa ditonton siapa saja dan tidak perlu takut di cap kampungan, lupakan saja posternya dan judul film ini, maka dijamin film dengan mudah membuat anda terhibur.

“Cewek Saweran” bukan tanpa cela, ketika fokus cerita ingin menata langkah Ayu untuk menjadi penyanyi dangdut terkenal, terkadang film ini lupa meneruskan konflik-konflik yang awalnya sepertinya dimasukkan untuk membuat cerita makin berwarna, namun pada akhirnya justru seperti adegan yang numpang lewat saja, misalnya saja cerita cinta segitiga yang muncul antara Ayu, Dimas, dan Angga, teman Dimas yang ikut ngamen dengan mereka, konflik tiba-tiba memanas dan seketika pula dilupakan seakan tidak pernah terjadi. Proses yang “tiba-tiba” inilah yang sering membuat film ini terpeleset jadi agak memaksa di beberapa bagian, tiba-tiba orang-orang jadi baik dan tiba-tiba Ayu pun ditawari rekaman, justru bagian Ayu ketika rekaman entah kenapa dibuat bertele-tele dan ditambah konflik kecil antara Ayu dan Dimas yang tidak perlu. “Cewek Saweran” niat awalnya memang baik, ingin memasukkan semua ke dalam cerita, dari Ayu yang bukan siapa-siapa menjadi terkenal, lalu ditampilkan variasi subplot yang menghiasi jalan cerita utamanya, namun film ini akhirnya kewalahan sendiri ketika dipaksa untuk menceritakan semua dalam durasi yang terbatas hanya 80 menitan. Untuk urusan akting, Juwita Bahar secara mengejutkan tidak terlalu mengecewakan, bisa membawakan perannya sebagai Ayu si calon penyanyi dangdut terkenal dengan cukup baik, apalagi tentu saja ketika dia diberikan porsi untuk bernyanyi, dia akan menggoyang penonton dengan lagu-lagu yang cukup asyik, sayangnya memang tidak banyak lagu yang dibawakan Ayu, seingat saya hanya 3 lagu yang dinyanyikan berulang-ulang, tapi cukuplah untuk memanjakan telinga dan lagunya juga tidak membosankan, sama seperti filmnya yang juga menghibur dan tidak membosankan… mari bergoyang!

One thought on “My Review is Sucks: Cewek Saweran

  1. Sip … Saya juga prihatin kok film normal kayak gini punya tehnik promosi yang menunjukkan film ini sbg film kancrut. Semoga film2 Indonesia semakin membaik kedepannya.

    Anyway, gak sabar nunggu film ini tayang di Bioskop jember.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s