My Review is Sucks: The Child’s Eyes

Did you kill my friends just like you killed your wife? ~ Rainie

Salah-satu daya tarik dari “The Child’s Eyes” tentu saja karena disana ada nama duo sutradara Danny Pang Fat dan Oxide Pang Chun, lebih dikenal dengan “nama panggung” Pang Brothers. Jika nama tersebut kurang familiar di telinga, mungkin saya harus menyebutkan salah-satu film mereka yang pastinya tidak hanya mengembalikan ingatan tetapi juga mimpi buruk. Masih ingat “The Eye”? yup ini salah-satu film horor buatan Pang bersaudara setelah sebelumnya mereka berdua melakukan debut penyutradaraan di “Bangkok Dangerous”, film Thailand buatan tahun 1999 yang juga di-remake pada 2008, yang juga disutradarai Pang Brothers dengan bintang Nicolas Cage. Kembali ke “The Eye” (film ini juga sempat di remake oleh sutradara David Moreau, dengan bintang Jessica Alba), siapa yang tidak ingat dengan adegan menakutkan di lift yang melegenda itu, sayangnya kengerian film yang rilis pada tahun 2002 di Hongkong tersebut, tidak dibuntuti oleh sekuel-sekuelnya, “The Eye 2” (2004) dan “The Eye 10” (2005), untuk sekuel terakhir misalnya, bumbu-bumbu komedi justru terasa lebih kental ketimbang horornya. Bagaimana dengan franchise “mata” selanjutnya, “The Child’s Eyes”, apakah bisa mengimbangi film pertama? well, sayangnya di Indonesia film ini tidak dirilis dalam format 3-D, sepertinya akan menarik menonton hantu-hantu di film horor 3-D Hongkong pertama ini keluar dari layar ketika kita memakai kacamata tiga dimensi.

“The Child’s Eyes” akan berlatar kota Bangkok, dimana enam orang muda-mudi, terdiri dari Rainie (Rainie Yang) dan pacarnya Lok (Shawn Yue), serta 2 pasang teman mereka terpaksa harus tertahan di kota tersebut karena tengah terjadi pergolakan politik. Dimana-mana terjadi demonstrasi, Rainie dan teman-temannya pun buru-buru ingin keluar dari negera tersebut, tapi sayangnya bandara ternyata ditutup karena kerusuhan. Ditengah kota yang kacau, mereka terpaksa menginap di sebuah hotel yang bentuk dan atmosfirnya saja sudah terasa menyeramkan bagi mereka. Ketakutan Rainie dan kawan-kawan bukan lagi hanya perasaan belaka ketika tidak butuh waktu lama bagi hotel ini untuk menunjukkan ke-horor-annya, kejadian aneh demi kejadian aneh mulai berlomba menampakkan dirinya lalu disusul oleh Lok, pacar Rainie, dan dua teman pria lain yang tiba-tiba menghilang. Dalam keadaan bingung, beruntung Rainie mendapat petunjuk dan dibantu oleh seorang anak gadis dan anjing peliharaannya yang bisa melihat hantu untuk menemukan teman-temannya yang hilang. Pencarian pun dimulai dan alam gaib menyambut mereka.

“The Child’s Eyes” tidaklah begitu menakutkan seperti yang dibayangkan, tetapi juga bukan horor yang terlalu buruk ketika selesai menontonnya. Beberapa momennya yang disiapkan Pang bersaudara untuk menakuti penonton terbukti berhasil tapi kebanyakan memang direspon biasa saja oleh saya. Anehnya saya justru tertarik melihat bagaimana Pang bersaudara mengemas situasi kekacauan yang jadi latar belakang kisah horor disini. Adegan-adegan kerusuhan yang dimunculkan sebentar, hanya sebagai “pemanis” malah bisa dibilang lebih menarik ketimbang plot utama yang terlalu bertele-tele dalam urusan membangun kengerian. Tidak ada yang baru dalam “The Child’s Eyes”, kecuali adegan-adegan yang diperuntukan untuk sajian tiga dimensi, tapi adegan itupun bisa dibilang mengadaptasi cara-cara lama yang kali ini dipaksa untuk lebih “keluar” dari layar, dari sepotong tangan yang bergentayangan sampai kursi berhantu yang bergerak sendiri lalu tiba-tiba terlempar. Tapi memang Pang bersaudara tidak semurah itu mengemas adegan-adegan horornya, mengajak mereka untuk menangani film horror 3-D pertama dari Hongkong ini tentunya adalah langkah yang tepat, karena sama seperti film-film sebelumnya “The Storm Warriors” dan “Re-cycle”, Pang bersaudara sanggup memoles sisi visual yang memanjakan mata dengan impresif ditambah efek-efek, terutama untuk 3-D, yang apik. Ngomong-ngomong soal “Re-cycle”, dunia arwah di “The Child’s Eyes” mengingatkan saya dengan dunia “unik” di film tahun 2006 tersebut.

Dari sisi visual dan juga tehnik, film ini memang bisa berteriak lebih lantang, beberapa adegan yang disiapkan oleh Pang bersaudara walau tidak begitu seram tapi terlihat begitu artistik, nyaman dipandang, ataupun menggelitik bulu kuduk karena dikemas dengan sudut-sudut pengambilan gambar yang pas. Decha Srimantra selaku orang dibalik kamera sepertinya tahu betul keinginan Pang bersaudara, sensasi horor apa yang ingin dibangun oleh sang sutradara, alhasil seperti yang saya bilang, walau hasil akhirnya kadang kurang maksimal dan tidak seram tapi tensi ketegangan dan juga horor yang ingin dibangun bisa terbilang cukup efektif. “The Child’s Eyes” begitu pintar membuat kita berekspektasi berlebih tapi kurang mampu memuaskan ekspektasi tersebut, kita berharap yang keluar dari kegelapan “wah” namun film ini menampakkan sebaliknya. Memang tidak semua permainan Pang bersaudara gagal menghibur sisi penonton yang ingin ditakut-takuti, ada momen dimana “The Child’s Eyes” berhasil membawa kita kembali seperti berada di ruangan lift di film “The Eyes”, yah pada momen inilah kita berharap terbangun dari mimpi buruk yang dihadirkan oleh Pang bersaudara, sayangnya kita memang akan jarang melalui momen-momen yang menggairahkan adrenalin dan merontokkan bulu kuduk.

Kurangnya bumbu-bumbu menyeramkan, bukannya seram beberapa adegan justru bikin saya tertawa geli, lalu “The Child’s Eyes” juga semakin menambah nilai minusnya ketika sisi cerita begitu lemah. Pang bersaudara terlihat begitu percaya diri di awal, mereka bisa menggiring penonton menuju ke hotel lalu bertanya-tanya “ada apa di hotel ini”. Namun, mungkin itu hanya berhasil di setengah jam pertama, sisanya begitu film ini berlanjut menapaki menit demi menit menuju ke akhir cerita, satu-persatu sisi menarik dari film ini mulai rontok, apalagi makin bodoh ketika film ini menyimpulkan ending-nya, terlihat terpaksa begitu saja untuk menyudahi apa yang sudah capek-capek dibangun dari awal film, untungnya ada twist yang sedikit menghibur, ingat hanya sedikit! “The Child’s Eyes” makin membosankan ketika setiap pemainnya bermain biasa saja, Rainie Yang yang punya porsi lebih banyak hadir di layar tidak mampu memperlihatkan akting yang memuaskan, kesempatannya untuk unjuk gigi juga dibatasi oleh kurangnya pembentukan dan penggalian karakter di film ini, pokoknya yang penting bisa tampil ketakutan dan melihat bengong ke suatu tempat. Rainie mungkin beruntung, pemain sisanya lebih parah lagi, hanya dibiarkan numpang lewat saja. Lucunya yang berhasil mencuri perhatian di “The Child’s Eyes” justru seekor anjing yang disini diceritakan bisa melihat hantu, jadi seharusnya judul film ini diganti dengan “The Dog’s Eyes” saja, apalagi film ini punya banyak unsur yang melibatkan anjing, termasuk “monster” yang satu itu.

2 thoughts on “My Review is Sucks: The Child’s Eyes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s