Review: Virgin 3

Emang Tuhan pernah libur sehari? ~ Dini

Nayato…oh Nayato, selain piawai menggarap film hantu-hantuan, keahlian lainnya yah apalagi jika bukan menyantumkan nama besarnya di sebelah kata sutradara untuk film dengan tema seperti “Virgin 3” ini, drama yang melibatkan anak-anak baru gede dengan seribu macam permasalahan, termasuk biasanya diisi oleh keperawanan yang hilang, narkoba, anak broken home, pelacuran, dan segala tetek bengek lain. Tema seperti itu dan unsur-unsur klise yang selalu hadir di film-film yang pernah ditangani Nayato memang tidak pernah berubah, sama halnya dengan kenyataan manis bahwa pada akhirnya seperti embel-embel “satu malam mengubah segalanya” di film ini, nama sutradara misterius dan punya satu juta identitas ini memang akan menjadi jaminan sebuah kualitas yang tidak perlu lagi dipertanyakan, sebagus apapun skripnya, sehebat apapun twist-nya, sebening apapun pemain yang dijorokin ke filmnya, Nayato akan selalu berhasil melengkapinya dengan hasil keseluruhan yang dahsyat, yah “satu sutradara menghancurkan segalanya”.

Begitupula dengan film ke-tiga-nya tahun ini, “Virgin 3”, yang tidak akan ada sangkut pautnya dengan dua film sebelumnya, yang akan jadi benang merah hanya temanya yang sama-sama bicara soal persahabatan dan “apakah elo masih perawan”. Jika dibandingkan dengan film pertama, “Virgin”, yang disutradarai oleh Hanny Saputra, dua film yang kemudian diklaim oleh Nayato, termasuk “Virgin 3” ini, tentu saja sudah bergeser jauh dari segi nilai dan kualitas, tidak perlu prasangka buruk dulu, pergeseran justru ke arah yang lebih cemerlang dalam menghasilkan sekuel-sekuel dengan kualitas buruk. Nayato yang menyandang status sutradara paling produktif saat ini, sebanyak apapun membuat film model begini dengan jenius selalu sanggup menjaga standart filmnya, tidak pernah berkembang, tetap berada di zona aman lingkaran garis idiot yang sudah menjadi garis permanen untuknya, dia tidak bisa keluar dari garis tersebut karena memang sudah sangat ketergantungan pada segala puji-pujian yang dihujatkan pada dirinya di setiap film yang dikeluarkan. Sudah saatnya Nayato masuk ke fasilitas rehabilitasi, tak sanggup rasanya untuk membayangkan suatu saat, sutradara kesayangan yang satu ini overdosis “pujian”.

Menonton “Virgin 3” tidak ubahnya seperti mengulang kembali menonton film-film yang bertema sejenis dari Nayato, seperti “Belum Cukup Umur”, “Not For Sale”, serta lusinan film lainnya, dan entah mendapat bisikan pocong mana, hingga akhirnya film ini diberi judul “Virgin 3”, karena toh tidak punya kaitan sama sekali dengan cerita maupun adanya karakter yang menjembatani film ini dengan dua film sebelumnya, persis seperti apa yang saya bilang di paragraf sebelumnya, tidak ada sangkut pautnya. Di “Virgin 3” kita akan diajak mengikuti karakter-karakter remaja tanggung, yang terdiri dari Dini (Shapira Indah Pochi), Tika (Gege Elisa), Sherry (Irish Bella), dan Putri (Yessa Iona Gaffar). Dengan sebuah alasan klise untuk merayakan perpisahan, karena salah-satu teman mereka akan sekolah di Australia, entah ide bodoh darimana, Sherry dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke sebuah klub yang terlarang bagi anak-anak seumur mereka, tetapi lewat bantuan teman, seorang fotografer bernama Tyo (Billy), mereka akhirnya bisa masuk dan meneruskan pesta yang sudah direncanakan. Ketika mereka asyik berjoget ria, minum sampai mabuk, mereka tidak sadar sedang dihampiri sebuah rencana jahat yang pastinya akan mengubah segalanya dalam satu malam. Sedangkan penonton tentu saja akan dibuat “mabuk” mengikuti segala campuran ketololan yang tersaji dalam “Virgin 3”.

Percayalah “Virgin 3” akan jadi seperti sebuah tribut untuk film-film abg-abg labil yang sebelumnya dibuat sineas handal yang satu ini, semua dikemas dalam durasi 400 jam tak lebih dan tak kurang, asyiknya lagi supaya lebih gaul, jangan kaget jika lokasi favorit om Naya, yaitu klub akan lebih banyak dimunculkan disini, lebih gaulnya lagi bisa dibilang, seluruh durasi akan dihabiskan untuk “melacurkan” waktu di klub ini. Selama kurang lebih 320 jam, kita akan dipertontonkan, anak-anak remaja tanggung yang minum, lalu joget, lalu tos, kemudian minum, setelah itu joget lagi, tos lagi, minum lagi, terus diulang sampai seluruh kursi penonton sepertinya akan banjir muntahan berisi bermacam isi perut yang menjijikan. Tentu saja porsi klub sebetulnya bisa dipersingkat menjadi 10 detik, tapi  Nayato lebih memilih mengulur-ngulur waktu sampai molor di klub, untuk menegaskan apa yang tertulis di sub judul “satu malam mengubah segalanya” itu. Film ini begitu betah membahas detil-detil tidak penting, supaya lebih real dan tidak mau dicap bohong, adegan menegak minuman wajib diulang-ulang untuk makin menjelaskan proses mereka (para pemain) sampai akhirnya mabuk, lalu dialog-dialog tolol juga diulang-ulang yang makin menegaskan mereka sudah tidak sadar, terakhir kamera tidak berhenti mengikuti orang-orang mabuk yang berjalan terhuyung-huyung, agar menegaskan sekali lagi pada penonton kalau Sherry dan teman-temannya sudah mabuk berat, yah saya percaya kok, jadi please lanjut ke cerita berikutnya, sayangnya permintaan saya tidak digubris.

Nayato memang jenius, efek lamanya porsi klub yang berjam-jam itu memang berguna untuk membuat sensasi mabuk itu tidak hanya dirasakan karakter dalam film tetapi juga nantinya dirasakan oleh penonton. Senangnya Nayato ketika sudah membuat penonton mabuk, jadi dia tidak perlu repot-repot membuat alur cerita menjadi terlihat waras, toh kita akan melihatnya seperti film yang normal bahkan lebih baik ketika mabuk. Wajarlah kalau Nayato sampai lupa kalau dia sedang membuat film bukan dokumenter bagaimana caranya mabuk di klub bagi orang idiot. Well, untungnya masih ada sisa 80 jam lagi bagi Nayato untuk melanjutkan filmnya ke tingkat ketololan berikutnya, yang jika disingkat hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menyimpulkan semuanya sampai akhir cerita, tapi Nayato dengan kejeniusan kembali memilih jalan yang lebih baik, sekali lagi mengulur-ngulur waktu dengan misalnya, mengisi adegan dengan kejar-kejaran terlama yang pernah ada di sebuah film, lengkap dengan akting luar biasa dari pemain-pemain yang berusia belia, yang dari awal sudah memperlihatkan akting mabuk yang begitu meyakinkan dan berteriak dengan begitu ekspresif, yah dua kelebihan tersebut sudah cukup untuk menopang film ini untuk makin tolol saja.

Oh “Virgin 3”, ketika pesan moral begitu bertumpuk dengan skala mikroskopik dalam adukan cerita yang amburadul, usaha Nayato untuk menterjemahkan bahwa ini film yang bermoral tidak berhenti hanya dengan visual-visual “ini loh akibatnya kalau pergi ke klub dan mabuk-mabukan”, di culik terus diperkosa, dibawa oleh om-om mesum untuk jadi model film porno, atau bakal dijual jadi pelacur. Menggurui secara visual saja tidak becus ditambah lagi Nayato ingin menyempilkan dialog-dialog ala film reliji, ah bahkan akan ada karakter yang disiapkan Nayato sebagai senjata rahasia, membalikkan keadaan jadi waras kembali, setelah kita dibuat terguncang secara moral, kita seperti diguyur siraman rohani, sejuk sangatlah pokoknya… eit apakah dengan usaha tersebut saya jadi peduli?? tentu saja tidak, bagaimana mungkin pada akhirnya saya bersimpati dengan “Virgin 3”, jika filmnya saja tidak dibuat untuk mengajak kita ke arah itu, Nayato punya waktu 400 jam untuk melakukan itu tetapi tidak digubris, lalu untuk apa lagi saya peduli. Jadi percuma saja film ini juga ditambal dengan isu-isu human trafficking karena toh hanya jadi tempelan tak berharga.

6 thoughts on “Review: Virgin 3

  1. film2 kayak gini mungkin ditonton di bioskop biasa pada hari senin yg tiketnya murah. Saya sangat merindukan film2 indonesia yg bisa dapat bintang dari kak radith

    1. permintaan anda dikabulkan, ada dua film Indonesia yang baru saja saya review, film tanda tanya & tebus, dua2nya dapet bintang hehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s