Adele-Blanc-Sec

Review: The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec

Death is the only path that leads to birth ~ Adèle Blanc-Sec

Luc Besson tampaknya tengah asyik menyutradarai film bertema fantasi dan petualangan, setelah meneluarkan tiga seri film animasi CGI “Arthur”, salah-satunya “Arthur and the Revenge of Maltazard” yang juga sempat tayang di tanah air. Luc kembali menghadirkan kisah petualangan berbalut fantasi lagi, kali ini sebuah film live-action berjudul “Les aventures extraordinaires d’Adèle Blanc-Sec” dibawah bendera studio miliknya sendiri yaitu EuropaCorp. Walau sekarang lebih sering menangani film berbau fantasi, di luar itu Luc juga kerap menulis dan memproduseri banyak film action, diantaranya tiga seri “Transporter” yang dibintangi Jason Statham, “Taken”, “Hitman”, dan “From Paris with Love” yang menggaet duet John Travolta dan Jonathan Rhys Meyers. Film yang punya judul Inggris “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” ini juga bukan fantasi tok, didalamnya Luc juga memberi sentuhan aksi-aksi seru yang akan mengingatkan kita sekilas dengan film Indiana Jones, bedanya yang mondar-mandir beraksi kali ini adalah seorang perempuan tangguh sekaligus penulis novel bernama Adèle Blanc-Sec.

Luc memperkenalkan film yang diadaptasi dari komik berjudul sama karangan Jacques Tardi ini bisa dibilang ajaib dengan setumpuk adegan berbeda karakter yang saling terkait satu sama lainnya oleh peristiwa menghebohkan yang terjadi di Paris pada awal abad ke-20, tepatnya 1912. Diawali dengan seorang ilmuwan jenius, Profesor Espérandieu (Jacky Nercessian), yang secara tidak sengaja menetaskan sebuah telur berusia ratusan juta tahun yang terletak di sebuah museum, bakat telepatis yang dimilikinya telah membangunkan seekor Ptereodactyl. Langit kota Paris pun seketika dihiasi oleh kemunculan dinosaurus terbang mirip burung ini dan kota tersebut mulai dibuat panik apalagi ketika Ptereodactyl memulai serangkaian kejadian-kejadian aneh, termasuk sebuah kecelakaan yang akhirnya menyita perhatian Presiden Armand Fallières (Gérard Chaillou).

Kita kemudian diperkenalkan oleh sosok detektif pemalas dan hobi makan, Albert Caponi (Gilles Lellouche), yang oleh Presiden (tidak secara langsung) diberikan mandat untuk mengatasi masalah burung purba ini dalam waktu 24 jam. Ketika Ptereodactyl sedang berkeliaran sibuk membuat keonaran di kota Paris, Adèle Blanc-Sec (Louise Bourgoin) di luar Perancis, tepatnya di Mesir tengah sibuk mengunjungi kuil demi kuil untuk mencari sebuah “harta karun”, sebuah mumi bergelar dokter di zaman Ramses II yang dipercaya dapat “menghidupkan” adiknya yang menderita koma selama 5 tahun. Kepiawaiannya dalam membaca simbol dan petunjuk akhirnya mengantarkan Adèle kepada makam sang dokter firaun tersebut. Walau sempat tertahan musuh bebuyutannya Dieuleveult (Mathieu Amalric), Adèle dengan mudah dapat melarikan diri dan akhirnya membawa peti berisi mumi tersebut ke kota Paris. Pertanyaannya adalah apa kaitannya mumi berusia ribuan tahun dengan kesembuhan adik Adèle, ternyata kuncinya ada pada Ptereodactyl, bukan maksud saya orang yang menghidupkannya, Espérandieu.

Ptereodactyl, ilmuan sinting, polisi pemalas, pemburu eksentrik, dan seorang perempuan tangguh yang tidak menyerah, nantinya akan mengisi lembar demi lembar cerita fantasi seru dengan petualangan mengasyikkan dalam “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec”. Walau sedikit membingungkan diawal dengan begitu banyak karakter yang berkeliaran serta pola cerita bertumpuk yang justru agak membosankan dan datar, film ini mulai memperbaiki urutan berceritanya di pertengahan hingga akhirnya tanpa sadar saya dengan sendirinya mulai menikmati kisah yang mengalir makin seru ini. Cerita yang agak menyimpang dan terkesan absurd justru membuat film ini makin cocok dengan statusnya sebagai film fantasi, jadi saya akan mempersilahkan Luc untuk menjejalkan film yang didominasi oleh setting kota Paris ini dengan keliarannya dalam bercerita.

Memulai dengan cerita tak beraturan tapi saling terkait, ternyata tidak membuat film ini akhirnya menjadi kisah yang susah dicerna, Luc justru membiarkan ceritanya menjadi terkesan begitu ringan ketika Adèle mulai mencari cara menyembuhkan adiknya disaat dia juga tidak luput dari berbagai rintangan. “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” jelas dibuat memang diperuntukan untuk menghibur dan jujur saya katakan Luc telah berhasil dengan misinya “menyembuhkan” saya dari kepenatan di luar studio bioskop. Film ini pun tidak lupa menyelipkan beberapa adegan-adegan jenaka di tengah petualangan gigih Adèle untuk menyelesaikan misi untuk adiknya tercinta. Dari sejak awal toh kita memang sudah disuguhkan kelucuan-kelucuan berkat karakter-karakternya yang juga didesain untuk tampil unik, eksentrik, komikal, dan lucu. Karakter-karakter kocak ini pun, termasuk Adèle sendiri, dipasangkan pas dengan cerita yang bergulir lucu, seru, dan mampu mengkikis habis rasa kebosanan yang pada awalnya muncul.

“The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” beruntung sekali bisa memajang nama Louise Bourgoin untuk berperan sebagai karakter utama Adèle Blanc-Sec, dengan porsi layar yang banyak, Louise dengan sangat meyakinkan telah menjelma menjadi seorang perempuan Paris yang mandiri, petualang sejati, tidak pernah menyerah ketika mewujudkan keinginannya apalagi untuk menyembuhkan adiknya, sifatnya yang satu ini kadang membuat dia terkesan antagonis karena selalu menempatkan kepentingan pribadi di atas segala-galanya dan tidak peduli dengan orang lain, termasuk juga terlewat keras kepada pria yang sebetulnya menyukainya.

Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh karakter Adèle yang dimainkan dengan mantab oleh Louise pun makin lengkap pada saat karakter-karakter lain juga mampu mengimbangi dominasi karakter Adèle. Jajaran pemain seperti Gilles Lellouche dan Jacky Nercessian sanggup bermain dengan baik dalam balutan make-up yang sungguh fantastis. Selain aktor dan aktrisnya, “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” juga didukung oleh departemen artistik, desain produksi, kostum, dan juga make-up yang handal dalam mengerjakan tugasnya masing-masing, mewujudkan setting meyakinkan kota Paris pada tahun 1912, menghadirkan kemegahan gedung-gedungnya, memamerkan keindahan fashion-nya, serta menyulap para pemain menjadi karakter-karakter yang unik, termasuk Jacky Nercessian yang disini dipermak menjadi ilmuwan yang sudah jompo.

Sebagai sebuah hiburan, “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” tentunya tidak akan mengecewakan, ditangan seorang Luc Besson film ini menjelma dari yang kelihatannya biasa saja menjadi sajian penuh pengalaman ajaib, petualangan yang aneh, dan memperkenalkan kita dengan karakter-karakter yang juga unik. Jika melihat ending-nya yang menjanjikan sebuah sekuel, saya tentunya berharap Luc Besson mau kembali menghadirkan petualangan seru lainnya bersama Adèle Blanc-Sec. Untuk sekarang, saya cukup puas dengan ajakannya berpetualang bersama Adèle di kota Paris, ditemani Ptereodactyl pemarah dan mumi yang secara mengejutkan ditampilkan kocak.

5 thoughts on “Review: The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec

    1. bukan, ini tayang reguler di bioskop mulai minggu ini

      wah biasanya om sobekan tiket lebih update, eh penasaran tinggal dimana, soalnya film-film baru udah direview

  1. waaaah udah tayang reguler toh! buset disini aja belum nongol, jadi geregetan gue.
    sementara ini di UK, sob. tapi bentar lagi pulang kampung sih, jadi ga update lagi deh film2 bioskopnya ehehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s